
Malam kencan Reza dan Salsa segera dimulai, mereka memilih untuk menghabiskan waktu bersama di sebuah mini caffe yang sudah di reservasi khusus oleh Reza.
Salsa nampak anggun dengan surai gelombang tergerai, membuat mata Reza tak dapat berbelok arah. Reza menutup netra Salsa dengan sehelai kain penutup sejak keberangkatan mereka.
Visual Salsabila mohon maaf kalau visualnya gak sesuai harapan 😂
Sepanjang perjalanan senyum merekah Salsa tak pernah pudar, jemari yang saling tertaut cukup menyalurkan energi kerinduan yang dua insan sedang pendam.
Salsa mendengar debur ombak. Ia hanya dapat menerka sedang berada dimana dirinya.
Btw ini visual Reza maafkan kalau lagi-lagi gak sesuai dengan ekspektasi 😂
Mobil terhenti, Salsa masih tak bergeming dari kursi penumpang di sisi kiri Reza.
Pintu mobil terbuka, pelan-pelan Rezanya menuntun pujaan hatinya keluar dari dalam mobil.
“Tunggu sebentar Ca.”
Belum sempat Salsa menjawab, tubuhnya telah terangkat oleh Reza yang sudah menggendongnya dengan ala brydal style.
“Eja.”
Hanya kata itu yang mampu terlontar dari bibir Salsa.
Direngkuhnya tubuh Salsa yang terasa menghangat, disenderkan kepala milik Salsa di dada bidang milik Reza menambah hangat aliran darah yang kian berdesir.
Reza berjalan perlahan menikmati harum tubuh Salsa yang jelas menghiasi indra penciuman. Dengan sangat hat-hati Reza menurunkan tubuh Salsa dan membuka kain penutup mata perlahan.
Makan malam di pinggiran pantai dengan hiasan lampion-lampion yang menambah nuansa romantis, Rezanya selalu tahu apa yang Salsa suka.
“Eja.”
Lagi-lagi bibir Salsa hanya mampu menyebut nama kekasihnya tanpa bisa berkata apapun untuk mewakili apa yang dia rasa.
“Aku berharap kamu suka yah Ca.”
__ADS_1
Reza menuntun jemari Salsa mendudukan kekasihnya pada sebuah kursi, hidangan telah tersaji aneka makanan kesukaan Salsa sudah siap untuk segera disantap.
Selesai makan hidangan penutup Reza mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang berwarna merah. Dibukanya kotak merah tersebut dan berhasil membuat mata Salsa membulat sempurna.
“Will you marry me?”
Reza mengatakan apa yang selama ini Salsa tunggu.
Ternyata benar apa kata orang kalau akan ada masa indah pada waktunya. Selama ini Salsa selalu bersabar menunggu hingga berusaha keras belajar untuk menamatkan kuliah demi mewujudkan mimpinya menikah dengan Reza, satu-satunya pria yang dia cinta.
Salsa menutup mulutnya, cukup dengan anggukan kepala bersama air mata haru yang menetes sebagai jawaban. Reza mengusap pipi Salsa lembut tak mampu ia melihat Salsa menangis meskipun tangisnya karena haru bahagia.
Reza membuka cincin yang ada pada jari manis milik Salsa menggantikan dengan cincin yang baru.
“Ja, kenapa dibuka? Cincin ini juga bagus, aku suka memakainya.”
Reza hanya terdiam mencoba melepaskan lalu memakaikan cincin yang baru dan ternyata ukurannya terlalu sempit.
Karena Salsa tak ingin melihat Reza kecewa, Salsa memasukan cincin yang baru pada kalungnya untuk dijadikan sebuah bandul.
“Begini bagus juga kan? Reza apapun yang kamu berikan aku selalu suka.”
Debur ombak, tiupan semilir angin dan pasir pantai malam ini adalah milik mereka. Milik mereka yang sedang dimabuk oleh cinta.
*****
Reza yang mengetahui Salsa sudah bekerja, mulai mempercepat untuk menjalankan rencana melamar kekasihnya.
Meskipun pikirannya masih kacau dengan kejadian beberapa minggu lalu.
April maafkan aku.
Mata Reza meremang, air mata tak sanggup ia tahan jika mengingat kejadian yang menimpa dirinya bersama si rekan kerja.
