Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 62 (SEKEPING HATI MILIK REZA)


__ADS_3

Meninggalkan usaha keras Gio untuk mengembalikkan ingatan gadisnya di masa lalu. Di sisi lain ada usaha keras lelaki yang sedang memikirkan cara untuk memisahkan mereka dan lelaki itu adalah Reza.


Rasa frustasi beberapa hari ini menyelimutinya menyaksikan pernikahan perempuan yang sudah dengan sangat setia menemani di tiga tahun terakhirnya.


Hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dan bersejarah untuk hidupnya serta Salsa justru berubah menjadi hari patah hati terbesar untuk Reza.


Mengapa Salsa mengubah rencana semula mereka? Reza masih terus bertanya alasan Salsa yang memilih untuk melanjutkan pernikahan meskipun yang menjadi mempelai prianya adalah lelaki lain.


Reza mengutus anak buahnya untuk melacak keberadaan Salsa. Sejak pernikahan usai Reza sama sekali tak dapat menghubungi Salsa bahkan dirinya kehilangan jejak keberadaan Gio dan Salsa keesokan harinya.


Beberapa anak buah Reza memantau di area sekitar tempat tinggal Gio dan sisanya tersebar di perusahaan milik keluarga Wijaya tersebut.


Sampai detik ini mobil yang membawa Salsa pergi tak kunjung kembali ke tempat kediaman Wijaya, hanya itu laporan terakhir anak buahnya.


“Awasi terus jangan sampai kalian lengah!” Reza menutup panggilannya kasar. Didalam hatinya selalu berbisik dimanakah Salsanya berada? Bagaimana dia akan melanjutkan hari-harinya tanpa kehadiran Salsa?


Reza masih berada di tempat persembunyiannya di salah satu gedung apartemen miliknya yang tidak diketahui oleh siapapun termasuk Salsa.


Jika Reza berpikir tidak ada yang mengetahui keberadaannya justru Reza salah besar. April telah berhasil menemukan keberadaan Reza. Perempuan dengan sorot mata indah itu berjalan menuju kamar yang sudah ditunjukan oleh beberapa anak buah Reza.


Siapa yang dapat menyangka dibalik langkah anggun April ada kesadisan yang sudah dia lakukan demi menemukan keberadaan lelaki yang harus bertanggung jawab sepenuhnya atas kehamilan April.

__ADS_1


April harus berterima kasih kepada Gio yang sudah membuat rencana tak terduga untuk mereka. Kini Reza sudah tak dapat lari lagi dari tanggung jawabnya dengan ikatan pernikahan yang tidak akan pernah terlepas seumur hidup mereka.


April memasuki kamar Reza yang telah berhasil dia buka. Matanya berpendar mencari sosok yang ingin dia temui. Sebuah figura tergeletak di atas sebuah meja menampilkan potretnya bersama wanita dengan senyum bahagia.


“Bahkan kamu masih menyimpan potonya?” April membuang figura itu ke tempat sampah, tempat yang cocok untuk membuang sebuah kenangan.


Reza masih memandang keluar jendela kamarnya. Gemerlap malam ibukota dengan lampu kendaraan serta pancaran dari gedung-gedung pencakar langit menambah suasana indah dari atas gedung tempatnya singgah.


April membuka sebuah pintu dimana Rezanya pasti sedang berada di dalam. Benar saja perkiraan April, Reza masih sibuk mengamati malamnya. Tubuh April dengan lembut memeluk Reza dari belakang.


Reza sudah mengetahui kehadiran April namun dirinya sama sekali tak menepis apa yang April lakukan kepadanya meskipun Reza tak menikmatinya.


Sekali ini dia hanya perlu membayangkan pelukan itu dari Salsa dengan begitu Reza tak merasa jijik tubuhnya disentuh oleh April.


“Tak perlu basa-basi lagi, katakan apa yang kamu inginkan?” Reza menatap April yang sudah menerbitkan senyum kemenangan diatas kekalahan telak Reza.


April mulai menjelaskan maksud kedatangannya menemui Reza. Secepat mungkin pernikahan harus mereka adakan sebelum perut April berubah membuncit.


Tetapi sebelumnya Reza harus menemui Ayah April di luar negeri terlebih dahulu untuk meminta restu. Gio sudah membantunya untuk berbicara kepada ayahnya yang sedang menjalani pengobatan.


Sambutan dari sang ayah sangat baik dia meminta agar pernikahan itu secepatnya dapat diberlangsungkan.

__ADS_1


“Kapan kita akan berangkat?” tanya Reza lagi yang dijawab dengan sebuah kertas yang April sodorkan sebelum dirinya memutuskan untuk pergi dari tempat persembunyian Reza.


Kertas itu adalah sebuah tiket yang sudah April siapkan untuk keberangkatan mereka berdua esok.


“Jangan sampai telat!” ujar April yang langsung melangkah pergi keluar setelah dirasa cukup perbincangan di antara mereka.


Reza menatap kertas yang barus saja April berikan. Haruskah dirinya pergi menemui ayahnya April? Reza sendiri masih bingung. Belum sembuh luka hatinya sudah ditambahkan lagi oleh sebuah beban berat yang harus dia pikul sendirian.


Reza tahu sekeping hatinya masih belum bisa menerima kepergian Salsa dan berganti dengan kehadiran April namun Reza sadari semua sudah terjadi sekeping hatinya harus bisa menerima perubahan dari segala musim yang selalu berganti.


***


April mengetikkan sebuah pesan kepada seseorang. Usai mengirim pesan ia membaringkan tubuhnya di atas tumpukan kasur empuk.


Badannya terasa lelah. Esok adalah hari dimana dia akan mempertemukan Reza dengan ayahnya. April berharap semua rencana yang sudah tersusun berjalan sesuai dengan urutan.


Pernikahan bersama Reza sudah di depan mata. Dia tak ingin lagi Reza dapat terlepas dari genggaman.


Cukup bagi April rasa sakit karena memendam rasa cinta selama bertahun-tahun kepada Reza.


Jangan sampai rasa sakit itu meningkat karena harus gagal menikah dan tak dapat memiliki Reza seutuhnya. Bagaimanapun caranya pernikahan itu harus tetap berlangsung.

__ADS_1


Cinta April kepada Reza perlahan telah berubah menjadi sebuah ambisi untuk tetap memiliki.


__ADS_2