Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 47 (MASA KECIL 2)


__ADS_3

Arsen kembali menuju kamarnya selepas kepergian keluarga Tuan Joni. Arsen memikirkan kebenaran perihal ucapan ayahnya tentang apakah dirinya adalah anak pembawa sial?


Kata-kata anak pembawa sial cukup menyakiti hatinya. Sebagai seorang ayah, apakah dirinya tak merasa bangga mempunyai seorang putra seperti Arsen?


Jika memang kenyataannya begitu mengapa ayahnya tak membuangnya seperti ibunya yang dengan tega meninggalkannya sendiri? Mempunyai ibu serta saudara tiri ternyata bukan membuat hidup Arsen membaik, kehadiran mereka berdua justru semakin menyulitkan hidup Arsen.


Arsen merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk, pikirannya melayang menatap langit-langit kamar. Anak lelaki pendiam itu mempunyai cukup pemikiran yang dewasa meskipun belum waktunya. Keadaan yang membuatnya dapat mempunyai pola berpikir demikian. Kejadian yang baru saja menimpa bocah berusia enam tahun mencuatkan rasa bersalah Arsen. Kalau saja anak perempuan itu tak melerai pertengkarannya dengan Damar mungkin dia tak akan menjadi korban karena pertengkaran mereka.


Semua sudah terjadi, bagaimanapun Arsen harus bertanggung jawab dan meminta maaf secara langsung kepada anak perempuan yang ia buat tenggelam.


Sore ini adalah jadwal pertemuan makan malam keluarga Wijaya dengan keluarga Anggara. Wijaya berniat untuk tidak mengajak Arsen putranya karena ia takut putranya yang satu itu akan kembali membuat ulah. Ibu tiri Arsen membujuk Wijaya agar Arsen tetap ikut makan malam bersama.


“Sayang, bagaimanapun dia adalah putra kandungmu sama seperti Damar. Jadi, tolong jangan bedakan perlakuan diantara mereka,” ucap ibu tiri Arsen dengan nada manis.

__ADS_1


“Baiklah, karena itu permintaanmu aku akan tetap mengajaknya. Hanya saja dia tidak akan satu mobil dengan kita. Aku masih tidak ingin melihatnya,” jawab Wijaya yang dengan mudah menerima saran dari istrinya.


Lihatlah mudah sekali bukan untuk membuatmu percaya, tunggu saja apa yang akan aku lakukan kepada putramu.


Entah apa yang sedang direncanakan oleh ibu tiri Arsen kepada anak tirinya itu. Setelah menerima kabar makan malam dari pengawal, Arsen bersiap menyiapkan penampilan dirinya. Arsen yang akan memasuki masa remaja terlihat begitu tampan, wajah yang dahulu kecil sering terbias senyum seiring berjalannya usia senyum itu menghilang. Kini wajah tampan itu hanya menampilkan ekspresi datar, tak bisa ditebak amarah, senang dan takut seperti melebur kemudian menyatu.


Seperti perintah ayahnya Arsen tak satu mobil dengan keluarga Wijaya yang lain, dirinya di asingkan, di sisihkan dari keluarga Wijaya. Ini bukan kali pertama, sudah terlalu sering dia mendapatkan perlakuan yang tak adil baginya. Bahkan duniapun tahu itu.


Keluarga Anggara telah menunggu, kedatangan keluarga Wijaya disambut hangat. Mereka sama seperti keluarga Joni dan tak kalah ramah. Anggara hanya datang bersama putrinya, sebab istrinya telah lama meninggal dunia.


“Selamat sore Paman Anggara, Maafkan saya datang sedikit terlambat. Sebelumnya izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Giordan Arsenio Wijaya.” Arsen membungkukkan kepalanya sopan.


Arsen memperkenalkan dirinya yang membuat ibu tiri Arsen membulatkan matanya ketika mendengar Arsen memakai nama marga Wijaya dibelakangnya.

__ADS_1


Dasar bocah kecil, dia fikir siapa dirinya? Beraninya memakai nama Wijaya.


Ibu tiri Arsen menatap tak suka melihat Arsen duduk disebelah putri Tuan Anggara. Semakin ibu tirinya menatap dia tak suka Arsen semakin ingin membuat ulah. Rasanya menyenangkan bermain-main dengan ibu tiri yang bermuka dua.


Makan malam telah selesai, keluarga Wijaya pamit untuk kembali menuju penginapan mereka. Sebelum kepergian mereka Tuan Anggara mendengarkan percakapan Nyonya besar keluarga Wijaya. Tuan Anggara yakin sekali bahwa dirinya tak salah dengar, ibu tiri Arsen seperti sedang merencanakan sesuatu.


“Kerjakan semua dengan rapih!” begitulah kalimat terakhir yang Nyonya Wijaya ucapkan.


Arsen kembali ke penginapan dengan menggunakan mobil yang berbeda. Anak lelaki itu tak sedikitpun menaruh curiga atau memiliki firasat bahwa dirinya akan menjumpai satu hal buruk yang akan menimpa dirinya.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, angin sepoi-sepoi membelah gelapnya malam. Sisi kanan dan kiri adalah jurang pemisah antara laut dan darat. Pepohonan besar sangat subur tumbuh. Pengemudi tampak pucat pasi, keringat sudah bercucuran. Dia sudah mengetahui satu hal bahwa rem mobil yang ia kendrai blong dan nasib tuannya berada dikemudi yang ia pegang. Ia mencari cara, bagaimana harus menghentikan mobil yang sudah terlanjur melaju. Dari arah depan tiba-tiba menyalip sebuah mobil yang membuatnya oleng dan kehilangan arah serta keseimbangan.


“Aaaaaaaaaa...” teriakan menggema dari penumpang di dalam mobil yang terperosok jatuh.

__ADS_1


Dengan susah payah anak lelaki itu berusaha untuk keluar dari dalam mobil yang menghimpit tubuhnya. Dia merangkak keluar sementara si pengemudi sepertinya telah meregang nyawa. Tak lama suara ledakan menggema. Membuat sepasang mata yang melihat kejadian itu segera berlari menuju sumber cahaya.


__ADS_2