Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
58. Berita Gembira


__ADS_3

Ruangan itu terasa sunyi, menegangkan dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda dari ketiga orang itu.


Nindy duduk di samping Yang Pou Han, melingkarkan tangannya di lengan lelaki itu. Wajahnya di tekuk ke dalam, enggan menatap ke depan. Sementara Yang Pou Han tampak menatap lurus ke depan, menatap tajam lelaki yang mengaku sebagai ayah Nindy.


Dan di hadapan mereka, lelaki paruh baya itu terlihat menghela napas berat. Kemudian dia mulai bercerita.


"Namaku Akmal Arrayan. Aku mengenal Amanda - ibunya Nindy - saat masih sekolah. Aku mendekatinya ketika dia berstatus karyawan di perusahaan ayahku. Dia sangat cantik dan pendiam. Aku ingin memperistrinya. Hingga saat malam itu tiba, semuanya terjadi. Aku memaksanya untuk berhubungan badan agar orang tuaku mau menerimanya sebagai menantu. Dia menolak, tetapi aku justru ... memerkosanya."


Nindy mencengkram lengan kemeja Yang Pou Han, merasakan rasa sakit yang telah dirasakan ibunya dulu. Ibunya tidak bersalah, lelaki itu yang bersalah, tetapi semua orang menyalahkan ibunya. Sungguh tidak adil.


Tangan Nindy diusap oleh Yang Pou Han, memberikan isyarat kepada perempuan itu, bahwa semua akan baik-baik saja.


"Saat itu, dalam pikiranku, jika dia hamil anakku, maka orang tuaku pasti akan merestui hubungan kami. Mereka akan menerima Amanda, jika ada anak di antara kami. Satu kali berhubungan tidak membuahkan hasil, aku terlalu terobsesi dengannya. Aku memperkosanya sampai lima kali, hingga dua garis biru itu muncul sebulan setelah kami berhubungan terakhir." Dia berhenti sejenak, melihat ekspresi dua orang anak muda yang sedang manatapnya penuh amarah.


"Lanjutkan! Aku ingin tahu manusia apa yang telah membuat istriku menderita." Yang Pou Han menimpali ketika lelaki itu menghentikan ceritanya.


Lelaki itu -Akmal Arrayan- menatap langit-langit rumah, lalu melanjutkan ceritanya. "Aku ... ingin menunjukkan itu kepada orang tuaku. Akan tetapi, saat aku pulang ke rumah, mereka kedatangan tamu besar. Dan itu adalah hari di mana aku telah dijodohkan."


Kenyataan itu membuat Nindy menangis, tak mampu membayangkan ibunya menderita hingga seperti itu. Nindy hanya mengetahui, ibunya adalah tulang punggung keluarga, karena kakeknya sudah tiada saat ibunya masih kecil. Sementara sang nenek hanya berjualan keliling menjajakan gorengan untuk membantu meringankan beban ibunya.


"Pengecut!"


"Iya, aku tahu, bahwa aku pengecut. Aku tidak bisa menolak perjodohan itu. Itu adalah perjodohan antar perusahaan. Dan orang tuaku mengancam dengan segala cara agar aku mau menyetujui perjodohan itu."


Yang Pou Han tersenyum miring, tangannya mendekap tubuh Nindy yang sedikit bergetar karena tangisnya.


"Lantas, kau diam saja setelah apa yang telah kau perbuat kepada Amanda?" tanya Yang Pou Han dengan nada penuh penekanan, layaknya seorang aparat melakukan introgasi kepada penjahat.


"Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Ibuku mengancam bunuh diri, jika aku melanjutkan hubunganku dengan Amanda. Aku pernah menawarkan dia untuk tinggal di tempat yang nyaman, membantu biaya hidup dan persalinannya, tetapi dia menolak. Dia terlalu kecewa dengan keputusanku. Dan aku mengerti akan hal itu."


"Setelah itu kau menelantarkannya?" Yang Pou Han kembali bersuara, di tengah tangis Nindy yang semakin menjadi. Perempuan itu tak bisa menyembunyikan kesedihannya, setiap kenyataan yang terlontar dari mulut lelaki bernama Akmal Arrayan itu berhasil menyayat hatinya.

__ADS_1


"Tidak ada pilihan lain. Aku tidak bisa membujuknya." Dia menunjukkan raut wajah menyesal, lalu menatap ke arah Nindy. "Aku ingin memulainya dari awal. Aku ingin membawa Nindy pulang."


Yang Pou Han memukulkan tangannya ke atas meja itu, menciptakan bunyi keras dan menimbulkan rasa panas di telapak tangannya.


"Jangan bermimpi! Meskipun ada darahmu mengalir pada tubuhnya, aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk membawa pergi istriku. Pergi! Kau tidak perlu kembali ke sini. Karena sejak hari ini, Nindy akan bersamaku, selamanya."


Akmal segera bangkit dari duduknya. Menatap sekilas ke arah Nindy. Kendati tatapan Yang Pou Han begitu menusuk dan mengancam, tetapi dia masih ingin memandang putri cantiknya itu.


"Pergi! Aku bilang pergi dari sini!" teriaknya lagi.


