
Tak terasa lima hari Salsa dirawat, kondisinya semakin hari sudah berangsur pulih. Jam besuk siang ini kedua orang tua Salsa datang menjenguk. Mamah terduduk di bibir ranjang rumah sakit sementara papah asyik terduduk di sofa.
“Mah, apa mamah sudah bertemu dengan Reza?” tanya Salsa tiba-tiba.
Mamah memandangi putrinya seakan tak suka mendengar nama Reza.
“Memang ada apa?” tanya mamah kembali dengan ekspresi seramah mungkin.
“Bukannya selama ini Reza yang selalu menunggu aku diruang tunggu?”
Ucapan Salsa kali ini berhasil menghentikan aktivitas mamahnya yang sedang mengupas kulit jeruk.
Reza? Bagaimana bisa? Bahkan mamahnya tak pernah melihat Reza datang menjenguk putrinya.
Kesalah pahaman macam apalagi ini? Seperti ada sesuatu yang tidak beres.
Tak lama pintu kamar rawat Salsa terbuka. Sosok yang baru saja mereka bicarakan kini sedang berdiri di ambang pintu.
Reza berjalan menyalami papah dan mamah Salsa bergantian.
“Bagaimana kabarmu dan keluarga Reza?” tanya papah untuk menghilangkan rasa canggung di antara mereka.
“Baik pah. Pah, kedatangan Reza kesini selain untuk menjenguk Salsa ada hal penting juga yang akan aku bicarakan kepada kalian.” Reza mengatur nafasnya, dilihatnya bola mata Salsa yang mulai sedikit memerah.
“Bicaralah. Apa yang ingin engkau bicarakan?” papah memasang lebar telinganya dan melapangkan hatinya untuk mencoba mendengar dan menerima semua penjelasan dari Reza.
Benar saja, Reza mulai terbuka dan jujur akan masalah yang sedang menimpa hubungannya. Rasa sesak menjadi-jadi, Reza tak perduli apakah Salsa akan semakin membencinya tapi kebenaran harus segera ia ungkap. Kesalahan itu semata-mata bukan hanya kesalahan Reza tetapi April pun sama bersalahnya. Bukan Reza tak ingin bertanggung jawab tetapi Reza telah mantap memilih Salsa dan hanya Salsa kelak yang akan menjadi istrinya.
Dengan segala kerendahan hati Reza memohon kepada Salsa agar pernikahan mereka tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Diliriknya Salsa berulang kali tetapi bibirnya masih tak bergeming tak ada kata penolakan atau apapun semua serba menggantung.
Mamah dan papah menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Salsa karena itu semua menyangkut hidup dan masa depan mereka berdua tentu Salsa lebih tau jalan mana yang terbaik.
“A—aku memafkanmu Ja dan pernikahan kita akan tetap berlanjut.” Ucapnya.
__ADS_1
Dengan berat hati Salsa memutuskan untuk melanjutkan kembali pernikahan yang akan mereka gelar minggu depan. Waktu mereka hanya tersisa kurang dari seminggu untuk menyebar luaskan undangan pernikahan meskipun untuk acara yang lain sudah berhasil Reza atasi sebelumnya.
Semua dilakukan Reza sebab Reza yakin Salsa tak akan mudah membatalkan pernikahan, terlebih perasaan cinta Salsa tak akan pernah berhasil untuk mengubahnya menjadi benci kepada Reza walau hanya seujung kuku.
Jam besuk telah berakhir, mereka keluar pergi meninggalkan Salsa sendirian lagi. Salsa kembali hanyut dalam pikirannya. Harapannya saat ini semoga dirinya tak salah mengambil langkah.
Setiap sore Gio selalu rutin datang untuk menjenguk Salsa meskipun dia tak masuk ke dalam ruangan. Sam dan Anna tengah terduduk diruang tunggu menunggu kedatangan Gio. Mereka berdua bermaksud untuk mengajak Gio menemui Salsa.
“Hei bro, bagaimana kabarnya?” Sam memeluk erat tubuh teman lamanya.
“Baik. Kalian kenapa belum masuk?” tanya Gio.
“Kami menunggumu.” Ucap Sam sambil menarik lengan Gio untuk ikut bersamanya.
Ada Gio, sepertinya kehadiran Anna dilupakan oleh Sam.
