
Kejadian semalam adalah moment terindah sepanjang hidupnya Salsa.
Banyak waktu yang ia sudah lalui bersama Rezanya.
Suka hampir tanpa duka, Salsa hanya mengenal tawa bahkan kemarin dia merasa terluka karena rindunya kepada Reza tetapi semua terganti oleh kebahagian yang Reza berikan tiada tara.
Hanya perlu menunggu wisuda yang sudah tinggal hitungan minggu.
Lamaran resmi akan segera digelar oleh Salsa dan Reza.
Salsa dengan rona bahagia masih membekas di wajah cantiknya tidak seperti hari-hari biasa.
Gio memasuki ruangan menaikan sebelah alisnya merasakan sesuatu yang aneh terjadi pada sekretaris barunya.
Ada apa dia bernyanyi sambil membersihkan ruangan dengan semangat? Tak seperti biasa.
Salsa bahkan tak menyadari kini atasannya yang menyebalkan sudah duduk di atas sofa memperhatikan Salsa yang tengah bernyanyi sambil mengelus-ngelus meja.
“Apa sudah selesai?” Gio mulai membuka suara dengan wajah datar seperti hari-hari lalu.
Cih, bahkan kerjaanya hanya mengganggu kesenangan orang lain. Salsa bergumam dalam hati.
“Sepertinya kau terlihat sangat senang. Apa kau baru saja memenangkan undian lotre?” Tuan Gio bertanya dengan nada penuh intimidasi.
“Tentu saja lebih dari sekedar lotre.” Salsa menjawab dengan senyum sumringah.
“Maksudmu?”
“Kenapa tuan sangat ingin tahu sekali tentang hidupku?”
Salsa mulai menimpali dengan penuh nada sebal. Dia tidak menyangka bahwa atasannya selain galak ternyata juga kepo.
“Cih, mau ku hukum lagi kau wanita cengeng? Sebentar!” Tuan Gio mendekati Salsa meraih kalung yang tergantung dileher milik Salsa.
“Kalung macam itu yang kau pakai? Sungguh sangat tidak pantas dipakai olehmu.”
Tuan Gio menatap lekat kalung dengan bandul cincin yang sengaja dipamerkan oleh Salsa diluar kemeja.
Tau apa kau soal perhiasaan tuan. Bukankah temanmu hanya pulpen dan kertas?
Ingin sekali Salsa memaki atasannya yang berani menghina pemberian dari calon suaminya.
“Ini adalah pemberian dari calon suami saya. Dia melamarku di ping-“ Belum juga Salsa menyelesaikan ceritanya terdengar suara menggelegar dari tuannya.
“Cukup!” Bentak tuan Gio.
“Pergi!”
Gio hanya menatap lurus, ekspresi datarnya kini berubah menjadi semburat merah.
Salsa menuruti perintah atasannya yang mendadak menjadi tidak bersahabat lagi.
Ini orang kenapa sih? Tau-tau marah, mungkin dia iri karena dia masih jomblo seperti Anna.
Diruangan Salsa.
__ADS_1
Salsa masih sibuk mempersiapkan beberapa berkas dan peralatan yang akan dia bawa untuk pergi bertemu clientnya siang ini. Rencana makan siang bersama Reza gagal karena Reza juga mendadak ada pertemuan. Terdengar suara ketukan pintu memanggil namanya.
“Masuk.”
Seorang laki-laki muda masuk dia adalah Adam. Adam memberitahu Salsa bahwa Tuan Gio telah menunggunya dibawah dan Salsa hanya diberikan waktu 10 menit menuju lobby.
Hadeh, mamp*s gue cuma 10 menit dikira dia ke lantai bawah tinggal loncat. Mana barang bawaan banyak banget.
Salsa menunduk lesu atasannya kembali kumat. Adam menarik lengan Salsa berusaha menyadarkan agar Salsa bisa lebih cepat berjalan. Satu hal yang Salsa lupa bahwa tuan Gio adalah orang yang tidak suka menunggu.
Akhirnya sampai juga mereka di lobby dan segera menyusul tuan Gio yang lebih dulu menaiki mobil.
“Laambat.”
“Ma-maaf tuan.” Salsa hanya dapat meminta maaf dari pada segala urusan menjadi semakin runyam.
MJ Company adalah gedung yang kini mereka kunjungi. Seperti biasa Gio berjalan lebih dulu, sementara Salsa berjalan dibelakang bersama kedua pengawal.
Beberapa staff terlihat berlari menyambut kedatangan Gio dan membukakan pintu sebuah ruangan untuk Gio.
Salsa terkejut ketika memasuki ruangan terlihat seorang wanita muda bersama laki-laki yang tentu saja sangat ia kenal tengah duduk dan tak kalah terkejut menyambut kedatangan mereka.
“Kakak, kenapa kau tak memberiku kabar terlebih dahulu?” April mempersilahkan laki-laki yang dipanggilnya kakak.
