
Di sebuah mini club pribadi terlihat beberapa pria yang sedang berpesta menghabiskan minumannya, mereka tak luput ditemani oleh para wanita cantik.
“Tuangkan lagi!”
Perintah seorang pria berwajah tampan dengan ekspresi datarnya.
“Baik Tuan.”
Pelayan kembali menuangkan minuman di gelasnya, lalu memberinya sebongkah es yang tidak seberapa dingin di bandingkan dengan tatapan lelaki yang berada di hadapannya kini.
Hanya lelaki ini saja yang tidak bergeming dari tempat duduknya, di saat teman-temannya sudah mulai tumbang dan kini ia hanya ditemani oleh satu pelayan yang masih setia menuangkan minuman kedalam gelasnya.
Jelas saja pria berwajah dingin ini tidak tumbang seperti yang lainnya, ia hanya meminum minuman dengan kadar 0% Alkohol. Ingatannya masih terasa pilu, matanya masih memandang jauh ke belakang masa lalu.
Tempat ini hanya sebagai pelampiasan atas kesepian yang mampir disetiap malamnya.
Itulah sebabnya ia selalu memilih menghabiskan waktunya menjelang pagi disini, bersenang-senang bersama teman-teman yang hanya ia kehendaki.
“Mohon maaf anda mau kemana?” tanya seorang laki-laki bertubuh tegap yang menjaga pintu masuk club tersebut.
“Saya mau kedalam pak, permisi.” Jawab laki-laki tersebut mencoba menerobos masuk ke dalam.
“Tidak bisa, tempat ini ditutup untuk umum.”
“Kenapa tidak bisa? Saya punya uang, minggir kalian!”
Seketika penjaga mencekal lengan lelaki itu dan menghantamkan tubuhnya ke lantai. Baku hantam pun terjadi hingga membuat lelaki muda itu jatuh tersungkur ketanah.
Sementara seseorang di dalam yang mendengar keributan segera pergi melihatnya keluar.
“Ada apa ini?"
Dilihatnya seorang lelaki berwajah lebam yang sudah tidak berdaya dilantai.
Samar-samar lelaki itu mengenali siapa pria yang kini berdiri mematung memandanginya.
“Tidak mungkin, tidak mungkin gelandangan itu---"
Nafas lelaki malang itu mulai tercekat perlahan dirinya mulai tak sadarkan diri.
__ADS_1
“Singkirkan dia!”
Para penjaga menyeret tubuh lelaki yang sudah tak sadarkan diri, membawanya pergi menjauh dari hadapan tuan besarnya yang hanya mampu melihatnya nanar.
Hatinya kembali pedih, luka hatinya kembali menganga bayangan masa lalu kembali menguasai pikirannya.
Setelah meninggalkan club laki-laki tampan itu memutuskan untuk pulang ke singgah sananya yang megah, lagi-lagi hanya ada beberapa pelayan yang menyambut kedatangannya tanpa terlihat anggota keluarga yang lainnya.
Segera ia memasuki rumah megah itu, berendam dalam bathup menenangkan suasana hatinya yang sangat kacau hari ini.
“Aku butuh kamu.” Terdengar sayup suaranya.
*****
“Jangan, jangan. Aku gakmau. Jangaaannnn..”
Salsa terbangun keringat dingin bercucuran disekujur tubuhnya, ketakutan itu hadir lagi.
Trauma masa lalu yang pernah ia alami kini datang lagi dalam mimpinya.
Mamah menerobos masuk kamar Salsa karena terkejut mendengar teriakan yang bersumber dari dalam kamar Salsa. Salsa hanya terisak ketakutan. Mama memeluknya berusaha memberi ketenangan kepada putri semata wayangnya. Papah dan Sam memandangi Salsa penuh cemas. Traumanya kembali dalam bentuk mimpi buruk.
Mamah mengelus rambut Salsa. Mencoba membujuk putri bungsunya agar melanjutkan tidurnya kembali. Salsa kembali terisak, kenapa mimpi buruk itu hadir lagi? Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah serangkaian mimpi buruk itu adalah pertanda yang akan atau telah terjadi padanya?
Mimpi buruk yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Salsa memeluk mamahnya erat.
Papah memberi saran agar mamah menemani Salsa tidur malam ini.
"Yaudah biar malam ini mamah yang temani kamu tidur disini, mamah ga keberatan kan?"
Papah berusaha menenangkan.
"Enggak, mamah gak keberatan sayang malah mamah seneng bisa menemani Salsa bobo lagi."
