Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
29. Panggilan Yang Terabaikan


__ADS_3

Nindy mengelus perutnya yang terasa mengencang. Rasa kram perut itu begitu menyakitkan. Nindy memang sering merasakan itu, tetapi kali ini rasanya lebih menyiksa daripada yang sebelumnya. Nindy tak kuasa menahan rasa sakit itu hingga ia memutuskan untuk menghubungi Yang Pou Han.


Seharusnya sekarang lelaki itu sudah pulang, tetapi karena dia sudah meminta izin untuk pulang terlambat sehingga waktu sudah terlewat dari kepulangan biasanya, Yang Pou Han tak kunjung tiba.


Nindy men-dial nama "Si Pelit Yang Kejam" di ponselnya. Dia belum sempat mengganti nama panggilan Yang Pou Han, sehingga nama itu yang sekarang tertera di benda pipih miliknya dalam posisi 'memanggil'.


Tiga kali Nindy melakukan panggilan, tetapi ponsel Yang masih dalam kondisi sibuk. Sampai dia memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada suaminya itu.


[Aku butuh bantuanmu. Pulanglah!] -- Send


Nindy masih menunggu, tetapi tidak ada balasan. Dia masih bersabar, berharap Yang Pou Han membaca pesan itu dan membalasnya. Hampir dua puluh menit pesan itu terkirim, tetapi tidak ada tanda-tanda balasan atau panggilan balik dari Yang Pou Han.


Nindy meringis, merasakan sakit di ulu hatinya. Dia mencengkram sprei ranjang yang kini sebagai tempatnya berbaring. Rasa sakit itu begitu menyiksa dirinya, hingga bulir air mata mengalir membasahi pipi. Namun, ada hal yang membuat rasa sakit itu semakin menyedihkan. Dia tertawa bodoh, mentertawakan dirinya sendiri sembari menahan rasa sakit itu. Bukankah Yang pulang terlambat karena Emelie, tentu saja saat ini dia sedang bersama Emelie. Lantas, buat apa Nindy harus menunggunya pulang?


Kenapa sesakit ini?


Apakah dia sedang mengalami patah hati?


Tidak, dia tidak jatuh cinta. Mana mungkin mengalami patah hati tanpa perasakan apa yang dinamakan jatuh cinta. Nindy hanya merasa kecewa, mengasihani dirinya sendiri, karena di saat dia membutuhkan seseorang di sampingnya, suaminya justru lebih peduli dengan wanita lain.


Sadarlah, Nindy! Kalian tidak saling mencintai. Kalian hanya partner. Bahkan lelaki itu pernah menawarkan Nindy sebuah hubungan pertemanan dalam sebuah pernikahan.


Nindy mengusap air mata bodoh itu. Rasa sakit itu ternyata menusuk hingga ke relung hatinya. Dia tidak menyangka akan melibatkan perasaan dalam hubungan mereka. Padahal Nindy sudah menyiapkan tameng besar agar hatinya tak sampai terjatuh duluan dalam hubungan pernikahan itu, karena dia tahu jika memiliki perasaan yang tak terbalas sakit rasanya.


Namun, tameng besar yang dibangunnya ternyata tak cukup kuat untuk menghalau rasa itu. Sikap lembut dan interaksi keduanya akhir-akhir ini membuat perisai itu terkikis sedikit demi sedikit secara alami, menghilang bergantikan sekeping rasa yang mulai terangkai dengan indah di sudut hati Nindy.


Dan ketika saat ini dihadapkan dengan kenyataan bahwa Yang lebih memilih wanita itu daripada dirinya membuat dada Nindy kian sesak, bersamaan dengan rasa sakit yang mendera di bagian perutnya. Sungguh ironi, setitik rasa yang mulai tumbuh dan terangkai dalam hatinya seakan tercabut secara paksa.


Nindy menghela napas panjang, sebuah cara yang ia lakukan untuk menetralisir rasa sakit di perutnya. Dengan langkah yang sedikit gontai, dia berjalan ke arah dapur untuk meminta kepada pelayan agar dibuatkan bubur.


Sampai ketika kakinya sudah berada di anak tangga terakhir, seorang pelayan menyadari kondisi Nindy.


"Nyonya, Anda sakit? Lihatlah, wajah Anda begitu pucat."


Nindy hanya mengangguk menanggapi. "Bisakah Kakak membuatkan bubur untukku?"


"Tentu. Nyonya tunggu saja di kamar, tidak perlu turun. Panggil saja saya menggunakan interkom yang terhubung ke dapur. Anda cukup menekan angka 4, maka secara otomatis panggilan itu mengarah ke dapur."


"Terima kasih," ucap Nindy tulus seraya berbalik ingin kembali ke kamarnya. Namun, sebelum Nindy menapaki anak tangga pertama, perutnya terasa semakin sakit, matanya berkunang-kunang hingga tubuhnya luruh, terkulai lemah di lantai.

__ADS_1


"Nyonya!" samar-samar terdengar teriakan dari pelayan yang sebelumnya berbicara dengannya sampai kesadaran Nindy menghilang karena terenggut secara paksa.