What kakak? Ada hubungan apa perempuan itu dengan tuan Gio?
Reza hanya membungkuk, terlihat raut wajahnya terlihat pucat dan keringat dingin keluar membasahi peluh.
Salsa berusaha untuk seprofesional mungkin karena ia tahu bagaimanapun hubungannya dengan Reza diluar dari jam kerja, saat ini mereka adalah rekan kerja.
Salsa menyalami Reza dan April secara bergantian.
April mengatakan dengan seringai yang Salsa sendiri tidak dapat mengartikan.
Reza hanya menatap Salsa yang begitu tenang, seolah tak mengenal dirinya.
“Baru beberapa minggu saya bekerja dengan tuan Gio, senang bertemu kembali denganmu nona April.”
Tahan Ca, tahan. Selow aja anggap kalian gak pernah kenal.
“Bisakah kita mulai sekarang.” Suara Reza memecah rasa canggung diantara mereka.
Visual April gaes 😊
Di kantor Algoritma Group
Salsa membanting tubuhnya di sofa yang tersedia di ruangannya. Pikirannya sungguh penat.
Rapat tadi tak ada yang nyangkut di dalam otaknya. Fokusnya terpecah kepada April dan Reza.
Salsa tak pernah menyangka bahwa Reza dan April akan menjadi rekan bisnis dari atasannya. Bukan karena Salsa tidak senang, tentu saja dia sangat senang Rezanya adalah orang yang sungguh-sungguh dalam bekerja tetapi kenapa harus bersamaan dengan wanita yang sempat membuat hubungan mereka goyah.
April adalah perempuan yang cantik, pintar dan mandiri. Berbeda jauh dengannya yang hanya seorang anak manja.
__ADS_1
Bayangan kecantikan April serta kebersamaannya bersama Reza seperti menjadi ketakutan tersendiri untuk Salsa, akan kehilangan kesetiaan dari Reza.
“Kepala gue jadi sakit beginih.”
Salsa mencoba melihat jam, pandangannya kabur dan memudar dia tergeletak tak sadarkan diri.
Salsa terbangun, aroma minyak angin begitu santer tercium oleh hidungnya, kepalanya masih berdenyut.
“Afsheena, apa kamu baik-baik saja?”
Gio membantu Salsa yang mencoba untuk bangun dari sofa.
“Saya kenapa pak? Ini sudah jam berapa?” Salsa memegangi kepalanya berusaha mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
“Bodoh, kamu pingsan sudah lebih dari tiga jam. Sebenarnya kamu pingsan atau ketiduran?”
Salsa buru-buru terbangun dari tempat tidur.
Eh, gue dimana????
Melihat Salsa tertegun Gio mulai menjelaskan bahwa Salsa pingsan dan tidak sadarkan diri sangat lama dikantor karena takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan maka Gio membawa pulang Salsa menuju kediaman Gio.
Mamp*s gue.
Salsa hanya menepuk jidat tidak terbayang bagaimana ekspresi panik dan khawatir keluarganya yang pasti sudah mencari kemana-mana keberadaan Salsa.
“Ahhhhhhh, siapa yang gantiin baju gue?” Salsa berteriak kaget karena dia baru menyadari kalau bajunya sudah berubah.
“Menurutmu?”
Arrrgghht dasar boss nyebelin.
Salsa mencari-cari jam dan tas miliknya.
Gilak, rumah segede gini jam aja gak ada.
“Sekarang sudah jam 11 malam.” Gio seperti membaca fikiran Salsa.
“Gue mau pulang, mana tas gue.”
Gio menepuk tangan memberi tanda kepada pelayan dirumah untuk membawakan apa yang Salsa cari. Salsa segera mengambil handphonenya terlihat banyak panggilan masuk disana, Salsa menghubungi Reza untuk secepatnya menjemput Salsa dirumah tuan Gio.
“Dirumah sebesar ini apakah tuan hanya tinggal sendiri?”
Salsa mulai mengeluarkan pertanyaan yang mengganjal dihatinya karena sejak tadi ia tidak melihat orang tua atau bahkan kerabat yang lain selain pelayan.
“Apa kau tidak punya mata? Lalu kau anggap apa para pelayanku yang ada?”
Salsa hanya mengerucutkan bibirnya sebal. Suara klakson mobil menandakan kedatangan seseorang.
Sepertinya Reza.
Benar saja Reza begitu tergesa-gesa memasuki rumah megah milik Gio. Mata Reza menelusuri ruangan dan dilihatnya Salsa. Reza memeluk tubuh Salsa dan menatap laki-laki didepannya dengan tatapan tak suka.
“Terma kasih pak Gio telah bersedia menyelamatkan calon Istri saya.”
__ADS_1
Reza menekankan kata clon istri agar Gio menyadari bahwa Salsa akan menjadi miliknya.
Tak ada basa-basi Reza menarik lengan Salsa keluar dari rumah megah itu. Sementara tangan Gio terkepal kuat di susul oleh rahang yang mengeras.