Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 15 (MAKAN SIANG)


__ADS_3

Sementara mereka yang sedang di sibukkan dengan kerjaan mereka, Salsapun tak kalah sibuknya di dapur bersama mamah dan Bi Inem.


Hari ini Salsa berencana masak dan ingin mengejutkan Reza dengan membawakan Reza makan siang ke kantornya.


“Mah, abis ini gimana caranya?” Salsa bertanya kepada mamahnya.


“Aduk terus Ca, sampe airnya


mendidih biar tidak menggumpal.”


Salsa terus mengaduk, dia akan membuat puding coklat dengan fla kesukaan Reza.


Salsa sudah mulai melambatkan adukannya, sebelumnya ia mengaduk dengan sangat cepat karena terlalu bersemangat. Rasa lelah yang ia rasa mendadak tak ia rasakan lagi, semua akan terbayar dengan senyuman dan pujian dari Rezanya.


Setelah Bi Inem selesai memotong sayuran dan mencucinya, Bi Inem melanjutkan mengupas bawang dan menyiapkan bumbu lainnya.


“Bi, gak usah biar Salsa saja yang mengupas bawang-bawang itu.”


Mamah melarang bi Inem untuk mengupas bawang dan menyuruh bi Inem untuk menaruh pudding yang sudah mendidih ke dalam wadah untuk dimasukkan ke dalam lemari pendingin.


“Tenang Bi, cuma ngupas bawang aja


mah aku bisa.”


Salsa menepuk dadanya. Bi Inem hanya tersenyum melihat tingkah laku anak majikannya itu.


“Yasudah cepat Ca kamu kupas abis itu dipotong tipis yah!"


Mamah kembali menyuruh Salsa untuk segera


menyelesaikan kerjaannya itu.


Salsa mulai mengupas bawang-bawang


dengan sangat hati-hati karena ia tidak mau sampai tangannya terluka. Tak lama matanya mulai terasa perih dan air mata Salsa mulai bercucuran bukan karena ia tergores oleh pisau tapi karena bawang-bawang ini sungguh membuat matanya mampu mengeluarkan air matanya.


Rasanya mengupas bawang-bawang ini lebih menyedihkan dari pada menonton

__ADS_1


drama korea. Salsa bergumam sendiri dalam hati kecilnya.


Mamah dan Bi Inem saling berpandangan melihat baju Salsa yang sudah banjir air mata.


Tak lama Anna datang berkunjung, karena ia dihubungi oleh Salsa untuk datang membantunya masak dirumah.


Setelah mengucapkan salam Anna memasuki dapur, terkejut melihat Salsa di sudut dapur  yang sedang mengusap air matanya.


Anna menghampiri mamahnya Salsa dan mulai menanyakan apa yang terjadi, kenapa Salsa menangis. Setelah mamahnya Salsa menjawab pertanyaan Anna, Anna tidak dapat menahan gelak tawanya.


Salsa yang baru menyadari bahwa ia menjadi perbincangan mereka langsung menatap dengan sorot mata sebal.


“Sabar Ca, buat calon suami harus


ikhlas ngelakuinnya. Masa Cuma ngupas bawang aja lu udah nangis.”


Anna menasihati Salsa dengan gaya sok keibu-ibuan.


“Ahh elu Ann, masih mending gue nangis karena berjuang buat masakin calon suami emangnya lu boro-boro masakin, calonnya aja enggak ada. Dasar jomblo. Hahaha”


“Duh, kenapa sih harus bawa-bawa jomblo, meskipun jomblo yang pentingkan aku bahagia sebahagia ketika melihat aktor ganteng drama korea.” Anna.


Mereka melanjutkan kembali acara masak-masak.


Pukul 11.30 Salsa pergi bersama Anna menuju kantornya Reza. Anna hanya mengantar Salsa sampai depan gedung karena ia harus pergi ketempat kursus bahasa Belanda.


Salsa memasuki gedung, beberapa karyawan menyapanya cukup banyak yang sudah mengenalinya.


Belum sampai dilantai yang dia tuju pintu lift terbuka, ia seperti melihat Reza berjalan beriringan bersama seorang wanita yang memegang lengan sebelah kiri milik Rezanya.


Deg...


“Mungkin aku salah liat.” Salsa mencoba menenangkan hatinya. Bukankah disini juga banyak karyawan laki-laki? Dan banyak yang berpostur tubuh sama dengan Rezanya.


Pintu lift kembali tertutup dan membawanya sampai dia dilantai yang dituju. Salsa menuju tempat sekretaris Reza.


“Hai Mbak Salsa.” Sapa Maya dengan ramah.

__ADS_1


“Hai juga, apa pak Rezanya ada di dalam?” Salsa mulai bertanya.


Sekretaris Reza mulai menjelaskan bahwa Reza sedang meeting dan tidak akan lama lagi akan selesai. Maya mempersilahkan Salsa untuk duduk dan menunggu atasannya.


Salsa terduduk di samping Maya, Sekretaris dari kekasihnya.


Salsa memang enggan menunggu Reza di ruangannya jika Rezanya sedang tidak ada di kantor. Salsa lebih senang menunggu di tempat Sekretarisnya bekerja karena ada teman untuk berbincang.


*****


Diruang meeting


Setelah selesai meeting pertama untuk


membahas langkah selanjutnya untuk proyek mereka nampak semua berjalan dengan lancar.


“Za.” Panggil April.


“Hmmm.” Reza yang masih membereskan dan memeriksa berkas hanya menjawab sekenanya saja tanpa mengalihkan pandangannya.


“Bagaimana kalau kita makan siang


bersama hari ini? Kamu ada janji tidak hari ini?” April mulai memberanikan dirinya untuk berbicara, karena takut Reza akan menolaknya mentah-mentah lagi seperti tadi.


Reza tidak menjawab memilih untuk


menyelesaikan pekerjaannya. Setelah beres ia menatap April.


Tatapan Reza sangat hangat kepada siapapun itu dan sebabnya lah tatapan itu sering disalah artikan oleh lawan jenisnya.


“Oke, kebetulan aku tidak ada jadwal makan siang bersama client yang lainnya.”


Reza menerima tawaran makan siang dari April dan mempersilahkan April berjalan lebih dahulu meninggalkan ruangan. Mereka berjalan beriringan karena berusaha mengimbangi langkah Reza yang sangat cepat kaki April sedikit tergelincir hingga tanpa sengaja ia memegang legan kiri milik Reza. Hampir saja dirinya terjatuh.


“Ma-af Reza aku tidak sengaja, habisnya kamu jalannya sangat cepat.” April meminta maaf karena telah memegang lengan lelaki di sampingnya. April cukup menyadari bahwa mungkin Reza tidak menyukai bersentuhan dengan orang lain atau lebih tepatnya di sentuh selain oleh gadisnya.


Reza mengangguk, menganggap hal itu hanya angin lalu dan kembali berjalan dengan santai menuju lift yang kini sudah tertutup.

__ADS_1


__ADS_2