
"Bagaimana, Dokter?"
Yang Pou Han sudah berada di ruangan Dokter Veronica. Mukanya tampak lesu dengan gurat kesedihan tercetak jelas di wajah lelaki itu.
Setiap hari melihat Nindy menderita seperti itu, batinnya menjerit. Dia harus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Meyakini jika Nindy dalam kondisi baik-baik saja. Karena Yang Pou Han tahu, Nindy menginginkan itu semua. Merasa dikasihani justru membuat perempuan itu menjadi lemah hingga sikap pura-pura Yang Pou Han yang jarang menanyakan sakit Nindy bisa membuat perempuan itu sedikit melupakan penyakitnya.
"Dari lima orang yang bersedia mendonorkan sum-sum tulang belakangnya, hanya satu orang yang memiliki kecocokan hampir enam puluh persen." Dokter itu menghela napas berat. "Dan itu belum memenuhi kriteria disebut sebagai pendonor yang cocok," imbuhnya.
Yang Pou Han mengusap wajahnya kasar. Harapannya begitu besar atas kesembuhan Nindy. Baru saja lelaki itu merasakan kebahagiaan memiliki istri yang baik, penurut, dan setia, yang mau memberikan keturunan kepadanya. Namun, dengan cepat Tuhan merenggut kebahagiaan itu begitu saja dengan kesedihan yang mendalam.
Bagaimana nasib anaknya nanti? Bagaimana hidupnya nanti? Apakah Yang Pou Han sanggup hidup tanpa Nindy? Membayangkannya saja dia tidak sanggup, apalagi harus menerima kenyataan seperti itu. Tidak, Nindy tidak boleh mati. Yang Pou Han tidak akan membiarkannya.
"Aku akan mencari orang itu. Bahkan jika harus berkeliling dunia sekalipun untuk menemukan pendonor itu, akan aku lakukan," ucap Yang Pou Han penuh tekad kendati sulit dilakukan, tetapi dia tidak boleh menyerah begitu saja.
Harapan itu masih ada. Dia akan terus berjuang semampunya. Sampai dirinya sudah tak mampu lagi melakukannya.
***
Di ruangan itu, pendaran lampu yang temaram menerangi sesosok tubuh yang sedang berbaring di ranjang. Yang Pou Han mengetuk pintu itu ringan, memberi kode bahwa dirinya telah datang.
Seketika wajah sendu itu menoleh ke arah Yang Pou Han, tersenyum sekilas yang dibalas dengan senyuman yang sama oleh lelaki itu. Yang Pou Han sudah mengenakan jubah tidurnya. Dia melangkah mendekat, tatapannya tak beralih dari wajah itu, Nindy.
Dia menghentikan langkah, ketika lututnya menyentuh sisi pinggiran ranjang. Dia duduk di sana, tepat di sisi Nindy.
"Bagaimana kabarmu hari ini?" Pertanyaan sama yang selalu ditanyakan kepada Nindy, ketika mereka bertemu setelah seharian berpisah.
"Baik, aku sangat baik." Senyum tulus ditunjukkan Nindy kepada Yang Pou Han, tetapi justru terasa mengiris hati lelaki itu.
Yang Pou Han meraih tangan Nindy, diusapnya perlahan. "Aku merindukanmu. Apakah aku boleh tidur di sini?"
__ADS_1
Ya, semenjak penyakit Nindy memburuk, pasca persalinan, mereka tidur terpisah. Nindy yang memintanya, karena dia tidak ingin Yang Pou Han melihat jika dia sering mengerang kesakitan ketika tengah malam. Akan tetapi, malam ini lelaki itu meminta untuk tidur bersamanya? Apa yang harus Nindy lakukan?
Kenyataan jika Nindy juga merindukan lelaki itu tidak bisa dipungkiri. Nindy sangat merindukannya, tetapi dia selalu menahan rasa itu lantaran kondisi yang tidak memungkinkan.
Nindy terkadang merasa rendah diri dengan kondisinya yang menyedihkan seperti saat ini. Dia takut jika Yang Pou Han jijik kepadanya, apalagi Nindy tahu sebelumnya Yang Pou Han selalu dikelilingi wanita-wanita cantik dan memesona. Sangat jauh berbeda dengan kondisinya saat ini; lemah, jelek, tak terurus. Namun, sepertinya lelaki itu tak pernah mempermasalahkan penampilan Nindy. Dia masih menatap Nindy dengan sama seperti sebelumnya; penuh cinta dan sayang.
"Apakah kau tidak keberatan, jika aku tidur di sini malam ini?" tanya Yang Pou Han lagi karena belum juga mendapatkan jawaban dari Nindy.
Senyum Nindy mengembang, dia mengangguk dengan menitikkan air mata. Merasa masih diinginkan membuat hatinya menghangat. Dia mengira Yang Pou Han hanya kasihan dengannya. Lelaki itu tidak menginginkannya lagi lantaran kondisi dan penampilannya yang menyedihkan.
"Aku bisa berbagi tempat denganmu. Jika kau mau." Nindy berkata dengan lirih.
Yang Pou Han beranjak dari duduknya, mengitari ranjang Nindy, lalu menaiki sisi ranjang yang kosong. Dia berbaring di samping Nindy, tubuhnya diiringkan dengan tangan ditekuk menyangga kepala.