Lelaki itu berlalu setelah mendengar bentakan Yang Pou Han. Keinginannya untuk bisa membawa Nindy pulang adalah mustahil. Dia sudah menyia-nyiakan Amanda, juga putrinya. Dia tidak akan pernah bisa membawa Nindy atau mendengar Nindy menyebut dirinya sebagai ayah.


"Jangan menangis. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi seseorang seperti itu."


Yang Pou Han mengeratkan pelukan, memeluk tubuh Nindy yang sedang berguncang. Tangis Nindy pecah tatkala lelaki yang mengaku sebagai ayah kandungnya itu pergi dari hadapannya.


Dia memang merindukan sosok ayah. Bagaimana impiannya sejak kecil yang penuh hinaan serta caci maki sangat membutuhkan sosok ayah yang mampu melindungi, mengayomi, serta memberikan kasih sayang untuk dia dan ibunya.


Nindy tak sanggup untuk menatap, bahkan berbicara dengan lelaki itu. Mengenang bagaimana nenderita ibu, nenek, serta dirinya dulu ketika kecil. Menerima hinaan serta cemoohan, pandangan merendahkan orang-orang yang menganggap Nindy beserta keluarganya adalah aib, sampah masyarakat yang harus disingkirkan. Dan saat ini, lelaki itu, penyebab dari segala masalah dengan entengnya meminta Nindy untuk tinggal bersamanya.


Ke mana saja dia selama ini?


Mengapa tidak muncul ketika Nindy sedang berduka kehilangan sang ibu?


Mengapa tidak muncul di saat semua teman-teman Nondy mentertawakannya karena hanya Nindy yang tidak tahu siapa ayahnya?


Mengapa tidak muncul di saat para tetangga mengolok-olok sang ibu karena hamil di luar nikah?


Ke mana dia selama ini?


Bukankah sangat egois, jika saat ini pria itu tiba-tiba datang dan mengakui bahwa Nindy adalah anaknya?

__ADS_1


Untuk apa? Menebus kesalahan? Apakah semudah itu?


Luka yang ditorehkan terlalu dalam. Luka itu cukup menyakitkan, sehingga sulit untuk dilupakan. Nindy yang terbuang, Nindy yang tak diharapkan, Nindy yang seorang anak pel@cur. Hinaan dan cacian itu masih sering terngiang, berputar di kepalanya, sampai saat ini, detik ini.


Kepala Nindy terasa berputar-putar, pusing dan gelap. Hingga kesadaran telah terenggut secara paksa, Nindy tak sadarkan diri dalam pelukan lelaki itu- Yang Pou Han.


"Nindy! Nindy!"


***


Mata itu terbuka perlahan, mengatur intensitas cahaya dari pendaran lampu ruangan itu. Napasnya mulai terasa normal kembali. Dia menatap ke depan, di mana Yang Pou Han sedang berbicara serius dengan salah seorang dokter.


Lelaki itu menoleh ke arah Nindy, ketika menyadari jika Nindy sudah tersadar dari pingsannya. Dia melempar senyum ke arah perempuan itu, menatap penuh dengan pandangan yang sulit diartikan. Dia mengakhiri percakapannya dengan dokter, lalu melangkah ke arah Nindy.


Digesernya kursi untuk diletakkan mengimpit brankar, mendudukinya tepat di sisi bahu Nindy.


Yang Pou Han menggenggam tangan Nindy, mengecupnya sekilas. Netranya tak lepas dari wajah perempuan itu. Nindy bisa melihat raut wajah sang suami yang tak biasa. Dia tergelitik untuk menanyai, apa sebenarnya yang terjadi?


"Yang?"


"Bagaimana kabarmu? Mana yang sakit?" Pertanyaan demi pertanyaan diutarakan oleh Yang Pou Han, membuat Nindy semakin bingung.


"Aku baik-baik saja. Mengapa kau secemas itu? Apa yang terjadi?"


Satu kecupan dia labuhkan ke kening Nindy, tangannya mengusap lembut pipi perempuan itu. Dia tersenyum kemudian. "Kau ... hamil. Anak kita, Sayang."


Bulir air mata itu tiba-tiba saja menerobos dari pelupuk mata Nindy. Senyum mengembang di bibirnya. Akhirnya, penantiannya tidak sia-sia. Dia ingin sekali mendapatkan anak, mengandung dan melahirkan seorang bayi mungil yang lucu dan menggemaskan. Memberikan kasih sayang yang dulu jarang bahkan tidak bisa ia dapatkan. Kasih sayang orang tua yang lengkap, dia dan Yang Pou Han.


"Aku mencintaimu. Terima kasih." Yang Pou Han tak kuasa menahan haru. Dia memeluk Nindy dengan membungkukkan tubuhnya, memeluk erat tanpa ingin melepas.


Sejak pernikahannya yang pertama, dia menginginkan anak. Akan tetapi, Emelie tak ingin hamil terlebih dulu. Dia menunda tanpa sepengetahuan Yang Pou Han, hingga mereka berpisah tanpa seorang anak. Dan kini, dia dipertemukan dengan perempuan yang luar biasa, penurut dan penyayang, sangat berbeda dengan karakter Emelie. Dia berhasil menumbuhkan benihnya di rahim sang istri. Tentunya itu adalah kabar yang membahagiakan juga mengharukan.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang. Terima kasih," ucap Yang Pou Han berkali-kali, yang hanya bisa ditanggapi senyuman bahagia oleh Nindy.


__ADS_2