Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
55. Janji Setia Selamanya


__ADS_3

"Apa yang kau masak?" Tangan itu memeluk perut Nindy yang sedang berkutat dengan pisau dan peralatan dapur lainnya. Kepalanya diletakkan di bahu Nindy dengan sesekali mengecup leher perempuan itu, menciptakan gelenyar aneh, geli bercampur risi.


"Duduklah di sana! Jangan menggangguku! Makananya tidak akan selesai jika kau terus saja mengganggu."


"Heem, tidak mau. Aku sudah lama ingin melakukan ini saat kau memasak." Tangan nakal itu menelusup di balik pakaian Nindy, mengusap perut perempuan itu dengan lembut. Geli, sungguh Yang Pou Han benar-benar keterlaluan, membuat Nindy tidak konsentrasi memasukkan bumbu ke dalam masakannya.


"Yang, hentikan! Aku tidak bisa melanjutkan masaknya jika kau begini terus. Kita nanti makan apa?"


"Makan kamu."


"Iiihh, sudah duduk sana. Jangan nakal!" Nindy berbalik, melingkarkan tangan di leher lelaki itu, menghadiahi kecupan hangat di pipi. "Biarkan aku masak. Pasti kau sudah lapar, 'kan?" imbuhnya kemudian.


"Emmm, ciun dulu."


"Yang!" Nindy melotot, tetapi tak urungnya ciuman itu pun terjadi juga.


Seperti yang terjadi sebelum-sebelumnya, Yang Pou Han tidak akan melepaskan ciumannya kepada Nindy sebelum lelaki itu puas melakukannya. Nindy bahkan tak berdaya dan melupakan masakannya.


Lelaki itu terus saja memperdalam ciumannya di bibir itu, tak peduli di mana mereka sedang berada. Tangannya menahan kepala Nindy, dengan tangan yang lain melingkar di pinggang perempuan itu. Sementara bibirnya tak kuasa menahan untuk tidak menikmati bibir perempuan itu dengan rakusnya. Hingga samar-samar hidungnya mengendus bau menyengat dari suatu tempat. Dia melepaskan pagutan bibirnya kemudian, mengusap bibir lembab dan lembut perempuan itu untuk menghapus air liur yang telah bercampur di permukaannya.


"Bau apa ini?" tanyanya kemudian kepada Nindy.


Seketika perempuan itu mendelik, teringat ikan yang telah masuk ke penggorengan.


Dan seperti yang dia duga. Ikan itu gosong karena terlalu lama masuk ke dalam minyak goreng panas dan tidak segera diangkat.


"Tuh, 'kan, gosong!" Nindy menatap kecewa dengan lauk satu-satunya telah menghitam dengan asap mengepul di atasnya.


"Kau benar-benar keterlaluan, Yang!" ucapnya dengan memukul dada lelaki itu.


Nindy segera mematikan kompor, mengangkat ikan nila gosong itu dengan spatula. Netranya melirik kesal ke arah Yang Pou Han.


Lelaki itu hanya terkekeh melihat wajah Nindy yang kesal kepadanya. "Baiklah, aku tidak mengganggumu lagi."


***


Semua yang telah dimasak terhidang di atas meja makan dengan Yang Pou Han sudah duduk di salah satu kursi yang mengitari meja makan kecil itu.


"Apa ini?" Yang Pou Han mengangkat ikan itu dengan ujung jari telunjuk dan ibu jari ke atas, menatap aneh sekaligus jijik terhadap ikan itu.


Nindy terkekeh melihatnya. Ikan nila sudah tiada, hanya ada ikan asin yang bisa dimasaknya bersamaan urap-urap daun singkong yang dia dapat dari pekarangan belakang rumah yang tumbuh liar.

__ADS_1


"Makan saja. Hanya ada itu. Rasanya tidak seburuk rupanya."


Yang Pou Han nampak menatap ngeri ikan yang ada di piringnya, lalu berganti menatap ke arah Nindy yang sedang melahap ikan itu beserta nasi dan sayurnya sekali.


