Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 10 (MASA KECIL?)


__ADS_3

Pagi hari buta seisi penghuni rumah di sibukkan dengan kegiatan bersih-bersih seluruh ruangan juga pekarangan rumah. Seorang gadis kecil berusia 6 tahun berusaha menata kamar tidurnya dengan sebaik mungkin bersama kakak laki-lakinya.


“Bang, kenapa sih kita ko harus bersih-bersih rumah? Ini kan belum lebaran,” tanya gadis kecil itu penuh rasa penasaran.


“Hmmm, kata mamah tadi ada temannya papah mau datang berkunjung makanya kita harus bersihin rumah supaya kelihatan lebih rapih dan tamunya papah jadi merasa nyaman.” Abangnya mulai menjelaskan.


“Oh begitu, tapi kenapa kalau aku main kerumah Anna kamarnya selalu berantakan? Kan aku juga tamunya bang,” tanya anak kecil itu dengan ekspresi gemasnya.


“Kalau itu kamu tanya aja sama Anna langsung. Kalau menurut abang mungkin karena kamu tamu tak diundang makanya Anna males merapikan kamarnya," jawab Abangnya sambil terkekeh.


Tidak puas dengan jawaban yang diterima, gadis kecil itu pun kembali bertanya perihal yang lain.


“Bang, temannya papah datang sama anaknya juga tidak?”


“Kata mamah sih iya datang bersama keluarganya.”


“Anaknya laki-laki atau perempuan bang?” Lagi-lagi masih terus bertanya.


“Laki-laki dek. Duh, kamu ko jadi bawel banget sih dek banyak nanya kaya mamah sukanya introgasi Abang mulu.”


“In-te-ro-ga-si itu apa bang?” kembali lagi bertanya sambil nyengir tanpa dosa.


“Ba-wel.” Abangnya hanya menjawab singkat.


Tanpa kedua bocah itu sadari mamah sudah berdiri ambang pintu, suara mamah sudah mengisi seluruh ruangan menanyakan apakah anak-anaknya sudah menyelesaikan tugas yang diberikan.


“Mamah tadi bang Sam bilang kalo aku---“ Mulut mungil Salsabila langsung dibungkam oleh tangan Sam.


“Abang jangan gitu sama adiknya, nanti gak bisa nafas adiknya.”


Sam buru-buru melepaskan tangannya, Salsa hanya nyengir karena ia tahu bang Sam pasti takut kalau ia akan dilaporkan ke mamah karena bilang mamah bawel.


“Yaudah kalian mandi! Abis mandi langsung turun sarapan ke bawah.” Mamah meninggalkan kedua anaknya.


“Awas kalau ngadu ke mamah!” Sam meninggalkan adiknya sendirian bergegas menuju kamarnya untuk mandi. Sementara Salsa hanya tertawa ini akan menjadi senjatanya kalau bang Sam berani mengganggunya lagi jika ia sedang bermain.


Pukul 08.30 pagi setelah selesai sarapan bersama, mamah dan bi Inem akan berangkat ke Swalayan di sebuah Mall baru yang terletak tidak jauh dari rumah kami untuk berbelanja.

__ADS_1


“Mah, aku ikut yah ke Swalayan.” Rengek Salsabila.


“Mamah mau belanja sebentar sayang, apa kamu mau main kerumah Anna saja? Biar bi Inem antar nanti.” Tawar mamah.


“Anna pergi mah hari ini ke Mall sama keluarganya. Aku boleh ikut yah mah? Aku tidak akan mengganggu mamah belanja, janji?” Sekali lagi bocah perempuan itu merengek dan mengedipkan mata minimalisnya, gemass!


Akhirnya mamah mengizinkan, tentu saja Salsa sangat bahagia bisa pergi bersama mamah tanpa ada abangnya yang suka mengganggunya jika sedang bermain.


Sesampainya di Swalayan, Salsa berjalan bergandengan bersama mamahnya sementara Bi Inem membawa troli mengikuti mereka di belakang.


Mamah dan Bi Inem nampak sibuk memilih sayuran dan buah yang segar. Salsa kecil hanya berdiam diri melihat-lihat ke arah sekitar, Bosan!


Saat matanya sedang melihat-lihat ke sekitar, pandangannya tertuju kepada gadis berparas sedikit bule sedang berdiri di seberang cukup jauh dari tempatnya berada.


“Annaaaaa.” Salsbila memanggil gadis bule sahabatnya itu, yang dipanggil malah asyik berlari.


