Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
57. Lelaki Yang Tak Dikenal


__ADS_3

"Kemari, aku bantu!"


Tangan Nindy ditarik, hingga perempuan itu terjatuh ke pangkuan Yang Pou Han. Sisir di tangan Nindy sudah beralih ke tangan lelaki itu.


Gerakannya perlahan, mengurai rambut yang sedikit kusut untuk dirapikan kembali. Menyisir dengan hati-hati, agar tidak membuat si pemilik rambut kesakitan.


Wajah Nindy kian merona, ketika rambutnya yang terurai sedikit disibakkan ke bahu kanan, memperlihatkan leher serta bahu kiri yang sebelumnya tertutup oleh rambut.


Yang Pou Han meletakkan dagunya di sisi kiri bahu Nindy. Sementara tangannya sudah memeluk perut perempuan itu.


"Besok kita kembali ke Hongkong. Aku sudah lama mengabaikan pekerjaanku. Asisten Lie pasti sudah kalangkabut menggantikan posisiku." Dia berbisik lembut di telinga Nindy. Sebuah permintaan sekaligus perintah.


"Heem, aku akan ikut ke mana pun kau pergi."


"Bagus. Aku tidak salah menikahimu."


Satu kecupan dia labuhkan di leher Nindy, terasa seperti sengatan yang memabukkan. "Apa kau membawa obatmu?"


"Obat?"


"Obat yang aku berikan waktu itu. Apakah kau meminumnya?"


Nindy menggeleng. Dia melupakan obat itu. Dia terlanjur sakit hati ketika kabur dari rumah Yang Pou Han, sehingga tidak memikirkan obat yang harus dikonsumsinya.


"Aku tidak membawanya. Aku ... lupa."


"Aku tahu. Karena itu aku segera mencarimu tanpa menunggu hari esok. Karena kau pasti melupakan obatmu. Sudah berapa hari kau tidak meminumnya?"


Nindy tampak menghitung-hitung, menatap ke atas langit-langit kamar, lalu menjawab pertanyaan Yang Pou Han. "Sekitar empat hari. Akan tetapi, aku tidak merasakan sakit seperti dulu. Mungkin aku tidak memerlukannya lagi. Aku benar-benar sudah sembuh."


"Kau harus meminumnya. Kau masih dalam masa perawatan. Seharusnya tidak boleh terlambat mengonsumsinya." Yang Pou Han terlihat menyesalinya, karena dia Nindy tidak meminum obat sesuai anjuran.


"Ayolah, Yang! Itu semua salahku, kau jangan merasa bersalah karenanya. Aku akan meminumnya," ucap Nindy dengan mengusap pipi lelaki itu yang sedang meletakkan dagu di bahu Nindy.


"Jangan terlambat meminumnya lagi. Aku tidak ingin kau sakit seperti dulu."

__ADS_1


"Emm, kau manis sekali." Hati Nindy terasa dipenuhi bunga-bunga, begitu indah dan manis.


Yang Pou Han melepaskan pelukan dari tubuh Nindy, merogoh saku celananya, mengambil tablet yang sudah disiapkan sebelumnya.


"Ini, minumlah! Jangan pernah melewatkannya meski sekali."


Nindy mengangguk, lalu segera bangkit, mengambil air di gelas untuk meminum tablet pemberian Yang Pou Han.


"Sudah," ucap Nindy setelah butiran tablet itu berhasil dia telan.


Lelaki itu nampak menepuk-nepuk sisi ranjangyang kosong, mengisyaratkan agar Nindy segera mengambil duduk di sampingnya. Perempuan itu pun menurut, melangkah mendekat, lalu mendaratkan bokongnya di sisi ranjang tidur yang ditepuk Yang Pou Han.


Yang Pou Han mencondongkan tubuhnya ke arah Nindy, semakin mendekat, hingga embusan napas lelaki itu menguarkan hawa panas menerpa telinga Nindy. Dia berbisik kemudian, menciptakan sensai geli di telinga perempuan itu.


“Bukannya kau ingin menunjukkan cintamu kepadaku.”


Mata Nindy membulat setelah mendengar perkataan itu,


“Jadi, ini adalah waktu yang tepat untuk membuktikannya."


"Aku harus apa? Aku tidak mengerti, Yang." Nindy terlihat bingung akan apa yang harus dia lakukan, tetapi perkataan Yang Pou Han selanjutnya membuat Nindy harus mau menuruti perkataan lelaki itu.


Nindy mengangguk. Tanpa merasa curiga, perempuan itu segera mematikan lampunya. Dan sedetik setelah lampu padam, lengan Nindy segera ditarik oleh Yang Pou Han, tubuhnya menabrak dada bidang lelaki itu. Dia memekik sesaat lantaran terkejut dengan pergerakan yang tiba-tiba itu, sebelum pada akhirnya bibirnya dibungkam dengan cara yang memabukkan oleh lelaki itu.