Bayang-bayang rasa bersalah selalu muncul tapi berhasil ditepis dengan mengingat keceriaan di wajah Salsa.
Dia harus bekerja keras semua demi masa depan Reza dan Salsa. Pernikahan impian mereka sudah didepan mata. Janji setia mereka akan terucap bersama lantunan doa dan ikrar dihadapan Sang Maha Cinta.
Dengan kembalinya Reza ke tanah air, dia berharap dapat beristirahat sejenak dan memilih untuk menghilang tanpa kabar dari Salsa, meskipun semua itu bukan pilihan yang tepat.
__ADS_1
Reza tetap memantau kegiatan Salsa, mencari informasi dimana ia bekerja dan bagaimana keadaannya setiap hari.
Tidak sulit untuk memantau kegiatan Salsa sehari-hari, hingga pada suatu hari Reza mendapatkan kabar bahwa Salsa pergi berdua bersama atasannya.
“Ikuti terus, share lokasi saya akan menyusul kesana.”
Reza meraih jaket jeansnya, keluar dari tempat persembunyiannya untuk sementara.
Tentu rasa penasaran menghantui Reza, ia takut sesuatu yang buruk akan terjadi kepada Salsa.
“Ca, kenapa sih kamu ikut dengannya?”
Dia tahu Salsa tak akan mungkin berpaling dari dirinya, bukan hal yang mudah untuk berselingkuh bagi wanita seperti Salsa.
Mobil berwarna hitam berhenti, si pemilik mobil berjalan menghampiri hamparan pasir berlindung dibalik badan sebuah perahu yang menepi.
Mengamati apa yang sedang dua manusia lakukan di pinggiran pantai. Reza memukul perahu yang ada didepannya, dimana hatinya merasa nyeri mendengar namanya yang menggema dilautan lepas. Belum lagi dia melihat ada buliran bening yang keluar makin tercabik hatinya oleh rindu yang sudah menggebu. Ingin rasanya Reza berlari dan berhambur memeluk tubuh wanita yang kini tengah tersedu.
“Maafkan aku Ca.” Hatinya hanya mampu berbisik maaf.
Belum sampai disitu, ia harus menahan kembali emosi yang memuncak dimana tangan laki-laki lain mengusik sesuatu yang akan menjadi miliknya. Ia tahu Salsa terluka dan Reza mengakui apa yang laki-laki itu lakukan adalah suatu hal yang tepat akan tetapi hatinya menolak disaat pikirannya menerima.
Entahlah, Reza hanya mampu menahan geramnya. Seandainya semua bukan karena kesalahannya mungkin semua masih terlihat baik-baik saja.
Reza terus mengikuti Salsa memastikan laki-laki itu membawa Salsanya dengan utuh kerumah.
Beberapa kali Reza ingin menabrak mobil yang kini ada didepannya, ia merasa kesal dengan pertanyaan yang memenuhi otaknya setiap kali mobil yang ada dihadapannya mendadak berhenti.
“Arghhttt, sedang apa mereka?” Reza memukul stir mobil dengan keras.
Hatinya selalu berkecamuk setiap kali mengingat kejadian malam itu. Sebelum merencanakan ini semua Reza merundingkan bersama keluarga besarnya dan keluarga besar Salsa. Kedua orang tua mereka menyambut niat baik Reza terlebih memang Reza sudah berusia cukup untuk menikah.
“Mamah dan papah memberimu restu.” Orang tua Salsa berharap Reza adalah laki-laki yang mampu membuat Salsa bahagia dan tentu saja laki-laki yang mampu menjaga ikrar sumpah setia.
Reza mulai merencanakan semua dibantu oleh Maya sekretarisnya yang tentu saja ia adalah perempuan yang pasti memiliki selera keromantisan yang sama. Reza ingin menebus malam yang membuat kekasihnya terluka, semoga semua berjalan sesuai rencana kencan buta Salsa dan Reza.
Aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk pria lain. Cintamu hanya untukku Ca, begitupun denganku tak akan pernah ada wanita lain yang mampu menggeser posisimu meski hanya sejengkal.
Maafkan aku yang menyakitimu tanpa sengaja, semua akan aku tebus dengan hari-hari bahagia kita di sepanjang usia.
__ADS_1