
Gemeresik dedaunan dari pohon angsana terdengar merdu di kala angin kencang mengembuskannya. Sinar jingga keemasan sang surya, menerobos di sela dedaunan yang rimbun itu menerpa wajah seseorang yang sedang berteduh di bawahnya.
Dia bersandar di bawah pohon itu, menatap anak-anak yang sedang berlari-larian ke sana kemari seolah tiada beban kehidupan yang mereka rasai.
Ya, anak-anak itu bagaikan malaikat kecil yang diturunkan ke bumi sebagai penyejuk hati. Tawa mereka yang riang, senyum yang mengembang lantaran ada hal baru yang menarik perhatian, serta perkataan polos mereka yang terdengar menggelitik di telinga membuat siapa saja yang mendengarnya akan merasakan bagaimana keseruan dunia mereka.
Di ujung sana, di taman itu, ada beberapa tempat duduk berbahan besi dengan sandaran yang agak miring ke belakang tertata berjajar dengan jarak sekitar dua meter. Dua sejoli yang sedang menduduki salah satu kursi tersebut, nampak bercengkrama sembari sesekali melempar tawa dan tersenyum penuh cinta.
Sementara seorang perempuan yang kini masih setia menyandarkan punggungnya di bawah pohon angsana, menatap pasangan itu dengan tersenyum miris. Dia ingin menenangkan diri, melupakan segala kesedihan yang akhir-akhir ini tengah menimpanya. Namun, alih-alih melupakan kesedihan, dia justru dipertontonkan adegan romantis di depannya. Sungguh hatinya tersayat seketika.
Dia memejamkan mata yang terlihat sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis. Wajah lelaki itu selalu muncul di kala matanya terkatup. Wajah menyebalkan dengan senyum khas lelaki itu terpatri di pikirannya. Dia tidak bisa melupakan lelaki itu dengan mudah.
Kenangan manis yang sempat terukir bersama lelaki itu begitu sulit untuk dilupakan. Dia ingin menyingkirkan itu semua, membuang segala kenangan yang berhubungan dengan lelaki itu dari ingatannya. Akan tetapi, dia tidak mengerti, bagaimana caranya?
Dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Rumah mungil yang sebelumnya dihuni mereka bertiga; dia, ibu dan neneknya.
Rumah itu sudah lama sekali ia tinggalkan semenjak ibunya meninggal kala itu. Dia akhirnya ditampung oleh salah satu yayasan panti asuhan yang berada di pusat kota. Ya, dia sebatang kara di sini. Tiada sanak saudara, kerabat yang bisa menjadi tempatnya bersandar. Dia seorang diri.
Sempat membangun keluarga kecil dengan orang terkasih, nyatanya hanya bertahan dua bulan saja. Dia tak mampu untuk melanjutkan kendati itu adalah impiannya sejak kecil.
Pengalaman hidup yang penuh dengan kecaman juga hinaan dari kalangan masyarakat membuat dia tak berani bermimpi untuk mendapatkan lelaki yang mau menerima asal-usulnya. Namun, kehadiran lelaki berwajah oriental itu mengubah segalanya. Dia mulai bermimpi, merajut kembali azam yang sempat terserak, menguntainya menjadi harapan baru untuk berumah tangga dengan lelaki yang dicintai.
Kenyataan bahwa lelaki yang dia cintai menginginkan wanita lain, membuatnya harus merelakan semuanya kembali. Ya, dia sudah merelakan semuanya. Karena pada dasarnya dia tidak memiliki apa-apa, dan mungkin akan selamanya begitu.
Dia mempercepat langkah, ketika bulir air mata kembali luruh membasahi pipi. Mengapa patah hati begitu menyakitkan?
Sampai ketika dia melewati gang sempit menuju rumahnya, seseorang memanggil namanya dengan berteriak. "Heii! Kamu Nindy, bukan?"
Buru-buru dia menyeka air mata itu, menyembunyikan kesedihan supaya tidak ada orang yang tahu. Dia meoleh ke arah suara itu, dan mendapati ibu-ibu berbadan tambun dengan beberapa perhiasan menghiasi tangan serta leher.
__ADS_1
"Iya, Bu Lina," jawab perempuan itu yang ternyata mengenali sosok si ibu.
"Sudah lama di sini? Bukannya kamu kerja di Hongkong?"
Dia menyunggingkan senyum seraya mengangguk. "Saya sudah tidak bekerja lagi di sana, Bu."
"Ooh, begitu. Kamu tahu Dinda, 'kan? Putri sulung saya yang cantik itu, yang seumuran sama kamu?"
"Iya, apa kabar Dinda?" Dia mencoba ramah.
"Dia mau nikah bulan depan. Kamu jangan godain lakinya, ya? Secara ibu kamu dulu suka godain laki orang. Awas saja kalau kamu berani godain calon suaminya Dinda yang manager proyek bangunan itu." Wanita bernama Bu Lina itu berkata dengan sinis, menatap Nindy dengan antipati.
Dia tersenyum menanggapi. Masih saja sama sikap semua orang kepadanya. Dia bahkan tidak tahu apa kesalahannya sehingga semua orang menganggapnya seperti hama yang bisa merusak siapa saja yang dekat dengannya.
