
Suara gelak tawa anak-anak di taman belakang kediaman Paderson cukup menarik perhatian gadis kecil berusia dua setengah tahun itu. Dia berlari keluar menyusul dua anak laki-laki yang tampak bermain kejar-kejaran. Nindy yang sedang mengawasi Anya hanya bisa menggeleng melihat tingkah aktif anak semata wayangnya.
Anya memang seorang gadis kecil, tetapi tingkahnya tak jauh beda dengan anak laki-laki seusianya. Meski sempat terjatuh karena tergelincir oleh kerikil kecil, tak membuat semangat Anya luntur. Dia terus berlari untuk bergabung dengan dua orang kakak beradik itu.
"Mereka cepat akrab, ya?" Salwa tiba-tiba datang sembari membawa dua gelas jus strawberi yang di letakkan di atas meja yang terletak di dekat taman itu.
"Iya, mereka sangat cocok." Pandangan Nindy tak beralih dari ketiga anak itu.
"Hei, kau tidak berniat menjodohkan mereka, bukan?"
Nindy tersenyum menanggapi. Jika dia boleh egois, mungkin dia akan meminta Yang Pou Han untuk merencanakan perjodohan anak mereka dengan salah satu anak Salwa, tetapi dia menyadari jika mereka berhak menentukan pasangan sendiri ketika dewasa.
"Pasti seru, ya, jika kita jadi besan?"
"Mungkin aku akan jadi mertua yang cerewet." Salwa tampak terkikik ketika mengatakannya. Kedua ibu muda itu saling bercengkrama sembari mengawasi putra-putri mereka yang tengah bermain.
Sementara itu, di dalam ruang kerja Sean Paderson. Dua orang pria dewasa sedang terlibat perbincangan serius. Tatapan mereka tertuju pada satu layar monitor yang mnampilkan sebuah dena lokasi.
"Cukup bagus. Tinggal berapa persen tahap penyelesaiannya?" Yang Pou Han berkata dengan pandangan yang tak beralih dari layar monitor itu.
"Kita bisa melihatnya besok. Sepertinya mereka mengerjakan dengan lebih cepat."
"Bagus. Aku tidak sabar menunjukkannya kepada Nindy."
Sean menaikkan sebelah alisnya, ketika mendengar perkataan Yang Pou Han. "Jadi, kalian benar-benar sudah saling mencintai?"
Wajah Yang Pou Han seketika bersemu. Dia tak dapat menyembunyikan raut bahagia itu. "Awalnya aku mengelak. Tapi ketika aku hampir kehilangannya, aku sadar. Dia sangat berarti, bahkan aku rela kehilangan semuanya demi Nindy dan Anya." Yang Pou Han terkekeh kemudian. Dia menekuk kedua tangannya dengan meletakkan kedua siku di atas meja, menjadikan kedua tangan itu sebagai tumpuan dagunya. "Aku sempat mentertawakanmu di saat melihat bagaimana bodohnya dirimu ketika bersama Salwa. Selalu di sisi Salwa dan tidak pernah melihat wanita cantik lain yang jelas-jelas menginginkanmu. Kau jadi seperti orang tua yang dikelilingi istri dan anak. Hidupmu tampak membosankan. Akan tetapi, ketika aku bertemu Nindy dan menyerah dengan segala perasaanku kepadanya. Aku rasa, aku harus mentertawakan diriku sendiri. Aku jadi sepertimu yang tidak bisa jauh dari mereka."
__ADS_1
"Jadi, kau menyesalinya?"
"Ya, aku menyesal. Aku menyesal karena terlalu lama menemukan dia. Seharusnya aku bisa menemukan Nindy jauh-jauh hari dan segera menikahinya. Mungkin memang dia ditakdirkan bertemu denganku ketika aku telah melewati segala kepahitan hidup agar aku bisa memetik pelajaran dan tidak mengulangi kesalahan yang sama." Dia menatap ke arah Sean, lalu menyunggingkan senyum. "Bukankah kau juga merasa terlambat menemukan Salwa?"
Sean hanya tertawa kecil mendengar penuturan Yang Pou Han. "Jika aku bertemu Salwa lebih awal. Aku akan menikahi gadis di bawah umur. Dia terlalu belia ketika kunikahi. Bahkan aku merasa seperti orang jahat yang sedang memperkòsa gadis kecil, tetapi aku tak menampik bahwa aku menykainya."
"Oh, kau benar-benar keterlaluan, Sean."
Kedua laki-laki itu tertawa kemudian, menyadari perbincangan konyol yang sedang mereka bahas. Persahabatan yang sempat terkikis karena kesalahpahaman, hingga sekarang berubah menjadi sahabat layaknya saudara.
... ***...
