
"Tahan, Nyonya! Sebentar lagi selesai." Seorang MUA sedang mendandani Nindy di hari pernikahannya.
"Kau tidak mengubahku jadi badut, 'kan?"
Wanita itu terkekeh mendengar perkataan Nindy. Dengan sangat sabar dia meladeni pertanyaan demi pertanyaan gadis itu. "Tentu saja Nyonya akan menjadi sangat cantik. Percayalah, Nyonya."
"Jadi maksudmu sebelumnya aku sangat jelek?" tanya Nindy dengan mengerutkan kening, membuat wanita itu kesulitan untuk memoleskan bedak di dahinya.
Ya, julukan jelek yang disematkan oleh Yang Pou Han kepadan Nindy, membuat gadis itu merasa bahwa dirinya memang jelek. Seolah lelaki itu ingin menunjukkan bahwa Nindy sangat beruntung karena telah dinikahi olehnya, pria kaya yang tampan dan memesona.
"Maksud saya, Nyonya akan semakin cantik setelah ini. Tuan Yang pasti akan terkejut dan akan semakin mencintai Nyonya."
Nindy hanya mengangguk saja. Dia tahu bahwa wanita di depannya itu sedang merayu agar Nindy tidak banyak melakukan protes lagi.
Bagaimana tidak, wanita itu mengatakan bahwa Yang Pou Han akan semakin mencintainya ketika melihat dia mengenakan pakaian pengantin. Bukankah itu sangat lucu?
Lelaki itu bahkan terkadang tidak menganggapnya sebagai wanita. Yang Pou Han selalu mengatakan jika Nindy jelek, bodoh dan lamban. Mana mungkin Yang Pou Han akan mengatakan cinta kepadanya?
Nindy terus saja bertengkar dengan pikirannya, hingga dia tidak menyadari jika proses make up telah usai.
"Sudah selesai, Nyonya. Bukalah mata Anda!"
Nindy mengerjapkan kelopak mata, lalu membukanya dengan perlahan. Dirinya langsung dihadapkan dengan cermin besar dengan banyaknya lampu yang bertengger di sisi kanan, kiri, atas dan bawah.
Dia sempat tak mengenali wajahnya sendiri. Dia jarang atau bahkan mungkin tidak pernah mengaplikasikan make up di wajahnya sehingga kali ini Nindy merasa yang di cermin bukanlah dirinya.
"Apa ini aku?" tanya Nindy ragu. Dia menyentuh wajahnya sendiri.
"Apakah suamiku akan mengenaliku jika aku berdandan seperti ini?"
Pertanyaan ajaib ke dua yang keluar dari bibir Nindy membuat sang perias terkekeh. "Tentu saja tuan Yang akan mengenali pengantinnya." Dia nampak menggelengkan kepala kemudian.
Dan tepat ketika perias itu menyelesaikan perkataannya, pintu ruangan itu terbuka dengan Yang Pou Han muncul dari ambang pintu.
Kedua wanita itu menoleh secara bersamaan, dengan sang perias mundur ke belakang setelah mengetahui siapa yang telah membuka pintu.
Yang Pou Han terdiam ketika netranya menatap Nindy, pun demikian dengan gadis itu. Tak ada sepatah kata yang terucap dari bibir mereka. Hanya pandangan mereka yang saling bertatapan, tak ada suara, tak ada bicara.
Hingga perkataan perias itu terdengar, membuat keduanya tersadar dari lamunan. "Nyonya sudah siap. Saya permisi izin keluar."
Yang mengerjapkan mata, mengangguk kemudian. Sementara Nindy menunduk, menghindarkan tatapan dari lelaki itu.
__ADS_1
Hingga ketika lelaki itu berjalan mendekat dan berhenti tepat di belakang Nindy, dia meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Nindy. Nindy yang masih duduk di depan meja rias mengalihkan perhatiannya ke depan yang langsung berhadapan dengan cermin.
Pantulan wajah gadis itu menunjukkan pandangan ke arah pria yang ada di belakangnya. Masih dalam pantulan di cermin mereka saling menatap. Mematri wajah yang sepertinya terlihat saling merindukan.
Pria itu berdehem kemudian, membuyarkan lamunan yang sempat terbesit dipikiran mereka. "Kau sudah siap. Ayo kita berangkat!"
Yang mengulurkan tangannya ke arah Nindy dan disambut oleh gadis itu dengan baik. Nindy bangkit dari duduknya, berjalan beriringan dengan Yang Pou Han dengan tangan saling terjalin. Namun, tiba-tiba Nindy menghentikan langkahnya membuat lelaki itu turut berhenti dan menoleh ke arahnya.