*****


Bau karbol desinfektan merangsek ke indra penciuman Nindy. Gadis itu nampak mengerjapkan kelopak mata ketika kesadaran sudah mulai ia dapatkan. Ia mengernyit ketika netranya menangkap ruangan serba putih yang tak dikenal dan terlihat asing itu. Rasa pening di kepalanya menggerakkan tangan kiri Nindy untuk menyentuh kening yang terasa perih dan sakit.


Sebuah perban telah menempel di keningnya, sementara tangannya sudah terpasang jarum infus yang terhubung dengan selang transparan yang berguna untuk menyalurkan intravenous fluid dari botol sreril menuju ke pembuluh darah Nindy.


Nindy mencoba mengingat kembali apa yang terjadi padanya. Ingatannya serasa berkabut, dengan terpecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang terserak hingga membutuhkan beberapa waktu untuk merangkainya kembali. Keningnya semakin terasa sakit ketika Nindy berusaha keras menggali ingatan yang sempat terperangkap suatu yang tak kasat mata hingga bayangan dirinya roboh di bawah tangga menjawab semua pertanyaan dalam benaknya.


Ya, Nindy pingsan ketika rasa sakit yang mendera di perut sekali lagi tak sanggup ditahan olehnya.


Hatinya tiba-tiba ikut merasakan nyeri, mengingat bagaimana dia yang berusaha sekuat tenaga untuk mencari bantuan, sementara Yang Pou Han suaminya tak kunjung mengangkat panggilan serta membalas pesannya ketika Nindy membutuhkan kehadirannya. Dia, lelaki itu terlalu sibuk dengan wanita itu, Emelie. Apakah Nindy harus bersaing dengan seorang mantan istri? Apakah itu perlu?


Dan suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Nindy, sekaligus menarik lamunan wanita itu untuk kembali dalam posisi sadar. Seorang dokter bersnelli putih datang dengan Stethoscope melingkar di leher. Bibirnya mengulas senyum ke arah Nindy yang dibalas senyuman yang sama oleh Nindy.


"Saya periksa dulu, ya!" ucap dokter wanita itu ramah.


Benda bulat dingin itu menempel secara bergantian di atas perut Nindy yang berbalut pakaian rumah sakit. Hingga dokter wanita itu melepaskan Stethoscope dari telinga, Nindy tak bisa menahan diri untuk bertanya. "Apa yang terjadi, Dokter?"


Nampak senyuman terbentuk di bibir dokter itu. "Anda hanya perlu cukup istirahat, Nyonya. Perbanyak makanan yang bergizi dan tidak boleh terlalu banyak pikiran," tutur dokter itu dengan begitu sabar.


Senyuman dokter itu kian melebar sembari mengangguk sekali. "Jangan mencemaskan itu. Semua akan baik-baik saja."


Nindy tersenyum dengan ragu. Dia merasakan sakit yang luar biasa, tetapi dokter mengatakan dia hanya butuh cukup istirahat dan tidak terlalu banyak beban pikiran. Bukankah itu sangat aneh? Bukannya Nindy meragukan kemampuan sang dokter, tetapi Nindy merasa seolah ada yang disembunyikan darinya.


Dokter wanita itu pun undur diri setelah selesai memeriksa Nindy. Dan bertepatan dengan keluarnya dokter itu, Yang Pou Han sudah berdiri di ambang pintu dengan menyandarkan punggungnya di sana sembari melipat tangan di dada.


Dia masih mengenakan kemeja yang sama dengan apa yang dipakainya pagi tadi. Hanya meninggalkan jas serta dasi yang melingkar di leher, dan kemeja lengan panjang itu terlihat dilipat hingga siku. Tampaknya lelaki itu belum sempat berganti pakaian ketika memutuskan untuk datang ke rumah sakit.


Nindy memalingkan muka seketika, tak ingin menatap wajah lelaki itu. Melihatnya saja hatinya sudah merasa sakit, apalagi senyum yang selalu ditunjukkan di wajahnya nampak sangat menyebalkan.


Lelaki itu berjalan kemudian, melangkahkan kaki ke arah Nindy. Kendati Nindy tak ingin menatapnya, Yang masih saja berjalan mendekat.


Ekspresi lelaki itu terlihat berbeda, menatap Nindy dengan penuh kekhawatiran, tetapi Nindy tak menyadarinya. Perempuan itu masih betah berdiam diri, tak menatap sedikit pun ke arah Yang Pou Han.


"Apa yang kau rasakan?" tanyanya dengan menyentuh bahu Nindy.


Nindy bergeming, tak mengatakan sepatah kata pun. Dia masih mengingat ketika panggilan telepon dan pesannya diabaikan oleh lelaki itu. Bahkan Nindy harus menahan rasa sakit itu berjam-jam lamanya demi menunggu Yang Pou Han pulang, tetapi saat ini dengan santainya lelaki itu menanyakan apa yang dirasakannya. Tentu saja satu jawabannya, sakit.

__ADS_1


"Mengapa kau datang? Seharusnya kau tidak perlu datang."


Perkataan Nindy membuat lelaki itu geram. Wajahnya memerah menahan rasa kesal bercampur marah. Dengan kasar dia menarik wajah perempuan itu menoleh ke arahnya.


