Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)

Nindy (Hijabers Norak Penakluk Hati)
74. Berkumpulnya Keluarga Besar


__ADS_3

Sunyi seakan kembali menyapa. Ruang-ruang gelap mulai bercengkrama, menjalin asih serta iba akan adanya anak manusia yang telah kembali menghadap Tuhannya.


Nindy menyaksikan pemakaman Akmal dengan didampingi Yang Pou Han tentunya. Cuaca terik siang ini, tak memengaruhi mendung di hatinya. Gerimis mulai mengikis bergantikan lautan emosi yang menyesakkan dada. Untuk yang ke dua kalinya, Nindy menyaksikan pemakaman orang tuanya, Ibu dan Ayahnya.


Dunia tampak sedang mengejeknya. Ketika ego telah runtuh, dengan kerendahan hati untuk saling memaafkan. Tuhan segera memisahkan kekerabatan yang baru saja sempat terjalin. Kekerabatan yang sebelumnya tak pernah terbayangkan keberadaannya, tetapi singgah sejenak hanya dalam hitungan detik, langsung terenggut dengan kejam tanpa belas kasihan. Tak memberi kesempatan untuk saling memberi kasih juga memberi sayang.


Sesaat Nindy terpaku, ketika jenazah Akmal telah dikebumikan. Tangis sebisa mungkin ditahannya, rasa sesal pastilah ada. Dia tidak menampik itu semua. Anak-anak Akmal yang berjumlah tiga orang itu dari istri sahnya sedang mengitari liang lahat sang Ayah sembari mengangkat kedua tangan, memanjatkan doa. Doa itu dipimpin oleh salah seorang pemuka agama yang diundang oleh keluarga Arrayan dengan semua pelayat ikut menyertainya.


Nindy dan Yang Pou Han turut mengiringi, dengan Adnan yang berdiri di belakang mereka.


Pertemuan yang begitu singkat dengan perpisahan yang mengharukan, menciptakan sebuah kenangan yang tak mudah untuk terlupakan. Nindy bahkan telah menyaksikan bagaimana Akmal telah meregang nyawa, bagaimana proses kesulitan lelaki itu ketika akan menghadap Tuhannya. Peristiwa berpisahnya sebuah roh dengan jasad yang tentunya hanya terjadi sekali seumur hidup telah disaksikan Nindy di depan mata.


Sebegitu sakitkah? Sebegitu mengerikannyakah?


Tentunya setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, dan itu juga berlaku untuk Nindy. Ya, Nindy sempat merasakan hal itu, ketika dia merasa waktunya telah dekat karena hampir sekarat. Segala sesal atas apa yang dia lakukan selama hidupnya terpampang nyata saat kematian hampir menjemputnya.


Nindy beristighfar berkali-kali setelah membayangkan itu semua. Ketika mengingat mati, segalanya tiada berarti. Mungkin, apa yang banyak orang katakan benar adanya. Kita akan semakin bersyukur dan selalu berbuat baik di saat kita merasa kematian sudah di depan mata. Merasa waktu masih panjang di dunia justru membuat manusia lalai akan tujuan hidup sebenarnya.


***


Nindy duduk di kursi depan teras rumah keluarga Arrayan. Dia menjadi tamu saat ini, bertepatan satu tahun mengenang kematian Akmal Arrayan. Dia melihat Yang Pou Han sedang menggendong Anya di belakang punggungnya sembari melangkah menghampirinya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya lelaki itu, memindahkan Anya kecil untuk berdiri sendiri, lalu ikut duduk di kursi panjang yang sedang Nindy tempati.


Gadis kecil itu tertawa ketika kakinya menjejak tanah. Dia berlari menuju taman yang dipenuhi rumput hias dengan bunga-bunga yang berjajar rapi dan bermekaran. Di sana sudah ada beberapa anak lain yang tengah bermain bekejar-kejaran.


Nindy mengalihkan perhatiaannya ke arah anak-anak kecil di depan sana yang sedang bermain dan mengakrabkan diri. Kendati Anya tak pernah bertemu dengan anak-anak itu, tetapi gadis kecil itu dengan mudah membaur di sana.

__ADS_1


"Tidak ada. Terima kasih mau mengajakku kemari. Aku pikir kau tidak mengizinkanku datang ke tempat ini lagi."


"Mana mungkin aku melakukan hal itu. Apa pun yang kau inginkan, aku akan berusaha menurutinya." Yang Pou Han mengulas senyum kemudian. "Bukankah kau dan Salwa telah lama tidak bertemu? Dua minggu lagi adalah ulang tahun Reynand, anak bungsu Sean Paderson. Anya mendapatkan undangan untuk menghadirinya. Karena kita tidak bisa datang, aku akan mengajak kalian ke sana besok pagi, sebelum kita kembali ke Hongkong."


Nindy seketika mengangguk seraya tersenyum lebar. "Tentu saja aku ingin bertemu dengannya. Kau tahu, mereka berdua berjasa banyak kepadaku. Ya, lewat mereka, aku bisa mendapatkan suami sepertimu."


Yang Pou Han terkekeh, mengusap kepala Nindy dengan gemas. "Bukan karena mereka, tetapi karena aku yang menginginkanmu. Meskipun mereka memaksa aku menikahimu, tetapi jika aku tidak menginginkanmu, tentu saja pernikahan itu tidak pernah terjadi. Jadi, jangan terlalu membesar-besarkan jasa mereka."


