
Selesai sudah hari ini pelatihan gladiresik untuk acara pelepasan wisuda angkatan xx.
Salsa dan Anna keluar beriringan bersama dengan teman mahasiswa lainnya.
Waktu sudah menunjukan cukup larut untuk dua gadis yang akan pulang melewati jalanan Ibukota. Meskipun jalanan terlihat ramai masih ada jalan yang sepi dengan penerangan yang sangat minim.
Hal itu tidak menyurutkan nyali dua gadis yang kini tengah berjalan, mereka terpaksa harus melewati jalan yang sepi karena hanya ini jalan menuju akses tempat kendaraan umum menunggu penumpang, dan ditambah sangat sulit mencari kendaraan online dijam-jam malam seperti sekarang ini, gawai yang mati terasa menambah kelengkapan penderitaan mereka.
Salsa yang menyadari bahwa mereka sedang di ikuti oleh seorang yang berada beberapa meter dibelakangnya, membuatnya mempercepat langkah kakinya. Anna yang masih berjalan gontai dengan mata mengantuk kini kembali membuka lebar matanya setelah Salsa menarik lengannya lebih tepatnya menyeret.
Berjalan sambil berbisik-bisik Anna dan Salsa memutuskan untuk menghentikan langkahnya secara mendadak untuk kemudian membalikan badannya secara bersamaan.
“Ayo An, kita mulai.” Salsa mulai memberi aba-aba kepadanya.
1... 2... 3...
Salsa dan Anna membalikkan badannya secara bersamaan.
Betapa terkejutnya mereka ketika membalikkan badan tidak ada siapapun disana, hanya ada beberapa sampah plastik dan daun yang terbang tertiup oleh angin malam.
“Arggghht lariiiiiii..... “ Anna berlari lebih dahulu meninggalkan Salsa yang masih berdiri memandang kearah sekitar.
Perasaanku tidak mungkin salah, jelas-jelas tadi ada orang yang mengikuti langkah kita, lalu kenapa sekarang tidak ada siapa-siapa? Salsa
Salsa berlari menyusul Anna yang sudah berlari terbirit-birit. Hanya tinggal beberapa meter saja menuju jalan utama yang ramai.
Anna yang masih ngos-ngosan seperti habis berlari marathon tidak sanggup berkata apa-apa lagi melihat Salsa yang masih ketinggalan jauh dibelakangnya. Lari jarak dekat lumayan sehat untuk olahraga penutup malam mereka.
Hari yang sungguh membosankan, detik-detik menuju pelepasan statusnya sebagai mahasiswi ia bingung harus memulai mencari pekerjaan dari mana.
Salsa berprinsip sama dengan bang Sam, dia tidak mau bekerja di perusahaan papahnya, dia harus memulai segalanya dari awal.
__ADS_1
“PT. ALGORITMA GROUP LTD Membuka lowongan pekerjaan. Segera kirimkan CV anda melalui email kami sekarang juga.”
Seperti mendapatkan angin sejuk, Salsa segera menyiapkan lamaran pekerjaannya lalu mengirimkan ke alamat email yang tetera pada info lowongan salah satu media.
Berhasil.
Sukses sudah dikirimnya lamaran pekerjaan Salsa. Dia melamar pekerjaan sebagai sekretaris di PT. ALGORITMA GROUP LTD.
Tak berselang lama satu balasan email masuk untuk melakukan tes secara online. Dibukanya link yang sudah tercantum dan memulai mengerjakan beberapa tes untuk seleksi.
Tinggal menunggu konfirmasi panggilan wawancara untuknya itupun jika Salsa lolos dalam mengerjakan tes yang sudah ia jalani.
“Ternyata susah juga yah mencari pekerjaan.” Salsa bergumam-gumam sendirian dikamar.
Tidak butuh waktu lama baginya untuk menunggu panggilan wawancara, Salsa lulus seleksi dan langsung wawancara pada tanggal dan hari yang sudah ditentukan. Akhirnya ia akan menjadi seorang pegawai kantor bukan lagi seorang mahasiswi.
Pagi penentu nasibnya kini sudah menunggu untuknya terbangun, Salsa bergegas menuju ruang makan untuk sarapan bersama mamah dan papahnya.
Salsa menceritakan kemana ia akan pergi hari ini, mamah dan papahnya sangat bangga dan mendukung apapun langkah yang akan Salsa ambil.
Bagi orang tuanya Salsa tidak memaksakan kehedendak anak-anaknya akan membuat anak-anak mereka lebih menghargai apa yang mereka punya dan berkenalan dengan perjuangan dari kesuksesan yang kelak akan mereka tuai.
“Apapun keputusan kalian papah akan dukung. Kelak kalian berdua adalah penerus papah dan kalian harus bisa menjadi seperti papah.”
Papah Salsa memeluk putri semata wayangnya dengan erat, baginya Salasa masih seorang putri yang masih sangat kecil untuk bisa berhadapan dengan dunia luar semoga pendampingnya adalah laki-laki yang baik dan bisa menjaga putrinya nanti.
Salsa berangkat di antar oleh papahnya menuju gedung perkantoran PT. ALGORITMA salah satu perusahaan ternama. Saat ini Salsa sedang berhubungan jarak jauh dengan Rezanya, karena dua minggu lalu ia harus kembali mengurus proyeknya dengan waktu yang sedikit lama.
Gedung yang menjulang tinggi sudah berada didepan mata Salsa, ternyata gedungnya sangat besar dari yang Salsa bayangkan.
Semoga hari ini keberuntungan ada padanya. Salsa memasuki gedung setelah sebelumnya ia ditahan oleh beberapa penjaga untuk menunjukan kartu identitas dan lapor terlebih dahulu. Sungguh merepotkan!
__ADS_1
Belum lagi ia harus memakai card kunjungan dan baru di perbolehkan masuk. Tentu saja setelah masuk dan menuju lantai yang dituju ia harus melapor kembali kepada petugas keamanan dilantai tersebut dan kepada resepsionis yang berjaga.
“Mohon ditunggu. Untuk sementara menunggu silahkan duduk bu.”
Resepsionis-nya sungguh ramah. Pegawai disini semuanya terlihat ramah dan saling menyapa satu sama lain.
“Silahkan masuk bu, masuk kedalam ruangan nomor 2 yah bu.” Resepsionis memberikan intruksi untuk memasuki ruangan nomor 2.
Banyak sekali ruangan disini.
Kantor yang sungguh membuat takjub selain gedungnya tinggi ternyata banyak sekali ruangan yang tersedia.
Salsa menyusuri ruangan mencari ruangan bernomor 2.
Salsa mempersiapkan dirinya di depan ruangan sebelum memasukinya.
*****
Langkah kaki seseorang harus terhenti di balik sebuah pohon yang cukup besar. Sepertinya terlihat ia sedang menghindar dari pandangan seseorang.
Kali ini ia memilih memakai hoodie berukuran cukup besar berwarna hitam.
“Siapa disana? Keluar.”
Teriak seorang perempuan dengan suara menantang. Hanya suara bisikan angin yang menyahut membuat tangannya semakin gemetar.
Cukup berani juga kau rupanya nona.
Seandainya dia sedang tidak merahasiakan siapa dirinya tentu dia akan dengan sangat senang muncul kehadapannya dan membuatnya jantungan.
Apa-apan dia? Bagaimana jika perempuan itu tahu bahwa kau telah berani muncul kembali berandal.
__ADS_1
Mata laki-laki lain mengawasi dengan jeli pemainan petak umpet semacam apa yang sedang mereka mainkan.