Pandangan mereka saling bertemu, lalu melempar senyum. Yang Pou Han mengecup kening Nindy lalu mengusap rambut Nindy perlahan, sangat perlahan agar tidak merusak rambut rapuh itu.
Nindy menatap netra sipit itu dengan sendu. Air matanya menitik, mengalir melalui sudut matanya. "Kau tidak jijik denganku?" tanya Nindy penuh haru.
"Hei, mengapa aku harus jijik? Kita suami istri, bukan? Aku tahu semua hal tentangmu. Kau pun sama, tahu segalanya tentangku. Kita adalah dua tubuh yang berbeda, tetapi telah dipersatukan oleh Tuhan. Apa yang kau rasakan, aku juga merasakannya. Jadi, tidak ada hal yang perlu disembunyikan lagi."
"Maafkan aku, Yang." Suara Nindy terdengar serak dan bergetar. Lelaki itu segera merangkup tubuh Nindy dalam pelukannya. Yang Pou Han merasakannya, merasakan tubuh Nindy begitu kurus, jauh berbeda dengan pertama kali mereka menikah. Padahal sebelumnya, Nindy bukanlah wanita yang gemuk. Tubuhnya langsing, tetapi berisi di bagian-bagian tertentu. Namun, saat ini tubuh langsing itu berubah menjadi tubuh yang kurus, bahkan sangat kurus.
Nindy mengusap wajahnya kasar, menghapus air mata yang telah lolos membasahi pipi. Tanpa dia sadari, tangannya sedikit menarik rambutnya perlahan. Namun, sesuatu yang selama ini dia sembunyikan akhirnya terbongkar dengan sendirinya. Rambut itu rontok secara bergerombol di depan Yang Pou Han. Nindy tertegun, bingung harus melakukan apa. Tatapan nya bersirobok dengan netra sipit yang sedang mengawasinya. Dia meneguk ludah, takut. Apakah Yang Pou Han akan menjauhinya? Sepertinya penyakitnya semakin parah dan Nindy hampir menangis berada di situasi itu.
"Yang ...."
"Tidak! Jangan disembunyikan lagi. Jangan menutup-nutupinya dariku. Berbagilah bebanmu kepadaku. Jangan berusaha menyembunyikannya dariku."
Nindy mengulum bibirnya. Bola matanya sudah berkaca-kaca, hampir meloloskan cairan bening itu lagi. "Yang, aku ...." Nindy tak mampu melanjutkan kalimatnya. Rasanya begitu sesak. Seketika benteng pertahanannya rapuh. Dia tak bisa menyembunyikan kesedihannya di depan lelaki itu.
__ADS_1
Yang Pou Han memeluk Nindy erat, membawa tubuh kurus itu mendekat dalam dekapannya. Dia meletakkan dagunya di atas pucuk kepala Nindy. "Maafkan aku. Jangan berpura-pura tegar di hadapanku. Kau bisa melampiaskan semuanya semaumu. Aku akan di sini, mendampingimu, tidak akan pernah meninggalkanmu dan membuatmu merasa sendiri."
Perkataan Yang Pou Han membuat tangis Nindy pecah. Dia sudah menahan ini sejak lama. Berusaha tegar dan menahan rasa sakit itu, sendiri. Dia takut, jika Yang Pou Han risih, lalu menjauhinya. Dia takut, jika cinta lelaki itu menghilang seiring penyakitnya yang semakin memburuk.
"Aku mencintaimu. Selamanya akan begitu. Apa pun akan aku lakukan demi kesembuhanmu." Kecupan hangat itu sekali lagi dilabuhkan di kening Nindy.
"Yang, jika aku botak, apakah kau masih mencintaiku?"
Perkataan Nindy sukses mengiris hati Yang Pou Han, tetapi dia segera menepis rasa itu. "Jika kau botak, aku juga akan mencukur rambutku. Kita akan sama."
"Yang, kau tidak perlu melakukan itu."
"Aku ingin melakukannya. Aku ingin sama denganmu. Jika rambutmu mulai tumbuh, rambutku juga akan tumbuh. Kita berdua akan saling menerka, rambut yang bagaimana yang akan tumbuh di kepala kita nanti. Bukankah nanti akan seru?"
"Yang, ...?"
Lelaki itu tersenyum, mengusap lembut pipi Nindy yang sedang menengadah melihatnya.
"Tidurlah, mimpi indah. Karena besok masih ada hari baru yang indah menantimu, hemm."
Nindy mengangguk, menuruti perkataan Yang Pou Han dengan memejamkan matanya. Nindy berharap kebersamaan seperti ini tidak berakhir dengan cepat. Dia ingin hidup lebih panjang lagi. Menua bersama Yang Pou Han, membesarkan baby Anya, mencurahkan kasih sayangnya sebagai ibu dengan sepenuh hati.
Harapannya kian tumbuh. Rasa cinta serta dukungan orang terkasih membuat hati Nindy menguat. Dia tidak sendiri, karena ada suami yang selalu mendukungnya dan Tuhan yang pemurah, yang selalu memberikan pertolongan kepada hamba-hambaNya.
》Next ...
Maaf, kemarin tidak sempat Up, karena ada acara di rumah Othor ☺. Maaf jika ada yang menunggu.
Sebagai gantinya, nanti sore up lagi.
__ADS_1