Setelah putrinya merasa tenang dan mau melanjutkan tidurnya kembali, Papah dan Sam pergi meninggalkan kamar Salsa.
Diluar ruangan Sam mencoba berbicara kepada papahnya mengusulkan agar Salsa kembali diberi pengobatan.
"Pah, apa tidak sebaiknya kita bawa Salsa kembali menjalani terapi dan pengobatan?"
__ADS_1
"Soal itu nanti biar kita bicarakan kembali bersama-sama dengan keluarga yang lain. Untuk sementara ini biarlah adikmu itu menikmati hari-harinya secara normal, lagi pula sudah ada Reza sebagai pengalihan dari rasa takutnya. Kamu tahu sendirikan, semenjak ada Reza di hidup Salsa dia mulai berubah secara drastis. Jadi papah rasa kejadian hari ini mungkin karena ia hanya kelelahan saja hingga akhirnya mimpi buruk itu muncul lagi."
Papah menepuk pundak Sam. Papah tahu kalau anak laki-lakinya itu memang sangat menyayangi adik perempuan satu-satunya yang ia miliki jadi wajar saja jika Sam khawatir dengan keadaan adiknya itu.
Sam juga sangat mengerti dengan maksud papahnya tapi sebagai kakak ia tetap tidak bisa tenang melihat kondisi Salsa seperti tadi, ia tidak menyangka kalau kejadian itu justru memberi dampak yang berkepanjangan untuk hidup Salsa.
"Akupun tidak dapat menyalahkannya karena semua itu memang kecelakaan." Bisik Sam dalam hatinya.
******
Dari tengah danau nampak seorang wanita berteriak diiringi isakan, tubuh wanita itu memeluk laki-laki yang duduk dihadapannya yang juga tengah memandangnya dengan mata sendu penuh kekhawatiran.
“Aaaaaaaaaaaaaa." Satu teriakan menggema bebas di udara.
“Sudah legakah? Atau masih ingin berteriak?”
Salsa menjawab dengan sebuah gelengan lemah dalam pelukan Reza, kekasihnya.
Jemari Reza mengusap lembut air mata yang berlinang di pipi cantik milik gadisnya.
Reza sangat mengerti bagaimana perasaan Salsa, hanya saja Reza tidak kuasa melihat gadisnya bersedih.
Pagi-pagi sekali mamah Salsa menelepon Reza menceritakan kejadian yang baru saja Salsa alami. Maka dari itu Reza bergegas kerumah Salsa mengajaknya untuk mencari udara sejuk sebelum ia mengantarnya ke Kampus kebetulan jadwal pertemuan Reza setelah jam makan siang. Setelah di rasa kesedihan Salsa mereda, barulah Reza mengajak Salsa untuk pergi ke kampus.
“Aku akan mengantarmu ke kampus sekarang, kamu jangan bersedih lagi yah!” pinta Reza.
Salsa hanya tersenyum berusaha menyembunyikan segalanya, segala yang ingin ia tumpahkan.
Sementara disatu ruangan aroma obat-obatan menyeruak kedalam hidung. Terlihat seorang pria duduk termenung memandangi seorang yang tengah tertidur pulas tak bergeming. Dibelainya rambut wanita yang terbaring tak berdaya, perasaan sedih dan amarah begitu saja menyelimutinya.
Dendam begitu menguasai hatinya hingga hari-harinya hanya habis dimakan oleh api dendam yang terus membara. Mencari kesana kesini orang yang ingin lelaki ini habisi namun bagaikan ditelan bumi yang dicari tak pernah ia temukan, hingga titik terang itu ada dan lelaki ini tahu harus memulai permainannya dari mana.
“Lihat saja kau akan kuhabisi.” Tangannya geram terkepal.
***********
Setelah suara laju mobil Reza menghilang, tak lama tibalah dipinggiran Danau seorang lelaki yang terlihat sangat murung. Entah apa yang ia pikirkan, raut wajahnya sangat sendu. Memorinya berputar sangat jauh ke beberapa tahun silam, ketika ia masih dapat berdiri ditempat itu menikmati suasana danau bersama seseorang yang ia anggap keluarga.
Masih terlihat jelas kenangan bagaimana seorang anak perempuan berlarian mengejarnya dan menangis karena ulahnya. Bagaimana sosok anak laki-laki yang sangat ceria dan sangat jahil. Sosok anak-anak yang sangat dirindukannya. Terlebih dengan sosok ibu yang sangat ia dirindukan.
__ADS_1
“Ibu engkau dimana? Apa kabarmu Ibu?” kini air matanya jatuh keluar tanpa ia beri izin.