
Hari pertama bekerja itu berarti Salsa akan bertemu dengan pemilik perusahaan secara langsung bahkan di sepanjang harinya ia akan selalu bersama dengan atasannya.
Sebelum memulai bekerja Salsa sudah terlebih dahulu mencari biografi tentang pemilik perusahaan tersebut dan anehnya tak ada satupun informasi yang berhasil ia temukan.
Dia hanya bisa berharap semoga atasannya adalah orang yang baik hati dan ramah terhadap para pegawai, buktinya dengan keadaan kantor kemarin yang dia kunjungi para pegawai saling menyapa dan tersenyum satu sama lain tetapi itu semua juga bukan jaminan bahwa petinggi perusahaan juga akan bersikap ramah.
Sudahlah dari pada pikirannya melayang-layang entah kemana Salsa memilih lebih baik menghubungi Rezanya yang sejak kemarin tidak memberikannya kabar, keberadaannya bagaikan hilang ditelan bumi.
Nomornya masih tidak dapat dihubungi. Sejak kapan Rezanya lupa mengisi daya ponsel seperti dirinya? Selama ini bukankah Rezanya yang selalu bawel mengingatkan untuk terus mengaktifkan ponsel? Kembali ditepisnya perasaan buruk, semua itu hanya akan membuat pikirannya kalut dan akan mengacaukan performa di hari pertamanya bekerja.
Salsa kembali menginjakan kakinya digedung megah ini bukan lagi sebagai pelamar tapi ia sudah menjadi pegawai meskipun statusnya masih pegawai kontrak.
Masih seperti kemarin sebelum memasuki gedung ia wajib melaporkan dirinya kepada petugas keamanan karena ia belum memiliki kartu pengenal seperti pegawai yang lain.
Sampai sudah dilantai yang dituju. Kembali ia menemui resepsionis yang kemarin ditemuinya.
Setelah cukup lama menunggu seorang laki-laki muda keluar dan memanggil namanya ramah.
“Bu Salsa yah? Sekretaris barunya tuan?”
Hah Tuan? Apakah calon boss ku adalah seseorang yang masih berusia muda?
Salsa yang masih melamun ditempatnya kembali disadarkan dengan suara laki-laki itu yang mengajaknya untuk segera mengikutinya menuju ruang kerja Salsa.
Salsa mengikuti langkah pria yang sudah menghilang dibalik pintu.
Cepat sekali jalannya.
Sebuah pintu terbuka ditengoknya apakah itu ruangan kerja yang dimaksud laki-laki tadi.
Wow, ruangan ini sungguh luar biasa besarnya padahal hanya ada dia seorang diri yang bekerja.
Mata Salsa masih memandangi sekeliling ruangan yang akan menemani pagi hingga sebagian senjanya.
Laki-laki yang kini berada satu ruangan dengannya mulai menjelaskan peraturan bekerja dan tugas apa saja yang wajib ia ketahui.
Lebih tepatnya laki-laki itu juga memberikan sebuah catatan yang berisi banyak daftar tentang aktifitas yang akan dilakukan Salsa bersama tuannya hari ini dan daftar pekerjaannya sebagai sekretaris pribadi tuan besar. Jadwal-jadwal aktifitas atasannya adalah jadwal aktifitasnya juga. Jadi inti dari penjelasannya ia akan pergi mengikuti atasannya kemanapun atasannya ingin pergi.
Tugas pertama Salsa adalah membersihkan ruangan atasannya sebelum datang ke kantor.
Whaattt? Apa kaga ada OB disini?
Laki-laki yang segera menangkap isi pemikiran Salsa langsung menjelaskan alasan kenapa harus Salsa yang membersihkan sebab tidak semua orang dapat memasuki ruangan kerja pribadi atasannya sekalipun itu adalah petugas kebersihan yang biasa membersihkan seluruh permukaan gedung bahkan sampai ke sela-sela.
__ADS_1
Salsa mulai mengerti ternyata atasannya juga seseorang yang tertutup untuk urusan pribadi.
“Sebelumnya perkenalkan saya Adam, jika bu Salsa membutuhkan bantuan saya silahkan hubungi saya semua sudah saya catat di daftar yang bu Salsa butuhkan.” Laki-laki muda itu mengulurkan tangannya dengan sopan.
“Panggil saya Salsa saja pak Adam.” Salsa membalas uluran tangan Adam.
“Baiklah nona Salsa, saya harus memanggil anda dengan sebutan yang sopan karena bagaimana pun nona adalah atasan saya.”
Adam mengangguk sopan dan berjalan keluar menunjukan Salsa ruangan kerja tuan besar.
Adam mempersilahkan Salsa masuk tetapi dirinya tidak dapat memasuki ruangan sebab ia hanya ditugaskan mengantar Salsa sampai depan ruangan dan kembali mengerjakan pekerjaannya.
Salsa mengucapkan rasa terima kasihnya meskipun selebihnya dia harus melanjutkan perjuangan sendirian.
Pelan-pelan ia berjalan layaknya penyusup, matanya mulai berpencar mencari apa yang harus ia lakukan.
Semua sudah bersih dan rapih, terus gue mesti gimana?