"Bu Lina tenang saja. Saya tidak mengenal calon suaminya Dinda. Semoga Dinda bahagia dengan pernikahannya."
Ibu-ibu lain tiba-tiba datang menghampiri. Sepertinya ikut meramaikan pertemuan tak disengaja antara Nindy dengan Bu Lina.
"Memang bagaimana si Dinda bisa mendapatkan pria kaya seperti itu? Bagi tahu, dong! Si Vika juga seumuran sama Dinda, tapi sampai sekarang belum juga punya pacar."
"Iya, Bu Lina. Bagi tahu rahasianya? Itu istri pertama calonnya Dinda, apa sudah diceraikan, Bu? Jangan-jangan Dinda nanti hanya kawin sirih?" Ibu-ibu lain menimpali.
Nindy hanya menggelengkan kepala mendengar obrolan ibu-ibu yang tak punya pekerjaan di sekitaran rumahnya. Dia memilih mundur secara diam-diam tanpa diketahui ibu-ibu itu yang sedang asik mengobrol.
Ya, seperti itulah kehidupannya di kampung halaman. Tiada yang menarik selain bahan gosip yang menjadikan hiburan para ibu-ibu sembari menunggu suami pulang bekerja.
Nindy masuk ke dalam rumah tua itu. Dia menutup pintunya segera dan tidak lupa menguncinya.
Nindy pergi ke kamarnya yang hanya berukuran dua kali dua meter saja. Sangat berbeda dengan kamar milik Yang Pou Han.
__ADS_1
Nindy berhambur, merobohkan tubuhnya dengan posisi tengkurap di atas ranjang bambu dengan dilapisi kasur busa tipis di atasnya. Dia membenamkan wajahnya di atas bantal itu. Bagaimana dia melanjutkan hidupnya kali ini, dia sendiri tidak mengerti.
Dia merindukan lelaki itu. Tak bisa disangkal lagi, Nindy menginginkannya, merindukannya. Dia telah berusaha keras menyangkal, tetapi rasa itu tetap menekan lebih dalam, menusuk hingga tepat di jantungnya.
Rasa itu kian datang menyakiti hati, mendera hingga tak kuasa untuk bisa ditahannya. Air mata kembali luruh seiring dengan ingatan kisah manis yang sempat mereka lalui. Nindy mencengkram sarung bantal itu dengan kuat. Dia harus bisa merelakan, kendati hati masih menginginkan, tetapi kenyataan tidak bisa dielakkan.
Selaksa kehilafan seorang anak manusia. Ambu kerinduan terpapar nyata. Tawa itu masih terngiang, tilikan itu masih membekas, mencatuk hingga ke relung jiwa. Namun, harapan itu kian musnah, di tengah jiwa menggigil akan sebuah kerinduan.
"Yang, aku membencimu, membencimu."
***
Di dalam ruangan berbeda, yang tentunya lebih luas dan mewah, seorang laki-laki sedang membaringkan tubuh yang terasa kelelahan. Dia memandang langit-langit ruangan itu dengan perasaan bimbang. Tangannya merogoh sesuatu di saku celana. Sebuah ponsel yang sempat ditinggalkan oleh orang terkasih.
Seandainya Nindy masih memegang ponsel itu, keberadaan perempuan itu mungkin bisa dilacak. Namun, dia justru meninggalkan ponsel pemberian Yang Pou Han untuknya. Ya, perempuan itu pasti sangat kecewa dengannya, apalagi Yang Pou Han sempat membandingkan Nindy dengan Salwa. Pasti rasanya sakit sekali mengingat pertengkaran mereka waktu itu.
Andai waktu bisa diputar ulang, Yang Pou Han akan menemani Nindy pulang saat itu, daripada harus menemani Emelie lantaran hanya untuk mengikuti permainan perempuan itu. Dia terlupa jika rasa sakit yang telah ditorehkannya di hati Nindy membuat jurang pemisah yang teramat lebar untuk bisa dia arungi.
Mungkin Nindy bersungguh-sungguh ingin menghilang dari kehidupan lelaki itu. Mengembalikan semua kenangan yang telah mereka lewati berdua yang sempat terbidik ataupun terekam di dalam benda pipih yang sedang berada dalam genggaman Yang Pou Han saat ini.
Tangannya membuka di mana foto-foto itu tersimpan. Beberapa hal konyol yang terasa manis, yang sempat mereka lakukan telah dibukanya satu per satu. Senyuman indah itu sudah tak lagi bisa ia lihat. Dia merindukan senyum itu, tawa itu dan segala tingkah polos perempuan itu yang terasa menggelikan. Suaranya, sentuhannya dan ... bercinta dengannya.
Tanpa ia sadari, sebuah kecupan dia labuhkan ke layar ponsel tepat di wajah sang wanita pujaan. Kapan mereka akan dipertemukan? Dia sudah tidak sabar, ingin segera membawa perempuan itu kembali ke sisinya, ke dalam pelukannya.
Jiwa-jiwa manusia yang dilanda kesepian, mengharap akan sebuah pertemuan. Kendati hati ingin segera berjumpa, tetapi takdir telah mengambil alih masa. Hingga jiwa manusia yang sedang merindu, hanya bisa menanti sampai waktu yang telah ditentu.
"Nindy, maafkan aku."
***
__ADS_1