"Pantas saja kalian tidak bergizi. Kalian memakan ikan yang sudah mengering dan berketombe seperti itu? Aku tidak mau memakannya. Lambungku bisa rusak karenanya."


"Hei, mana ada ketombe?" Nindy menggelengkan kepala, tertawa ringan di sela makannya.


"Sini, aku suapin!"


Sejenak Yang Pou Han terdiam, bergeming melihat tangan Nindy yang berisi makanan sudah berada di depan mulutnya. Dia meneguk ludah, antara menerima makanan itu atau tidak, tetapi melihat bagaimana kerepotan Nindy yang menyempatkan diri untuk memasakkan makanan untuknya, membuat Yang Pou Han tidak enak sendiri. Dibukalah mulutnya sedikit lebar dengan menutup mata. Takut dengan apa yang akan masuk ke dalam mulutnya itu.


Satu suapan berhasil masuk ke dalam mulut Yang Pou Han. Dia sedikit mengernyit, tetapi tak urung juga dia memaksakan diri untuk mengunyah makanan itu meski terpaksa.


Dengan susah payah makanan itu akhirnya tertelan juga, masuk ke dalam tenggorokan meluncur dengan perlahan menuju lambung.


"Bagaimana? Enak?"


Dia menyipitkan mata yang sudah sipit itu. Tersenyum seraya mengangguk, terpaksa. "Enak," ucapnya kemudian.


"Bagus! Kalau begitu, aku akan sering memasakkan ini untukmu."


"A-pa?"


***


Rumah Nindy tidak jauh dari pantai. Mereka menaiki sepeda dengan berboncengan untuk menuju pantai terdekat. Bukan kawasan wisata, tetapi lebih diperuntukkan untuk kawasan bekerja nelayan mencari ikan. Istri-istri nelayan terlihat sedang sibuk menjemur ikan untuk diawetkan. Pemandangan yang sehari-hari dilihat Nindy ketika di kampung halamannya, sekarang terasa lebih indah karena ditemani oleh seseorang yang dicinta.


Nindy nampak tersenyum sambil mengangguk, ketika berpapasan pandang dengan ibu-ibu nelayan itu. Wajahnya bersemu merah, karena baru kali ini ia berboncengan sepeda dengan seorang laki-laki, yang tidak lain adalah suaminya sendiri. Emm, romantis? Ya, seromantis perasaannya saat ini.


"Pagang yang kuat! Aku akan ngebut."


Nindy semakin mengeratkan pelukan, ketika lelaki itu mengayuh sepedanya dengan cepat. Guncangan dan getaran yang dirasakan ketika roda sepeda itu melewati bebatuan, justru menambah keseruan. Keduanya tertawa ketika melewati jalanan yang seperti itu.


Lelaki itu mengusap tangan yang melingkar di perutnya, memelankan laju sepedanya setelah melihat pantai telah berada di depan mata.


"Yang, apakah kau lelah?" Nindy mengangsurkan botol air mineral kepada lelaki itu.


"Terima kasih." Yang Pou Han menerimanya, lalu menenggaknya air mineral itu dengan rakus hingga tersisa sedikit.


"Aku sudah lama sekali tidak ke sini. Dulu, saat aku kecil ibu selalu mengajakku ke sini. Setiap aku menanyakan tentang ayahku, ibu selalu mengajakku melihat pantai ini."

__ADS_1


"Apa ayahmu seorang nelayan?"


Nindy menggeleng, "Entahlah, ibu tidak pernah memberi tahuku. Dia selalu menangis saat aku menanyakan soal ayah kepadanya, sehingga aku tidak berani menanyakannya lagi."


Yang menggenggam tangan Nindy, menatap ke depan di mana kapal-kapal nelayan sedang berjajar di bibir pantai.


"Aku yakin dia sudah bahagia. Dia bangga kepadamu."