Netra itu membulat, ketika tangan lelaki itu mulai membuka satu persatu kancing bajunya. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, pergeeakannya tertahan oleh ciman yang semakin diperdalam itu.


"Yang, kau bilang ingin mengajariku," ucap Nindy di sela-sela ciuman yang masih berlanjut.


"Emm, perhatikan saja caranya. Mungkin kau akan mahir setelah ini," bisik Yang Pou Han sembari menggerakkan tangan semaunya di tubuh perempuan itu.


Di keheningan malam, diterangi cahaya rembulan yang masuk di sela-sela tirai kamar yang gulita itu. Dua insan manusia sedang saling mencurahkan kasih sayang, menunjukkan seberapa besar cinta yang mereka rasakan, memberikan jamahan istimewa karena telah memegangi izin dalam melakukannya.


Sayup-sayup terdengar suara-suara asing yang membelenggu, memenuhi ruangan sempit itu. Suara asing yang membuat orang merinding karenanya, tetapi terdengar sensual bagi keduanya yang kini sedang larut dalam dunianya.


***

__ADS_1


Wajah itu tampak kemerahan, senyum sejak pagi bertengger di bibirnya. Dia menggeleng kemudian, menghalau pikiran yang sedari tadi menjejal di kepalanya.


Pengalaman semalam membuat Nindy tak bisa melupakannya. Ya, dia terlalu malu hanya untuk membayangkannya.


Koper sudah ditarik di tangan kirinya, sementara tangan kanan telah digandeng oleh lelaki itu - Yang Pou Han. Hari ini adalah jadwal mereka untuk kembali ke negara asalnya. Tidak ada waktu untuk berlama-lama di negara sang istri, sehingga membuat Yang Pou Han harus mengajak Nindy kembali hari itu juga.


"Biar aku yang membawanya." Koper itu sudah beralih ke tangan Yang Pou Han, tidak membiarkan Nindy membawa yang berat-berat.


Nindy hanya mengangguk menanggapi, dia mendadak menjadi wanita penurut. Tangannya memeluk lengan Yang Pou Han, tidak ingin berjauhan dengan lelaki itu.


Sampai ketika tangan Yang Pou Han membuka kenop pintu dan memutarnya hingga pintu itu terbuka, mereka dikejutkan dengan seorang lelaki paruh baya berdiri di depan pintu rumah Nindy.


Seorang pria asing yang sama sekali tidak Nindy kenal, saat ini menatap dirinya dengan tatapan aneh yang sulit diartikan.


"Nindy!" panggil lelaki paruh baya itu kepada Nindy. Nindy hanya mengangguk saja tanpa berani menjawab. Pelukan di lengan Yang Pou Han semakin dia eratkan, mencari perlindungan di balik tubuh suami. Lelaki paruh baya itu terus menatap ke arah Nindy, enggan berkedip, seraya melanjutkan kalimatnya, "anakku."


Seketika mata Nindy membulat, terkejut dengan apa yang baru terucap dari bibir lelaki asing itu. Yang Pou Han segera mengambil alih, tidak membiarkan Nindy bersikap emosional dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Siapa kau?" tanya Yang Pou Han, mematri wajah lelaki asing itu.


"Aku Akmal, ayah kandung Nindy."


Nindy beringsut, menyembunyikan tubuhnya di belakang tubuh Yang Pou Han. Batinnya tidak menerima sosok di depannya yang mengaku sebagai ayahnya. Dia memang sempat penasaran siapa ayah kandungnya, tetapi melihat bagaimana penderitaan sang ibu ketika membesarkannya tanpa ayah, bagaimana caci maki yang sejak dulu diterimanya membuat Nindy enggan untuk bertemu sosok ayah.


"Jangan berbuat ulah di sini. Nindy tidak memiliki ayah. Kau mengerti?"


Lelaki itu maju, ingin meraih tangan Nindy, tetapi Yang Pou Han segera menepisnya. "Jangan mencoba menyentuhkan tangan kotormu kepada istriku!"


"Aku ayahnya. Nindy, ini Ayah, Nak! Percayalah! Ini Ayah."


"Tidak! Aku tidak memiliki Ayah. Aku tidak mengenalmu, Tuan. Pergilah! Jangan mengganggu kehidupanku!" Nindy histeris ketika tangan lelaki itu hampir menyentuhnya kembali. Dan saat itu Yang Pou Han segera mendorong lelaki itu agar menjauh.


"Jangan mengganggu istriku, jika kau masih menginginkan nyawamu masih bersarang dalam tubuhmu!"


Bukannya takut, lelaki tua itu justru mengatakan hal yang di luar dugaan. "Bunuh saja aku. Aku tidak peduli. Aku hanya ingin bertemu anakku."

__ADS_1


"A-pa?"


***


__ADS_2