Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
39. Perubahan Sikap


__ADS_3

"Your life isn't your's, If you always care what others think."


***


"Bulan madu?" Nindy memperhatikan dua buah tiket yang berada di depan matanya, lalu menatap lelaki itu yang masih mempertahankan lengannya di pinggang Nindy. "Apakah itu kejutan yang kau maksudkan?" tanyanya lagi.


Lalaki itu tersenyum menanggapi, menaikkan sebelah alisnya seraya mengangguk. "Heem, aku sempat melupakannya tadi. Jadi aku mengambilnya dulu di mobil."


"Kau menyiapkannya untukku?" Netranya berbinar, menatap penuh harap kepada Yang Pou Han.


"Anggap saja begitu."


"Jadi, bukan kau yang menyiapkan kejutan itu?" Nindy menghela napas lesu. "Emm, aku tahu kau tidak mungkin melakukannya."


"Baguslah jika kau mengerti. Aku tidak mungkin menyiapkan semuanya sendiri. Untuk apa aku menggaji mahal seorang asisten, jika semuanya harus aku yang mengurus."


Nindy mengangguk, raut mukanya terlihat kecewa, tetapi dia sendiri tidak tahu mengapa merasa kecewa dengan perkataan lelaki itu. Hingga dia sedikit mendorong dada lelaki itu yang terasa mengimpitnya agar memberi jarak terhadapnya. "Yang, bisakah kau melepaskanku? Aku ... sedang ingin sendiri," pinta Nindy kemudian.


Bukannya melepaskan Nindy, lelaki itu malah memeluk tubuh Nindy dengan erat, menyingkirkan tangan Nindy yang menahan dadanya, agar tubuh perempuan itu menabrak dada bidangnya. "Aku tidak mau. Mengapa harus dilepaskan, jika memelukmu membuatku tenang."


Lengan kekar itu semakin mengeratkan pelukan. Nindy merasakan tubuhnya telah menyatu dengan tubuh lelaki itu kendati mereka masih berpenghalang pakaian masing-masing. Terdengar bisikan lembut di telinga Nindy, dan itu berhasil membuatnya merinding. "Apakah kau tidak merasa di luar sangat dingin?"


"Heem, iya, aku merasakannya." Nindy menjawab.


"Tubuhku terasa panas. Aku ingin membagi panas tubuhku kepadamu." Dan di saat yang bersamaan, ketika bisikan itu telah selesai diucapkan, Nindy merasakan tubuhnya melayang dengan tangan lelaki itu mengangkat tubuh kurusnya. Dia terkesiap dengan mata mendelik ke arah Yang Pou Han, tetapi lelaki itu tak peduli, hanya senyum licik dan nakal yang membingkai bibirnya.


"Bukankah aku bilang akan bekerja keras untuk membuatmu hamil? Aku akan memulai dari sekarang."

__ADS_1


Nindy menunduk, menyembunyikan senyum di bibir dengan menenggelamkan wajahnya di dada lelaki itu. Kedua lengannya melingkar di leher sang suami, sebagai pertahanannya agar tidak sampai terjatuh.


Dengan menahan berat tubuh Nindy di lengannya, lelaki itu melangkah perlahan, menuruni satu per satu anak tangga, membawa tubuh mungil itu masuk ke dalam kamarnya.


"Tubuhmu ternyata berat juga, ya?"


"Turunkan aku! Jika kau tak sanggup." Lelaki itu selalu bisa membuatnya senang bercampur kesal secara bersamaan.


"Hei, apakah kau sedang meremehkan suamimu ini? Baiklah, kupastikan kau tidak bisa tidur nyenyak malam ini."


"A-pa?"


Suara mereka menghilang, seiring pintu kamar yang ditutup. Samar-samar terdengar suara cekikikan dari dalam, entah apa yang dilakukan sepasang suami istri itu. Yang jelas, suasana hati keduanya sedang dalam kondisi bahagia.


(Rencana mau mengintip, tapi sudahlah. Author takut bintitan ☺)


***


Emelie duduk termenung di pinggiran taman rumahnya, menyapukan pandangan di dedaunan rimbun yang mengarah ke perkebunan. Hidungnya mengendus aroma sejuk suasana perkebunan lalu tersenyum kemudian. Sudah lama sekali dia tidak tersenyum tulus sejak kematian kedua orang tuanya, hingga ia berlari dari kehidupan nyata, menghilang dalam pelarian. Banyak hal yang telah ia alami, membuat Emelie kebingungan mencari tujuan hidup, menikmati hidup, juga mensyukuri hidup.


Perempuan itu mengenakan celana pendek dengan kaos oblong yang nampak kebesaran di tubuhnya. Rambut panjangnya dikuncir dengan beberapa anak rambut yang dibiarkan menjuntai di sisi kanan dan kiri pelipis. Tanpa riasan sama sekali yang terbubuh di wajahnya, membuat Emelie terlihat lebih muda dan segar.