“Annaaaaa.” Salsabila kembali memanggil, kali ini gadis kecil itu berlari mengejar Anna dan tanpa sengaja menubruk tubuh seorang anak laki-laki, tubuhnya goyang dan ia terjatuh.


“Heii kamu, kalau jalan pakai mata dong! Lihat ni hampir saja nintendoku terjatuh.” Anak laki-laki itu pergi setelah melihat anak gadis yang terjatuh menangis menundukan kepalanya.


“Salsa, kamu baik-baik saja kan nak?” Mamah terlihat khawatir melihat Salsa yang menangis sesengukan sambil memeriksa tubuhnya, apakah ada bagian yang terluka. Hanya bagian kakinya terlihat sedikit memar.


Bi Inem menggendong Salsa keluar Swalayan, membawa anak majikannya pergi ke area bermain anak atas perintah dari mamahnya Salsa. Berharap agar anak bungsunya itu tidak lagi menangis dan mamah pergi ke meja kasir untuk membayar seluruh belanjaannya.


“Bi, aku mau main yang ini yah.” Bi Inem hanya mengangguk mengikuti majikan kecilnya yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.


Setelah puas bermain, mereka menunggu mamah yang kini sedang berbelanja beberapa aneka kue untuk dessert mereka ketika makan malam.


Matahari sudah agak terik nampaknya. Mamah Salsa sengaja kesini sangat pagi-pagi sekali supaya tidak terlalu antri tapi namanya hari libur tetap saja akan ramai pengunjungnya.


Salsa tertidur pulas diperjalanan pulang, karena ia terlalu lelah beberapa jam bermain di area permainan. Mamah menggendong Salsa perlahan agar gadis kecilnya itu tidak terbangun dan memindahkannya ke kamar.


“Salsa tidur mah?” tanya papah melihat mamah keluar dari kamar Salsa.


“Iya pah, lelah mungkin tadi abis nangis dia di Mall.” Mamah Salsa menjawab.


“Menangis kenapa mah?”

__ADS_1


“Jatuh pah karena ia berlari, tapi tidak kenapa-napa hanya sedikit


lebam dibagian kakinya sudah mamah oleskan salep.”


“Syukurlah mah kalau begitu.”


“Yasudah mamah mau istirahat sebentar juga sebelum nanti sore melanjutkan masak-masak sama bi Inem untuk tamu papah.” Mamah dan papah berlalu meninggalkan kamar putrinya.


***********


Terlihat anak laki-laki berusia 11 tahun itu tampak begitu kesal dengan bocah laki-laki yang usinya tidak berbeda jauh darinya. Anak itu sedang berusaha merebut nintendo dari genggamannya.


“Minggir kau.” Anak lelaki itu mendorong tubuh bocah laki-laki yang ingin mengambil nintendo miliknya.


“Dasar pelit. Lihat saja akan aku laporkan kepada ayahku.” Ancamnya.


“Silahkan saja jika kau berani. Aku tidak peduli.” Anak itu berlalu meninggalkan bocah laki-laki yang sudah mulai terkepal tangannya menahan amarah.


Hanya game yang bisa membuatnya sedikit agak tenang, seperti kembali pada dunia yang ia punya. Sambil menggunakan earphonenya ia berjalan menyusuri rak-rak Swalayan hingga sesuatu menabrak tubuhnya. Dilihatnya seorang anak perempuan sedang duduk menangis.


“Ahhh dasar anak perempuan kecil yang lemah.”


Berlalu begitu saja membiarkan anak kecil dihadapannya menangis.


Dilihatnya kembali dibalik rak-rak makanan, penasaran!


“Apa dia sudah pergi yah? Ahh, dasar aneh kenapa juga harus aku memperdulikan anak perempuan cengeng itu.”


Setelah bosan dengan gamenya, anak laki-laki itu pergi ke area permainan. Matanya langsung tertuju pada anak kecil berambut gelombang yang sedang asyik bermain.


Dia tidak bermain hanya mengamati gadis yang masih asyik bermain dengan berbagai permainan yang tersedia disana. Ingin sekali ia mempunyai seorang adik perempuan yang lucu bukan seorang kakak laki-laki yang sangat menyebalkan.


“Tuan, kami mencari anda kemana-mana.” Seseorang mengagetkannya.


“Mari kita pulang, Tuan!” ucap seorang lagi yang berada disampingnya.


Yang diajak bicara hanya berekspresi datar, pergi meninggalkan mereka yang mengikuti tuannya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2