Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
BAGIAN 43 (WAJAH ASLI TUAN GIO)


__ADS_3

Salsa mengemudikan mobil dengan kecepatan penuh seperti orang yang sedang kerasukan. Rasa khawatir begitu saja menyergapnya. Ia ingat betul bagaimana dengan riwayat penyakit bossnya. Semacam aib yang harus ditutup rapat, bahkan tak satupun yang mengetahui selain Adam dan dirinya.


Karena tergesa-gesa dan melamun hampir saja Salsa menabrak palang pintu masuk rumah sakit.


Setelah ia memarkirkan mobil milik Sam dengan mulus, Salsa menuju satu ruangan dimana Gio tengah berbaring lemah disana.


Adam tengah menunggu diluar ruangan bersama para pengawal.


Cih, begini saja masih dijaga oleh pengawal sudah seperti tahanan saja.


Salsa menuju tempat dimana Adam tengah berdiri.


“Adam, bagaimana keadaan tuan Gio?” Salsa langsung menodong Adam dengan berbagai macam pertanyaan.


Bagaimana boss seperti tuan Gio bisa sakit? Dan penyakit itu apakah benar adanya? Dilihat dari kegigihan serta kekejaman dirinya rasanya mustahil ia dapat sakit sama seperti manusia lain. Salsa masih berpikir bahwa penyakit akan takut menyerang tubuh Gio jangankan menyerang, nempel saja sepertinya enggan.


Melepaskan pikiran-pikiran konyol Salsa, Adam tak dapat menjawab apapun pertanyaan dari Salsa. Dirinya seperti kaget melihat kehadiran Salsa yang begitu mendadak.


“Maaf Nona Salsa, kenapa Nona bisa tahu kalau tuan Gio sedang dirawat?”


What? Jadi bukan Adam yang memberi tahunya? Terus Siapa?

__ADS_1


Tak penting bagi Salsa siapa yang sudah memberi tahunya, yang ia ingin tahu adalah bagaimana kondisi bossnya. Apakah dia sedang sekarat? Salsa sibuk dengan pikirannya sendiri. Rasa bersalah seperti begitu saja mengalir, mungkinkah dia sakit kerena dirinya?


Jika benar? Apa yang harus dilakukan? Sementara Salsa merasa berhutang nyawa karena sebelumnya Gio telah menolong Salsa ketika dirinya tak sadarkan diri di tepian pantai.


Setelah melalui negosiasi rumit dengan Adam, akhirnya Salsa di izinkan masuk dengan syarat tak lama. Tak masalah baginya hanya semenit yang terpenting Salsa tahu kebenaran tentang bagaimana dengan kondisi Gio.


Terlihat wajah pucat sedang tertidur tenang dengan sebuah alat bantu pernafasan. Hatinya sedikit ngilu, wajah datar yang biasa dilihatnya tak bergeming. Meskipun hanya sebulan Salsa menjadi sekretaris Gio tapi hampir setiap hari boss menyebalkan ini selalu mengganggu hari-harinya. Bahkan ketika libur gawai Salsa tak berhenti berdenting dengan pesan yang terkadang tak penting. Salsa tak menanggapi lebih dia hanya berfikir kalau bossnya itu sedikit mengalami gangguan jiwa akibat kesepian.


Kehadiran sekretaris kiriman sialan yang tempo hari memeluk bossnya kembali terngiang, harusnya disaat beginih bukan Salsa yang khawatir tetapi perempuan kiriman itu.


Perlahan dirinya mendekat. Kini Salsa berada tepat disamping Gio, memandang wajah asli Gio yang harus ia akui memang tampan hanya saja Gio memang tak banyak berekspresi. Dengan cepat tangan Gio memegang pergelangan tangan milik Salsa dengan erat.


Aaaduhh, kenapa jantung dagdigdug bikin gue jadi gugup?


“Eh, dia ngingo yah?” Salsa bermonolog sembari mengecek mata Gio yang tengah tertutup.


Mendengar ucapan Gio yang begitu lirih dan memelas, Salsa mengurungkan niatnya untuk segera pergi. Diambilnya sebuah kursi dan Salsa terduduk disana dengan pergelangan tangan yang masih tergenggam. Perasaan berbeda ia rasa, rasanya tak sama seperti yang ia rasakan sebelumnya pada Reza.


Enggak. Enggak mungkin. Hadeh mungkin karena pertama kali gue ngelihat Gio beginih. Haduhh hati.. please, jangan baper!


Malam ini sepertinya ia akan habiskan untuk tetap singgah disamping Gio sampai esok pagi. Rasa kantuk yang menyerang membuat Salsa memejamkan matanya. Dirinya tengah terduduk sambil tertidur dengan kepala yang menempel diranjang. Satu usapan lembut mendarat dikepala Salsa mengalirkan perasaan hangat yang ia punya kepada Salsa.

__ADS_1


***********


Gio seperti mendengar suara seseorang yang tak asing diluar. Benar saja, perempuan yang selalu ia bilang bawel itu tengah berkompromi dengan Adam. Keributan yang mereka buat membangunkan singa yang tengah tertidur lelap. Kalau saja Gio tidak sakit kedua anak manusia ini sudah pasti akan disemprotnya karena membuat ulah disaat jam istirahatnya.


“Ayolah Adam, aku mohon izinkan aku masuk ke dalam.” Salsa meminta dengan wajah penuh harap.


Adam yang merasa tersentuh akan sikap Salsa akhirnya luluh dan membiarkan gadis itu masuk dengan syarat tak lama. Gio kembali memejamkan mata. Suara derap langkah diiringi oleh wangi parfum yang sangat familiar untuknya.


Salsa benar-benar datang menemuinya! Tak ia hiraukan dari mana Salsa mendapat info tentangnya yang jauh lebih menggembirakan baginya ada orang lain yang juga perhatian kepadanya dengan memandang dirinya sebagai manusia bukan karena persoalan harta.


Gio masih terpejam, aroma wewangian begitu santer tercium yang selalu membuatnya rindu. Gio seperti tak ingin kehilangan momen seperti ini, ide gilanya muncul dikepala. Dengan sigap ia menarik lengan Salsa agar perempuan itu tak keluar pergi meninggalkannya.


“Oke, oke baiklah tuan Gio terserah kamu saja. Aku akan menunggumu malam ini saja.”


Didengarnya Salsa berbicara kepadanya, mungkin dia tahu bahwa Gio tengah berpura-pura tetapi rasanya tidak mungkin karena Gio sama sekali tak membuka mata.


Akhirnya berhasil juga ide Gio, Salsa menunggunya dirumah sakit meski hanya satu malam. Diusapnya dengan lembut rambut gelombang milik Salsa yang terurai


.


“Terimakasih sudah mau menjagaku, aku tak sendiri. Aku tak merasa sepi.” Kali ini Gio mengucap kata itu dengan tulus.

__ADS_1


Salsa yang belum sepenuhnya tertidur sayup-sayup seperti mendengar apa yang Gio ucapkan.


__ADS_2