Dua mobil keluaran asal Jepang itu telah terparkir cantik tepat di depan pintu. Dua keluarga kecil itu keluar hampir bersamaan. Mereka akan pergi ke suatu tempat di mana akan menjadi kejutan Yang Pou Han untuk istri dan anaknya. Mereka segera masuk ke mobil masing-masing untuk segera pergi meninggalkan kediaman Paderson.
"Kita akan pergi ke mana?" Nindy tampak penasaran ketika mereka sudah berada di dalam kabin penumpang. Perempuan itu mengedarkan pandangannya ke luar jendela yang mana pemandangsn gedung-gedung bertingkat tampak menghiasi. Sementara Anya masih sibuk dengan boneka yang tengah digendongnya.
"Kau akan tahu nanti. Perjalanan mungkin akan lama. Beristirahatlah!"
"Begitulah. Kau akan senang melihatnya."
Hampir empat jam perjalanan mereka tempuh, hingga akhirnya Yang Pou Han beserta rombongan berhasil sampai ke tempat tujuan. Nindy dan Anya masih tertidur dalam mobil, tak menyadari jika perjalanan panjang mereka telah usai.
"Hai, sudah sampai!" Yang Pou Han menepuk-nepuk ringan pipi Nindy, membangunkan perempuan itu dari tidur lelapnya.
Kelopak mata Nindy mengerjap beberapa kali, sepertinya kesadaran belum sepenuhnya merasuk dalam dirinya. Hingga suara teriakan anak-anak dari luar terdengar sampai ke dalam mobil membuat Nindy segera mengedarkan pandangannya ke luar jendela.
Nindy seperti mengenal tempat itu. Akan tetapi semua terasa berbeda. Ada yang berubah hingga membuat Nindy kesulitan mengenalinya.
"Yang, ini? Bukankah ini ... panti asuhan tempatku dibesarkan?" Wajah Nindy takjub dengan apa yang terpampang di depan matanya. Dia tak menyangka jika Yang Pou Han mengajaknya ke tempat ini.
__ADS_1
Nindy belum pernah sekalipun datang ke panti asuhan setelah dia memutuskan untuk mencari pekerjaan di Hong Kong. Dan saat ini, Yang Pou Han justru mengajaknya ke tempat di mana dia dibesarkan.
"Ayo, turun! Biar aku yang membawa Anya."
Nindy mengangguk, menyerahkan Anya kepada Yang Pou Han. Dia menapakkan kaki ke tanah, lalu beranjak dari duduknya keluar dari mobil.
Anak-anak yang sedang berlarian terlihat menghentikan aktivitas mereka. Semua mata tertuju pada dua mobil dan penumpang yang baru saja keluar. Mereka terfokus pada seseorang yang mungkin lebih menarik perhatian.
"Hai, ada Paman Bule!"
Teriakan itu seketika membuat kelompok anak-anak berhambur menuju ke arah Sean dan Salwa. Seolah-olah kedatangan Sean Paderson bisa menjadi tontonan dan hiburan tersendiri bagi mereka.
Yang Pou Han yang melihat tingkah anak-anak itu tampak tidak menyukainya. Sean lebih menarik perhatian daripada dirinya. Sungguh menjengkelkan. "Sok ngartis!" ucapnya seraya memutar bola mata malas.
Hingga Nindy telah berdiri di samping lelaki itu, melingkarkan tangannya di pinggang Yang Pou Han. "Apakah ini kejutannya? Kau diam-diam membangun rumah masa kecilku?" ucap Nindy penuh haru.
Bangunan di depannya memang sudah berubah drastis ketika terakhir kali Nindy menginjakkan kaki di tempat itu. Sebelumnya, panti asuhan itu hanyalah bangunan tua yang kurang terawat dan tidak layak huni. Genting banyak yang bocor, tiang penyangga yang hampir roboh. Terkadang Nindy sempat khawatir jika ada angin kencang yang sedang berembus di kala musim hujan atau kemarau. Angin kencang bisa saja merobohkan hunian mereka yang merupakan satu-satunya tempat bernaung dari panas dan hujan.
Akan tetapi, melihat bangunan tua itu berubah kokoh dan sedap di pandang seperti saat ini, begitu kontras dengan bangunan sebelumnya, membuat Nindy terharu. Jika benar Yang Pou Han yang melakukan ini, dia akan sangat berterima kasih.
"Kau senang?" tanya Yang Pou Han kemudian.
"Terima kasih. Aku senang. Kau memang suami yang terbaik."
"Ya, tentu saja. Tapi aku masih kalah sama dia." Menatap kesal ke arah anak-anak yang tengah mengerubungi Sean Paderson.
Nindy terkekeh melihat kecemburuan suaminya itu. "Ayolah, Yang! Kau masih yang terbaik. Sudahlah, jangan cemberut. Mari kita masuk!" ajak Nindy kemudian yang diikuti anggukan oleh Yang Pou Han.
... ***...
__ADS_1