"Yang, lihat aku!" Nindy menatap penuh harap ke arah lelaki itu.
"Ada apa? Bukankah sedari tadi aku sudah melihatmu?"
Nindy mendesah lesu, sedikit mengerucutkan bibirnya. Dia meraih tangan Yang Pou Han lalu meletakkannya di dada lelaki itu. "Apakah kau tidak merasakan apa-apa di sini?"
Bibir Yang Pou Han melengkung, membentuk sebuah senyuman, lalu menjawab pertanyaan Nindy. "Kau ingin aku merasakan apa?"
"Heeem, aku tahu kalau wanita itu berbohong. Seharusnya aku tidak perlu menanyakannya kepadamu." Dia melepaskan tangannya dari dada Yang Pou Han.
"Wanita itu? Siapa? Apa yang sudah ia katakan?" tanya Yang dengan beruntun.
Gadis itu nampak menggerakkan alisnya ke atas, menatap netra sipit suaminya. "Dia, perias itu. Dia mengatakan kau akan mencintaiku ketika melihatku setelah dirias olehnya. Ternyata dia berbohong. Kau bahkan tidak merasakan apa-apa."
Nindy begitu jujur menjawabnya, membuat lelaki itu menjadi gemas karenanya. "Kau ingin aku mencintaimu?" tebak Yang Pou Han.
Terdengar kekehan dari bibir Yang Pou Han. Mengapa dia bisa menemukan gadis polos seperti di depannya itu?
"Jadi, apakah kau jatuh cinta kepadaku?" tanya Yang kemudian.
Gadis itu menggeleng. "Tidak, aku tidak mau. Aku tidak ingin jatuh cinta lebih dulu. Karena mencintai orang yang tidak mencintai kita pasti akan menyakitkan. Aku tidak ingin sakit hati." Dia mengedipkan sebelah matanya.
"Baiklah, kita tidak tahu ke depannya akan bagaimana. Untuk saat ini, kita masih bisa memulainya dengan pertemanan, bukan?"
"Berteman? Apakah tidak bisa lebih tinggi statusnya, seperti berpacaran?" Nindy memberikan ide yang lebih masuk akal. Mana mungkin orang menikah hanya untuk berteman, bukan?
"Apa kau sangat menyukaiku, sehingga ingin sekali berpacaran denganku?" tanyanya lagi, dan kali ini membuat Nindy harus menghentikan obrolan mereka.
"Ah, bicaramu selalu menyebalkan, Yang."
Mereka tertawa kemudian. Yang mengajak Nindy segera keluar dari ruangan itu, sembari bergandengan tangan untuk pergi menuju gedung di mana perhelatan pernikahan mereka akan segera dilaksanakan.
*******
__ADS_1
Nuansa putih nampak mendominasi area itu. Kelambu putih membentang di sepanjang koridor ketika pintu lift terbuka. Bunga mawar putih dan dandelion putih memenuhi hampir keseluruhan lokasi pesta pernikahan. Bunga mawar putih mencerminkan kesucian. Sementara bunga yang lain mencerminkan akan arti sebuah harapan, cinta, kesetiaan dan kasih sayang. Sebuah filosofi yang tergambar dalam sebuah bunga yang tak bermahkota, tetapi memiliki banyak benang sari di atasnya, dandelion.
Nindy tidak menyangka Yang Pou Han akan menyiapkan pesta pernikahan mereka semewah ini. Padahal dalam benaknya mereka akan menikah secara sederhana karena sama-sama tidak memiliki perasaan. Namun, Nindy terlupa jika dia menikahi seorang pengusaha sukses. Tidak mungkin jika melakukan pernikahan yang sangat sederhana mengingat siapa yang menjadi suaminya. Hingga tanpa sengaja air mata Nindy menetes, membasahi pelipisnya.
Seharusnya ibunya melihat dia di sini. Melihat dia menikah, melihat dirinya yang sedang digandeng oleh suaminya. Melihat Nindy yang terbiasa dengan berbagai macam hinaan, kini telah mendapatkan pendamping seorang lelaki yang dihormati.
Dia menoleh ke arah Yang Pou Han, yang sedang tersenyum kepadanya. "Ayo, kita temui para tamu undangan!"
Nindy mengangguk kemudian. Mengikuti langkah lelaki itu dengan tangan saling bergandengan menuju ke panggung yang sudah dirubah menjadi pelaminan.