"Emm, jika mereka tidak memaksamu, kau tidak akan segera menikahiku, bukan? Kau 'kan Tuan gengsi. Kau tidak akan mau memintaku untuk menjadi istrimu jika mereka tidak mendesakmu saat itu."


"Hai, kau terlalu memuji mereka? Puji suamimu sesekali!" Yang Pou Han tidak terima. Dia harus tetap menjadi yang nomor satu di depan Nindy. Bukan Sean atau juga Salwa.


"Baiklah, kau suami terbaik. Aku beruntung memilikimu."


Senyum itu terbit begitu saja di bibir Yang Pou Han. Perkataan sederhana Nindy selalu bisa membuatnya bahagia. "Tentu saja. Kau memang sangat beruntung mendapatkanku. Jadi, jangan pernah segan untuk memuji suamimu di depan orangnya langsung. Karena aku telah memberimu izin untuk melakukannya."


"Ya, karena aku tidak ingin ada orang lain yang lebih hebat di matamu selain aku. Jadi, aku akan melakukannya setiap hari di depanmu."


"Ayolah, Yang. Aku tidak pernah merasa ada yang lebih hebat darimu." Nindy terkekeh setelah mengatakannya. Tingkat percaya diri Yang Pou Han tampaknya sudah berada di puncak.


"Sungguh?"


"Iya, kau yang terbaik. Karena itu aku begitu mencintaimu."


Tanpa memedulikan sekitaran, lelaki itu merangkul punggung Nindy, menundukkan wajahnya, mendekat ke wajah Nindy. Seketika tubuh Nindy menegang, antara terkejut juga malu. Akan tetapi, pikiran sadarnya masih bekerja. Tepat ketika Yang Pou Han hendak melabuhkan bibir itu ke bibir Nindy, dia mendorong dada Yang Pou Han menjauh.


"Hei, ini di luar!" ucap Nindy dengan sedikit melotot.

__ADS_1


"Ciiee, Kakak Ipar!" Terdengar suara teriakan dari belakang membuat Nindy dan Yang Pou Han segera mengalihkan perhatiannya bersamaan.


"Adnan!" Wajah Nindy seketika merona, tertangkap basah hendak berciuman oleh saudara kembarnya. Lain hal dengan Yang Pou Han, lelaki itu tetap menunjukkan wajah datar tanpa dosa, dengan tangan tetap melingkar di punggung Nindy.


"Kalian mesra sekali. Membuatku iri saja," ucap Adnan, lalu duduk di sisi kursi yang kosong di samping Yang Pou Han.


"Makanya cari istri. Jangan bisanya mengganggu saja!"


"Hahaha ...." Adnan tertawa. Perkataan Yang Pou Han terdengar menggelikan karena sampai saat ini dia belum juga memiliki seorang kekasih. Ya, karir dan kisah cintanya tidak berbanding lurus. Dia telah berkali-kali menjalani hubungan yang kandas di tengah jalan. Dia beranjak dari duduknya, berdiri kemudian, melangkahkan kaki menuju Anya yang sedang memetik setangkai bunga krisan yang kebetulan berbunga indah.


"Kakak Ipar! Aku pinjam si cantik, ya? Bersenang-senanglah kalian. Biar aku yang menjaganya!" teriak Adnan ke arah Nindy dan Yang Pou Han sembari menggendong Anya.


Yang Pou Han tampak mengangguk, lalu menjawab dengan teriakan yang sama. "Jaga dengan baik. Aku akan memecatmu menjadi Paman jika terjadi sesuatu dengan Anya!"


Nindy terkekeh, lalu tersenyum simpul. Ya, hubungan keluarga mereka berjalan dengan baik. Dia dan Adnan sudah bisa mengakrabkan diri, sementara Yang Pou Han juga sudah bisa menerima keberadaan keluarga baru Nindy, yaitu anak-anak Akmal Arrayan dari istri sah lelaki itu.


Tiada dendam di antara mereka. Semua berjalan dengan baik, saling menghormati dan menyayangi. Tiada kata permusuhan atau pun kebencian, karena dua kata itu akan memperburuk suatu hubungan dan mengikis rasa kasih sayang antar keluarga yang terhubung dalam satu ikatan darah.


"Setidaknya dia masih berguna menjadi Paman." Yang Pou Han mengeratkan pelukannya ke tubuh Nindy, membuat perempuan itu menoleh ke arahnya. "Waktunya membuat Yang Pou Han junior," ucap Yang Pou Han sembari mengedipkan sebelah matanya.


Nindy terperangah, membuka mulutnya tak percaya dengan ide gila suaminya. "Eh, tapi masih siang."


"Sudahlah! Ayo!" ajaknya lagi, kali ini dengan berdiri sembari menarik tangan Nindy agar mengikutinya masuk ke dalam.


"Hei!" Nindy tidak bisa berbuat apa-apa, selain menuruti kemauan sang suami kendati di rumah itu, keluarga Arrayan sedang sibuk menyiapkan jamuan untuk kedatangan keluarga besar mereka yang sedang berkumpul di rumah besar itu.


》Masih ada 4 ekstra Chapter lagi, yaa

__ADS_1


__ADS_2