Pelan-pelan ia berjalan menuju meja kerja atasannya, hanya tergeletak sebuah figura. Salsa yang hendak mengambil figura itu tangannya harus terhenti karena cengkeraman seseorang yang sangat kuat berusaha menahan apa yang akan dirinya lakukan.
“Jangan sentuh!” Suara laki-laki dengan suara beratnya seakan mencekik leher.
“Iyy..iyy..iyyy..” Sambil meringis bercampur gugup Salsa mencoba untuk melanjutkan beberapa kalimat yang ikut tercekat.
Aduhhh, udah datang gak assalamualaikum pake acara cengkerem tangan gue segala, dasar boss stupid.
“Minta maaf!”
Apa maksudnya sih dia, dia minta maaf gitu yah.
“Iya pak saya maafkan.” Dengan percaya dirinya Salsa menjawab.
“Cih, kamu yang seharusnya minta maaf kepada saya sudah seenaknya menyentuh barang-barang milik saya. Memang ada yang mengizinkanmu untuk menyentuhnya?” Laki-laki itu terlihat sungguh marah. Dengan berat hati Salsa meminta maaf kepada laki-laki yang kini ada didepannya.
Yaelah padahal hanya sebuah figura, apalagi jika hatinya yang dipegang sama perempuan? Ehh
“Mau sampai kapan kamu berdiri kaya patung didepan sana. Cepat kamu siap-siap kita akan keluar bertemu dengan client sampai sore. Kamu sudah dapat jadwalkan dari Adam?”
Salsa hanya mengangguk dan menyiapkan beberapa berkas dan keperluan lainnya yang akan ia bawa. Satu mobil dengan atasannya sungguh membuat bangun sekujur bulu roma. Atasannya sangat galak, jauh sekali dari ekspetasi yang sudah ia bayangkan.
Di sepanjang perjalanan Salsa hanya memalingkan wajahnya ke jendela melihat ke arah pemandangan luar. Pasalnya mata miliknya itu tidak bisa diam hingga mata mereka bertemu pandang, bukan bertemu tapi bertabrak pandang dengan sorot mata tajam milik atasannya. Salsa seperti mengenal netra itu. Netra coklat itu ia seperti sangat tahu dan tidak asing dengan si pemiliknya tapi otaknya sudah berhenti mengingat.
Sampai sudah menuju sebuah gedung perkantoran yang tidak kalah luas dengan kantor milik atasannya tersebut.
__ADS_1
“Bawa nih! Jadi perempuan jangan lemah.”
Salsa rasanya ingin berlari dan menangis, baru hari pertama kerja mengapa rasanya ia seperti masuk ke sebuah kandang singa.
Salsa mencoba mensejajari langkah atasannya yang berjalan super kilat.
“Bruughht.”
Salsa terjatuh bersama barang-barang yang ia bawa. Lututnya sungguh sakit sekali. Tapi ia tidak menghiraukan rasa sakit dilututnya yang tidak seberapa dibanding dengan rasa malu.
Salsa masih terdiam, diliriknya atasan galak yang melihat dirinya sungguh sangat sangar.
Perlahan Salsa berdiri mencoba merapikan pakaian serta beberapa berkas yang berhamburan.
Duh, ini boss bukannya bantuin kek, paling enggak suruh pengawalnya ini cuma pada ngeliatin gak ada simpatinya sama sekali.
Laki-laki itu melanjutkan langkah kakinya dengan sangat angkuh meninggalkan gadis ceroboh yang masih berusaha menggapai beberapa kertas yang mulai nakal berterbangan.
Ruangan pertemuan sudah terlihat sangat ramai ada banyak orang penting disana, Salsa berusaha kembali untuk setenang mungkin masuk kedalam ruangan yang ditunjukan oleh para pengawal sialan.
Pertemuan dimulai tugas Salsa hanya menyimak dan memberikan berkas yang diminta oleh atasannya. Fokus mata Salsa kembali pada netra coklat yang teduh.
Siapakah dia sebenarnya? Mengapa aku merasa begitu dekat.
Pertemuan pertama telah usai kembali dilanjutkan setelah jam makan siang hingga menjelang senja.
Hari pertama bekerja mungkin sangat tidak baik untuk Salsa, sudah jatuh tertimpa tangga pula. Tetapi itu tidak berlaku untuk laki-laki yang bernetra coklat. Bahagia karena permainannya akan segera dimulai.
*****
Pria bernetra coklat berjalan dengan langkah cepat setelah beberapa saat lalu berpapasan dengan Adam yang mengatakan bahwa sekretaris barunya telah memasuki ruangan kerja miliknya.
Celaka.
Pria itu berlari meninggalkan Adam dengan penuh tanda tanya. Bodohnya dia baru teringat bahwa ada figura rahasia yang siapapun tidak boleh melihatnya masih tergeletak diatas meja.
Semoga wanita itu tidak melihat.
Kedatangannya yang tiba-tiba hampir saja membuat wanita yang dihadapannya jantungan. Pria itu datang di waktu yang tepat sebelum gadis dengan rambut bercepol itu melihat foto siapa yang ada dibalik figura.
Untung saja.
Pria itu segera menyimpan kembali figura yang nampak tua kedalam sebuah kotak lalu menguncinya disana.
__ADS_1