Di sana sudah menunggu banyak rekan bisnis Yang Pou Han tanpa terkecuali. Kedua adik angkat Sean Paderson yaitu Leon dan Abust pun turut hadir dalam acara itu. Mereka membawa pasangan masing-masing, kecuali Leon. Lelaki itu masih betah menyendiri kendati teman sejawatnya sudah memiliki pasangan. Entah apa yang telah dipikirkannya, seolah kata pernikahan merupakan momok baginya.
Sampai ketika semua orang tengah memberi selamat secara bergantian kepada kedua mempelai, lampu penerangan tiba-tiba mati total. Sebuah lampu sorot menyala ke satu tempat, mengarah ke atas panggung yang membuat perhatian semua orang teralihkan ke sana.
Dan seorang host dengan microphone di tangan memberi sambutan kepada tamu undangan. Memberikan ucapan selamat kepada Yang Pou Han juga Nindy atas pernikahan mereka. Tak lupa juga beberapa doa dan harapan yang tercurahkan untuk keberlangsungan rumah tangga keduanya.
Tepat ketika sang host memberi kode kepada Wedding Organizer, beberapa gambar ditampilkan di sebuah layar putih di ujung sana. Dan perhatian semua orang beralih ke arah layar besar itu.
Itu adalah foto prewedding yang sempat dilakukan Nindy bersama Yang Pou Han. Mereka melakukan beberapa pemotretan ketika selesai melakukan prosesi ijab kabul kala itu.
Yang menggenggam tangan Nindy ketika foto mereka ditampilkan. Tepat ketika Nindy merasakan tangannya digenggam, dia menatap ke bawah di mana tangan kekar itu sedang menyematkan jari-jarinya di sela-sela jemari Nindy. Ada rasa asing yang menelusup jauh ke dalam relung hatinya. Terasa tenang dan begitu nyaman. Nindy merasakan kedamaian ketika tangan itu semakin erat menggenggam tangannya. Dia tersenyum kemudian. Netranya beralih menatap ke layar yang sedang menampilkan foto-foto prewedding mereka.
Di dalam foto itu Yang dan Nindy nampak serasi. Terlihat senyuman yang tulus dan bahagia ketika foto-foto itu diambil. Yang bahkan tidak menyangka dia bisa melakukan berbagai pose itu bersama Nindy.
Slide demi slide telah selesai ditampilkan, dan host kembali mengambil alih acara. Tepat berakhirnya tampilan di layar itu terhenti, sebuah video lain terputar secara otomatis.
Wajah Nindy nampak pias ketika video itu diputar. Terdengar dengan jelas suara seorang wanita memaki-maki dirinya, mengatai Nindy dengan sebutan anak pel@cur.
Ya, itu adalah video pertengkaran Nindy dengan seorang wanita ketika berada di tempat wisata. Dia tidak menyangka ada yang sengaja merekam kejadian itu. Dan apa ini? Video itu sengaja diputar di pesta pernikahannya. Apakah mereka sengaja menghina dan mempermalukan Nindy dengan cara kejam seperti itu?
Nindy menunduk, bulir bening itu menetes di sudut matanya. Semua orang menatapnya dengan perasaan jijik sembari berbisik-bisik. Nindy bisa merasakan itu. Mereka sengaja berbisik dengan suara keras seolah ingin Nindy mendengarnya. Dia menggigit bibir bawah, tak sanggup mendengar dan menatap wajah semua orang yang tengah hadir dalam pesta pernikahannya itu.
Hatinya sakit, tersayat-sayat seperti diterkam oleh binatang buas. Begitu pedih dan menyiksa, menghantam dengan keras di relung hatinya yang terdalam.
Baru saja ia merasakan kebahagiaan, menjadi seorang yang dihargai dan dihormati. Memiliki suami yang bisa menjaga dan menolong harga diri dan martabatnya di hadapan manusia. Namun, di hari yang sama dia juga dipermalukan dengan cara yang begitu kejam. Rasa sesak di dada itu terasa menyiksa, Nindy tak sanggup untuk menghadapi tatapan semua orang yang mengarah kepadanya.
Melihat hal itu, Yang Pou Han mengambil gelas piala yang berada di atas meja. Dengan gerakan kasar, lelaki itu membanting gelas itu ke lantai.
PRAAANNG!
Genggaman itu menegang bersamaan aura kemarahan terpancar di wajah lelaki itu. Nindy bisa melihat lelaki itu tidak menyukai apa yang telah ditampilkan di depan layar.
__ADS_1
"Siapa yang berani memutar rekaman itu? Bawa dia ke sini. Cepat!"