"Bagaimana kabarmu?"


Yang Pou Han yang baru datang untuk melihat kondisi Emelie, menghampiri perempuan itu untuk sekadar menyapa. Dia duduk sedikit menjauh, memberi jarak di antara mereka dengan meletakkan dua cangkir teh yang masih berasap di atasnya.


Emelie menoleh ke samping. Dia tersenyum kemudian. "Kau datang sendiri? Di mana istrimu?"

__ADS_1


"Aku hanya sebentar, karena kebetulan melewati jalan ini, sekaligus melihat kondisimu. Sepertinya kau sudah mengalami banyak kemajuan."


Dia mengangguk, menatap area perkebunan yang berjarak beberapa ratus meter dari tempatnya duduk. Terdengar helaan napas dari bibirnya, lalu berubah menjadi senyuman hangat. "Begitulah, aku merasa lebih baik. Terima kasih kau masih peduli denganku."


Dia menoleh lagi, mengamati lelaki itu yang kini sedang menyesap teh hangat itu dengan sesekali meniup kepulan asap yang terlihat menggulung di udara. "Apakah kau bahagia dengan pernikahanmu? Aku lihat dia gadis yang baik."


Yang menipiskan bibir, tatapannya penuh kebahagiaan ketika Emelie menanyakan tentang Nindy. Gadis aneh yang membuatnya tertarik, antara gemas juga kesal, dia tak bisa menjauh dari perempuan itu. "Aku bahagia. Bagaimana kau tahu, bukankah kau belum pernah berbicara dengannya?"


"Kau salah. Kami pernah berbincang sebentar. Aku lihat dia sangat mencintaimu. Bagaimana denganmu? Apakah kau telah jatuh cinta kepadanya?"


Yang Pou Han melempar senyum lagi. Dia sendiri tidak mengerti dengan perasaannya, tetapi yang jelas dia tidak ingin kehilangan perempuan itu, apa pun perasaan yang ada di hatinya. "Aku akan mencintainya. Aku senang ketika bersamanya, tidak ada alasan bagiku untuk tidak mencintainya."


"Denganku, apakah cintamu kepadaku telah hilang?" Emelie menunduk, menyembunyikan wajah sedihnya dari lelaki itu. "Maaf, hanya saja ... aku sedang merindukan kebersamaan kita. Lupakan apa yang baru saja aku katakan!"


Perkataan itu terdengar menggantung, penuh kepedihan serta keputusasaan. Yang melihat perempuan itu telah berubah. Emelie yang dulu ia kenal, jarang sekali mau mengatakan kata 'maaf'. Oh, bukan jarang, tetapi sepertinya tidak pernah dan tidak mau. Namun, lihatlah sekarang! Sudah berapa kali Emelie mengucapkan kata itu dengan satu hal yang remeh, yang sebenranya tidak membutuhkan kata maaf itu.


"Kau banyak berubah, Emelie. Aku menyukainya. Kau pasti akan segera menemukan kebahagiaanmu sendiri."


Dia meneteskan air mata, mendengar ucapan tersirat dari bibir lelaki itu. Tiada harapan lagi baginya untuk mencari celah. Apakah kisahnya telah berakhir? Apakah dia masih boleh berjuang untuk itu? Bukankah kenangan mereka terlalu berharga jika harus berakhir dengan seperti ini?


Dia mengusap air mata itu dengan buku jari telunjuk yang di tekuk. "Begitukah?" Dia tersenyum getir, merasa terlambat menyadari semua. Namun, apakah memang tiada harapan baginya untuk bersama?


"Aku mengenalmu sejak kecil. Kau sebenarnya gadis yang baik dan cerdas. Karena itu aku begitu memujamu, sampai semuanya telah berubah. Dan aku yakin, kau akan menemukan laki-laki yang akan membahagiakanmu suatu saat nanti." Lelaki itu berdiri kemudian, "Aku mungkin tidak akan berkunjung selama dua pekan mendatang. Aku dan Nindy akan berangkat berbulan madu. Mungkin kehadiran anak di antara kami akan menumbuhkan rasa cinta itu, sehingga aku tidak akan menundanya." Dia menoleh ke arah Emelie yang masih menundukkan wajahnya "Tersenyumlah, Emelie. Kau terlihat cantik jika tersenyum," ucapnya seraya pergi meninggalkan Emelie seorang diri.


Perempuan itu menoleh, menatap punggung Yang Pou Han yang 'makin lama, semakin menjauh. Mengusap bekas air mata itu dengan ibu jari, Emelie tersenyum kemudian. "Aku akan mencari kebahagiaanku, Yang. Dan itu dengan caraku sendiri."


》Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2