
Gio keluar dari ruangan dan kembali terduduk pada baris kursi di ruangan tunggu.
Tak ditemuinya si pecundang yang telah dihajarnya habis-habisan, rasa dendam Gio masih belum tuntas terhadap Reza.
Baguslah jika dia pergi dan sadar diri!
Ada banyak orang di ruang tunggu ini, masing-masing sedang menunggu kabar baik dari anggota keluarga mereka yang sakit. Gio yang tengah asyik melihat layar ponselnya tak menyadari seorang ibu yang berusia renta tengah terduduk disebelahnya. Rasa rindu terhadap ibunya tiba-tiba saja menyelimuti. Pengawal yang memandang air muka Gio berubah seperti tahu apa yang sedang tuan besarnya rasa.
Baru selangkah akan mendekat tangan Gio terangkat ke udara seperti simbol agar pengawalnya kembali mundur ketempatnya semula.
Setelah kepergian ibunya, Gio seperti membenci dan enggan berdekatan dengan seorang wanita. Bukan karena alergi mungkin karena pengaruh dari rasa sakit hati dan dendam dihatinya yang tak pernah surut.
Itu sebabnya dia tak banyak mempekerjakan seorang wanita sebagai pelayan bahkan sebagai staf di perusahaannya sekalipun. Jika saja Salsa tahu bahwa dirinya adalah salah satu dari seorang wanita yang beruntung itu mungkin dirinya akan memberondong Gio dengan pertanyaan yang tak akan pernah memiliki jawaban.
Salsa adalah perempuan pertama yang menjadi sekretarisnya karena sebelumnya Gio tak pernah memiliki sekretaris, begitulah Gio dirinya tak mudah untuk percaya bahkan selalu berhati-hati dalam mengambil langkah.
Siapa yang tahu di balik sikapnya yang penuh kewaspadaan, Gio memiliki sejumput luka dan pengkhianatan yang membuatnya selalu menjaga jarak tak perduli siapapun mereka termasuk yang mengaku keluarga.
Malam telah tiba. Gio sama sekali tak bergeming dari tempatnya. Tak disangka ibu tua yang disebelahnya menyodorkan sebuah kantong yang berisi sebungkus nasi.
__ADS_1
“Makanlah!, nak! Ibu perhatikan kamu belum makan dan minum sedari tadi,” ucapnya. Menyusul memberikan Gio sebotol air mineral.
Dengan ragu Gio menerima kantong plastik berisi nasi dan air mineral yang telah disodorkan.
“Terima kasih, Bu.” Ada rasa sedih ketika dirinya mengucapkan kata ibu, entah sudah berapa lama dirinya tak menyebutkan kata itu. Kini Gio baru menyadari bahwa dirinya benar-benar rindu terhadap ibunya, rasa benci yang awalnya tertanam perlahan menghilang terkikis oleh rindu.
Gio membuka bungkusan tersebut, nasi dengan lauk sederhana. Tak mewah tapi cukup menggugah selera.
Gio melahap masakan tersebut hingga tandas, tumis ini kembali mengingatkannya kepada sosok ibu yang tak pernah lupa masakan kesukaan putranya meski rasa tumis yang ia makan kini tak sama dengan tumis buatan sang ibu.
“Maaf yah nak, lauknya hanya alakadarnya saja.” Ibu tua itu nampak begitu senang melihat Gio memakan nasi bungkus yang diberikannya dengan lahap.
“Tidak apa Bu, saya berterima kasih ibu masih memperdulikan saya.Ibu menunggu disini sudah berapa hari dan siapa yang sakit?”
Ibu tua ini mulai menceritakan kisahnya yang tengah menunggu suaminya berjuang melawan penyakit gagal ginjal, diusianya yang sudah senja dia tak memiliki siapapun bahkan hanya untuk seorang anak. Masa tua mereka habiskan hanya berdua.
“Keluarga Bapak Sukirman di harap menemui Dokter sekarang!”
Asyik berbincang tak lama suara panggilan dari pengeras suara memenuhi ruangan, ibu yang disebelah Gio nampak tergopoh-gopoh berjalan keluar. Tak berselang lama ibu tua tersebut kembali dengan mata mengantung sendu. Dirinya membereskan barang bawaannya entah mau pergi kemana. Karena rasa penasaran melihat ibu tua itu dengan mata berkaca-kaca, Gio mulai bertanya.
__ADS_1
“Bu, ada apa? Dan mau kemana? Ini sudah larut malam.” Tanya Gio.
“Ibu mau pulang. Bapak sudah sembuh dan harus berstirahat dengan tenang. Ibu pamit pergi dahulu yah, Nak!” dengan langkah rentanya sang ibu berlalu meninggalkan Gio.
Sembuh? Secepat itukah? Beristirahat dengan tenang? Maksdunya?
Setelah menyadari maksud dari ucapan ibu tua tersebut Gio segera memaggil pengawalnya entah apa yang sedang dia intruksikan.
Satu per satu manusia pergi meninggalkan bumi. Tak peduli tua atau muda, kematian itu datangnya pasti dan tak dapat ditunda.
Gio tenggelam dalam sendunya. Tak terasa satu titik air mata terjatuh. Ingatan pilunya membasuh, dimana saat sang ayah yang sudah terlebih dahulu berpulang kehariban-Nya.
***********
Dari balik kaca yang terdapat di pintu Reza berusaha mencuri-curi pandangan melihat apa yang terjadi di dalam. Hatinya berdenyut nyeri melihat Salsa berbicara begitu akrab dengan pria lain.
Terlebih tatapan mata Gio yang terpancar dengan teduh. Bagaimana bisa Salsanya mau menerima kesalahan yang dia buat? Sementara hanya melihat adegan seperti ini rasa geram dan cemburu itu sudah mampu menguasainya. Lalu, bagaimana dengan perasaan Salsa yang harus melihat setiap adegan calon suaminya bercinta dengan wanita lain?
Dunia memang sedang tak adil untuk mereka. Nasib pernikahan yang sudah didepan mata semakin tak memiliki harapan untuk dilanjutkan.
__ADS_1
Reza memutuskan pergi, baginya lebih baik tak ada dari pada hadirnya ada tapi Salsanya tak merasa butuh Reza. Mungkin saat ini Gio adalah orang yang tepat untuk menjaga Salsa bukan dirinya.
“Maafkan aku, Ca!” gumam Reza dengan lirih.