Anna mengekori dua pria ini dibelakang. Mereka memasuki ruangan dimana Salsa tengah beristirahat. Salsa merasa bahagia akhirnya setelah beberapa lama abang dan sahabatnya muncul bersama.
Gio tak berekspresi apapun tapi jauh didalam lubuk hatinya ia merasa bahagia karena kondisi Salsa yang kembali ceria.
“Kalian sudah jadian?” Salsa bertanya dengan suara yang cukup keras.
Hah, kalian berdua benar-benar membuat bingung.
“Jadi yang benar sudah atau belum?” tanya Salsa memastikan.
Kini keduanya hanya saling membisu tak menjawab nampaknya lebih baik, jika dijawab hanya membuat sakit hati satu sama lain.
Salsa mengalihkan pembicaraan, dengan antusias gadis bermata minimalis itu menceritakan apa yang Rezanya telah lakukan dan keputusan yang sudah ia ambil.
Salsa tak menyadari bahwa saat ini ada satu hati yang mencoba untuk tidak kecewa.
Jam besuk kedua dihabiskan oleh dua wanita untuk saling bergosip sementara dua pria hanya menjadi pendengar setia. Gio benar-benar merasa salah tempat. Menunggu di ruang tunggu jauh lebih baik daripada berada disamping Salsa.
Tak dapat ia pungkiri hatinya sedikit kecewa bukan karena Salsa memilih kembali bersama Reza tapi ia sedang memikirkan bagaimana dengan nasib April kedepan. Cepat atau lambat gosip ini pasti akan menyebar sebab masih belum diketahui siapa pelaku dibalik ini semua jadi kemungkinan besar penyebaran akan kembali ia lakukan.
__ADS_1
Usai sudah jam besuk Sam dan Anna memilih meninggalkan Rumah Sakit tetapi tidak dengan Gio. Seperti hari-hari kemarin Gio masih menunggu Salsa diruang tunggu.
Pemeriksaan terakhir Salsabila, semua sudah kembali normal dan membaik dirinya sudah dapt kembali kerumah esok.
Betapa bahagianya mendengar ucapan dari perawat yang setia menemani dan memeriksa dirinya.
Salsa memanggil perawat yang setiap malam memberikan selimut kepada Reza alias Gio.
Kali ini Salsa meminta Perawat tersebut mengantar selimut dan dirinya juga menuju ruang tunggu.
“Ayolah Sus, antarkan saya juga yah? besok kan saya sudah pulang.”pintanya.
Dengan segala pertimbangan akhirnya Perawat bersedia mendorong kursi roda dan membawa pasiennya menuju ruang tunggu.
Sesampainya di ruang tunggu seperti biasa, perawat tersebut masuk kedalam memberikan selimut kepada sang penerima setiap malam.
***********
Tubuhnya terasa kaku dimana yang ia lihat adalah sosok Gio yang terlihat dengan sangat senang hati menerima selimut pemberian Salsa.
Apa dia sudah gila? Jadi selama ini?
Ingin rasanya ia berlari melabrak Gio, bertanya maksud dari dirinya yang mengaku-ngaku Reza. Kecurigaan Salsa ternyata terbukti.
Salsa memperhatikan Reza, dirinya terlihat segar bugar tak seperti orang yang terlihat lelah karena semalaman tak bisa tidur dengan lelap karena menunggunya.
Apa mungkin? Salsa mencoba menepis pemikiran terburuknya. Ia yakin Reza pasti dapat cukup beristirahat berkat sebuah selimut.
“Ja, terima kasih yah sudah mau menungguku setiap malam.” Ungkap Salsa dengan tulus.
Reza hanya mengangguk dengan senyum yang ia sendiri tak dapat mengerti.
Kenapa dia tidak berterima kasih soal selimut? Salsa merasa Reza seperti melupakan satu topik yang seharusnya menjadi topik yang paling menarik.
Tak ada pilihan lain Salsa mencoba melupakan dan menepis kejanggalan yang mulai menguap. Walau kejanggalan itu kembali muncul saat Gio datang dengan tampilan rapih tetapi dengan raut wajah lelah dan kantung mata yang menghitam menandakan dirinya kurang tidur.
__ADS_1
Apa mungkin?
Lagi-lagi Salsa hanya dapat menduga dan memutuskan untuk mengetahui secara langsung dimalam terakhirnya.