"Heemm, aku ingin membanggakan ibuku. Dengan kemampuan otakku yang terbatas, aku tidak pernah mendapat ranking kelas, sehingga sampai detik ibuku meninggal, aku tidak bisa memberikan sesuatu yang bisa dibanggakan oleh ibuku. Aku ... bukan anak yang baik."


"Kau tidak perlu memikirkan itu. Karena ibumu pasti sangat bangga kepadamu."


Nindy menoleh, menatap Yang Pou Han yang kini juga sedang menatapnya. "Benarkah?"


Lelaki itu mengangguk meyakinkan, bahwa apa yang dia katakan benar adanya. "Tentu saja. Dia bangga, karena putri kecilnya telah menikah dengan laki-laki tampan dan juga kaya raya sepertiku," ucapnya dengan mengedipkan sebelah mata.


Nindy terkekeh, menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Emm, aku mencintaimu, Yang. Terima kasih mau mencariku sampai ke sini. Padahal aku sudah memikirkan akan hidup sendirian hingga di ujung usiaku."


Yang Pou Han mengangguk, meraih kedua tangan Nindy untuk digenggamnya, posisi mereka saling berhadapan. Netranya menatap lekat manik berkilauan milik Nindy yang terpapar sinar matahari. "Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu. Maafkan atas sikapku sebelumnya. Ternyata aku tidak bisa mempertahankan hatiku untuk tidak tertarik kepada seorang gadis yang memiliki ribuan pesona."


Nindy kembali terkekeh. Yang Pou Han masih saja mengingat perkataannya saat itu. "Aku hanya bercanda. Aku tidak memiliki pesona yang seperti itu."


"Namun, itu benar. Hingga aku tidak bisa sedikit pun berjauhan denganmu. Pesonamu begitu kuat, menarikku sampai berada di sini. Meninggalkan negaraku hanya untuk mencarimu."


Dia memukul dada lelaki itu, menyembunyikan rona malu dan bahagia di wajahnya.


"Terima kasih. Aku senang kau mencariku, tetapi bagaimana dengan Emelie? Apakah kau akan tetap menemuinya?" Nampak cemas terlihat di wajah Nindy, menunggu jawaban dari lelaki itu.


"Apakah kau mengizinkannya?" tanya Yang Pou Han kemudian.


"Tidak, aku akan cemburu. Aku wanita pencemburu. Jangan terlalu dekat dengan wanita. Aku tidak menyukainya."


Yang Pou Han tersenyum menanggapi. Dia menarik tubuh Nindy, membawanya dalam dekapan. Tangannya mengusap punggung perempuan itu sembari memberikan hadiah kecupan hangat di pucuk kepala Nindy. "Aku tidak akan menemuinya, jika kau tidak mengizinkannya. Apakah kau bisa tenang sekarang?"


"Heem, bukan hanya Emelie, tetapi juga dengan perempuan-perempuan lain. Apakah kau bisa?"


"Tentu saja. Aku tidak akam mengecewakanmu. Aku janji."


Pelukan itu semakin erat, enggan terlepas dalam waktu dekat, hingga lelaki itu menuturkan sebuah kalimat panjang tanpa sekat.


"Kau tahu, aku sejak lama memimpikan ini. Melihat temanku bahagia bersama istri dan anaknya, membuatku ingin menemukan kebahagiaanku juga. Dan ternyata, bahagia itu seperti ini rasanya. Begitu ringan dan menyenangkan. Dan semua ini, karena engkau. Terima kasih telah hadir dalam hidupku, terima kasih telah mewarnai hariku. Terima kasih kau mau kunikahi dan mencintaiku, Nindy. Terima kasih."

__ADS_1


...***...


Manusia terkadang membenci masa lalu, merasa malu dengan masa lalu. Padahal, masa lalu adalah bagian dari hidup. Seburuk apa pun masa lalu, masa depan adalah masih suci dan belum tersentuh. Ukirlah masa depan itu sebaik dan seindah mungkin, karena bukan orang lain yang bisa membuat kisah untuk masa depan kita, melainkan kita sendiri.


__ADS_2