
Sore itu cuaca cukup bersahaja di negara Singapore, langit yang cukup cerah di dukung dengan keindahan kotanya cukup membuat rasa lelah Reza menghilang. Seharian dirinya sangat kusut dengan padatnya jadwal pertemuan.
Diliriknya telepon genggam sebuah nama tak asing mengirimkan chat.
“Pesta perpisahan?" Gumam Reza.
Hari ini adalah hari terakhir dirinya berada di negeri Singa, urusan bisnisnya telah selesai esok pagi ia sudah harus kembali ke Ibukota. Dua minggu dirinya sudah menyimpan rindu. Rasanya pesta yang akan diselenggarakan oleh para rekan bisnisnya tak cukup menyenangkan dari pada melakukan video call dengan gadisnya.
“Hei Za, nanti malam kamu datang?” suara April membuat lamunan Reza tentang gadisnya membuyar.
“Sepertinya tidak. Bagaimana dengan kamu?” tanya Reza.
“Kalau kamu tidak datang sepertinya aku juga tidak.” Jawab April dengan enteng.
Reza hanya menanggapi dengan senyuman.
“Bagaimana kalau nanti malam kamu mampir ke apartemenku? Aku akan memasak masakan Indo yang enak. Aku juga ajak yang lain sih yang tidak terlalu suka datang ke pesta.” Tawar April.
“Hmmm, boleh juga. Sekalian mau melihat-lihat Apartemen kamu siapa tau aku minat untuk membeli Apartemen ditempatmu tinggal.”
“Baiklah, aku pulang dulu yah karena harus siap-siap untuk masak.” April melenggang meninggalkan Reza.
__ADS_1
Pukul 07.00 malam di Apartemen April nampak beberapa tamu sudah hadir didalam. Reza baru saja tiba, dirinya sedikit terlambat.
Jamuan makan malam dimulai, tak terasa sudah pukul 09.00 malam. Selesai jamuan mereka melanjutkan dengan acara bersulang. Reza yang tak biasa meminum-minuman alkohol tidak ikut serta acara tersebut. Dirinya lebih memilih menghindar pergi ke balkon depan. Pemandangan malam kota Singapura sangat indah! Ia pasti akan kembali mengajak Salsanya untuk menikmati malam yang indah bersama di negara ini.
“Za, ini.” April menyodorkan satu gelas minuman.
“Maaf, aku tidak biasa minum-minuman beralkohol.” Reza menolak dengan halus.
“Tenang, ini non alkohol.” Terpaksa April harus berbohong kepada Reza.
Reza mengambil gelas yang April berikan tadi dan menenggaknya habis. Setengah jam berlalu satu per satu rekan bisnis mereka pamit.
“Sayang banget Za sisa segelas.” April dan Reza kembali bersulang didepan balkon. Mereka masih asyik berbincang, entah mengapa Reza merasakan pusing yang teramat mungkin karena faktor dirinya yang tak biasa minum alkohol.
“Za, kamu kenapa?” April memandang Reza dan memegangi tubuh lelaki yang mulai sedikit goyah.
“Sini aku bantu.” April memapah tubuh Reza masuk dan mendudukannya di sofa. Mata Reza terpejam tetapi dirinya masih tersadar. 15 menit berlalu tubuh Reza terasa panas.
“Panas,” racau Reza.
April menaikan suhu AC diruangan lalu membantu Reza membuka kemeja dan kaos kaki yang menempel. Reza benar-benar terlihat beringsangan.
__ADS_1
April meninggalkan Reza yang tengah berbaring, dirinya bergegas mandi membersihkan diri kerena tidak nyaman dengan aroma alkohol yang menyengat. Selesai mandi April merapihkan meja yang berserakan, April meminum sedikit soda yang masih sedikit tersisa.
April mendekati Reza yang masih tertidur dengan meracau kepanasan.
Saat ini Rezanya terlihat sexy.
Tak sengaja tangan April menyentuh bibir Reza, mata Reza sedikit terbuka dirinya tersadar ada April disampingnya.
“April?” Dengan cepat Reza menangkup bibir ranum April. April sedikit melakukan penolakan tetapi karena hasrat inginnya jauh lebih besar April mulai membuka ruang untuk Reza. Udara yang mereka rasakan memang sangat panas terbukti April mulai membuka kimono yang terpakai. April menikmati semua sentuhan dari Reza. Setengah jam adegan demi adegan berlalu dengan panas di sofa, tubuh April mulai merasakan sesuatu yang aneh entah karena sentuhan dari Reza membuat hasratnya ingin melakukan lebih dari ini.
Dengan nafas tersengal penuh gairah Reza kembali memanggil April. Sekelebat wajah Salsa muncul membuat kesadaran Reza kembali, perlahan menyadari apa yang dilakukannya telah salah.
Reza berusaha menghindari April tak disangka kini berganti April yang bergerak agresif. April merasa semua ini telah terlanjur, Reza telah melihat tubuhnya dan menikmati meski tak sampai ke arah yang lebih dalam.
Bagaimanapun Reza adalah lelaki normal serangan dari April membuat pertahanannya goyah. Reza mengangkat tubuh April mencoba mencari ruangan yang lebih leluasa untuk mereka. Entah bagaimana semuanya berawal yang pasti Reza telah terperangkap dalam nafsunya. Kini dua insan tanpa busana tengah bergelut di balik selimut.
Paginya April tak menemukan sosok Reza disampingnya. Reza telah pergi lebih dahulu meninggalkan April setelah usai bercinta semalaman selama beberapa kali. Reza melakukan semuanya dengan setengah kesadaran hanya saja dirinya terkendali lebih banyak oleh nafsu birahi.
April tertegun tak mendapati keberadaan Reza dimanapun, entah saat ini dirinya harus bahagia atau bersedih karena mahkotanya telah ia berikan pada Reza.
Bercak darah menjadi saksi hilangnya sesuatu yang berharga pada dirinya. Setiap sudut ruangan menjadi saksi bagaimana buasnya Reza semalam. Tak hanya itu tanda merah yang saling mereka tinggalkan memenuhi hampir dibagian atas tubuh mereka, semua itu tak luput hanya akan menjadi bagian dari sebuah kenangan.
__ADS_1