"Apa? Kau tidak ingin aku datang?" ucap Yang dengan penuh penekanan.


Bola mata Nindy tak ingin menatap mata lelaki itu. Ia tak ingin terperdaya dengan tatapan yang melemahkan dirinya. Kendati wajahnya ditahan, tetapi bola matanya menatap ke arah lain.


"Tatap mataku! Aku bilang tatap mataku!"


Nindy tak peduli, tetapi bentakan seperti itu membuat dirinya ingin menangis. Hatinya sudah sakit, dan lelaki itu menambahkan luka di hati yang sudah terluka dengan perkataan kasarnya kepada Nindy. Air mata Nindy mulai mengalir, yang sebelumnya hanya setetes lalu diikuti oleh tetesan-tetesan lain di belakang.


"Untuk apa kau melakukan itu? Bukankah kau tak peduli denganku. Sebaiknya kau temui saja dia. Aku tidak akan mengganggumu lagi." Bertepatan dengan itu, suara Nindy terdengar bergetar dengan air mata yang makin menderas.


"Untuk apa aku harus menemuinya lagi?" tanya Yang Pou Han. Keningnya berkerut dalam, menyaksikan bagaimana reaksi berlebihan Nindy kepadanya. Perempuan itu jelas sedang menolaknya, menghindari tatapan dengannya.


"Bukankah kau sudah berselingkuh dengannya? Lalu kenapa kau kembali kepadaku? Sudah pergi sana, tidak perlu memeduli emmm ...."


Nindy merasakan bibir lelaki itu telah lancang mengulum bibirnya yang tengah berbicara, menguncinya hingga Nindy tak sanggup mengeluarkan kalimat yang akan dia ucapkan. Sampai ia berhasil mendorong tubuh lelaki itu untuk mejauh darinya, hingga ciuman mereka berhasil terlepas.


Gemuruh di dada terasa mencekik, lelaki itu sengaja sedang mempermainkannya. Dia menemui wanita lain ketika Nindy membutuhkannya dan saat ini lelaki itu telah dengan paksa mencium bibirnya. Yang Pou Han benar-benar egois.


"Siapa yang berselingkuh? Aku sudah mengatakan kepadamu, aku membenci perselingkuhan. Lalu kenapa kau menuduhku berselingkuh?" Netra sipit itu menatap tajam ke arah Nindy, sengaja tak ingin melepaskan pandangan dari wajah kecewa perempuan itu.


"Aku tidak tahu. Bukankah kau baru datang? Ke mana saja kau sejak tadi jika tidak bersama perempuan itu?"


Tatapan tajam Yang Pou Han sedikit melembut, ketika melihat raut cemburu di wajah Nindy. Perempuan itu masih mengeluarkan air mata yang sepertinya ingin segera dihentikan, tetapi tak sanggup ia lakukan.


Lelaki itu masih membungkuk, wajahnya begitu dekat seraya mematri wajah sang istri tanpa sungkan.


"Menurutmu, siapa yang mengganti pakaianmu dengan pakaian rumah sakit seperti yang sedang kau kenakan saat ini?" ucapnya dengan menunjukkan senyuman aneh di wajah.


"A ... pa?" Benar saja, Nindy tak menyadari jika saat ini pakaian yang dikenakannya sudah berubah. Wajahnya seketika memerah setelah menyadari makna tersirat perkataan Yang kepadanya.


"Menurutmu, siapa yang berani membuka pakaianmu selain aku. Apa kau pikir aku akan membiarkan orang lain membuka pakaianmu atau menyentuhmu tubuhmu tanpa izin?" Lelaki itu melepaskan tangannya dari dagu Nindy membiarkan kepala Nindy berubah posisi. Namun, perempuan itu justru menatapnya dengan antusias. "Aku bisa melenyapkan orang yang berani menyentuhkan tangannya kepadamu, tanpa seizinku," imbuhnya kemudian.


Terdengar helaan napas berat dari bibir Nindy, terkejut dengan jawaban Yang Pou Han yang terdengar mengerikan. Hingga dia teringat akan kejadian di toilet itu, lelaki yang telah berani menyentuhnya. Nindy terlupa menanyakan apa yang terjadi dengan pria jahat itu. Apakah dia dipenjara ataukah dia sudah ... tiada. Seketika Nindy kesulitan hanya untuk menelan ludahnya sendiri, memikirkan jenis manusia apa yang ada di depannya ini? Siapa sebenarnya lelaki yang telah menikahinya itu?


Bersamaan dengan pelik yang menggerogoti pikirannya, bertarung antara perasaan juga akal serta logika, Yang Pou Han menegakkan tubuhnya dari posisi membungkuk, lalu berbalik membelakangi Nindy. "Mau ke ... mana?" tanya Nindy dengan ragu.

__ADS_1


Dia menoleh kemudian, mengulas senyum penuh arti. "Tentu saja mau membersihkan diri, lalu menidurimu," ucapnya seraya melangkah menuju ke kamar mandi, membiarkan Nindy yang masih tercenung di atas ranjang perawatannya.


__ADS_2