
Beberapa hari pasca pengobatan ke psikiater kondisi Salsa sudah berangsur membaik. Selama pengobatan kemarin ia benar-benar beristirahat, tidak terlalu banyak aktifitas karena sebentar lagi ia mau sidang skripsi dan persyaratan untuk mengikuti sidang pun sudah terpenuhi jadi ia hanya perlu mempersiapkan diri untuk menjalani sidang skripsinya.
Disela-sela kesibukannya saat sedang membaca kembali materinya Salsa teringat Reza, sudah hampir sepekan ia tidak bertemu dengan kekasihnya.
“Ja, kamu apa kabar? Aku rindu.” Salsa menghembuskan nafasnya kasar.
Sehabis mengantar Salsa bertemu Dokter Bram, Reza langsung pamit pergi ke negeri seberang untuk mengurusi proyek ayahnya disana.
Ingatannya memutar kembali memori ketika Reza pamit untuk pergi meninggalkannya. Hatinya tidak rela, tapi mau bagaimana lagi Reza pergi untuk bekerja.
“Ca, aku pamit pergi yah kamu jaga diri baik-baik. Jangan kemana-mana! Kalau mau pergi minta antar pak Ali atau Anna, jangan pernah pergi sendirian.” Begitulah pesan yang disampaikan oleh Rezanya.
Salsa hanya menjawab dengan sebuah anggukan, sesungguhnya ia sangat bersedih karena dimasa seperti ini ia begitu membutuhkan Rezanya, tapi apa boleh buat Rezapun tidak bisa meninggalkan tanggung jawab begitu saja.
“Jangan nakal yah!” Salsa mengangkat jari kelingkingnya.
Reza yang sudah mengerti maksud dari pacarnya itu ikut mengangkat jari kelingkingnya dan mengaitkannya dengan jari Salsa.
“Iya, aku janji.” Reza mengusap pucuk kepala Salsa, perasaan hangat menjalar disekujur tubuh Salsa.
Triing... Triiing...
Suara gawai Salsa berdering, buru-buru ia mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo sayang, apa kabar?” Suara seorang pria menyapa dari ujung telponnya.
“Hallo juga sayang, alhamdulillah baik. Kamu bagaimana sayang kabarnya? Kapan pulang?”
“Aku pulang sekitar empat hari lagi sayang, doakan yah agar cepat selesai biar cepat pulangnya.”
“Oh, lama yah." Salsa menekuk wajahnya.
“Sabar Ca, makanya berdoa biar cepat selesai proyeknya.” Suara Reza menenangkan.
“Aku rindu.” Salsa mulai berkaca-kaca, sungguh ia sangat rindu Reza, Rezanya.
Salsa menghabiskan malamnya bersama panggilan dari Reza yang kini sedang berada di negeri seberang, baginya perbedaan benua bukan jadi penghalang untuk sekedar saling menyapa atau mengulang rindu mereka.
Alarm menunjukan pukul 04.30 pagi setelah selesai sholat subuh berjamaah, Salsa sarapan bersama kedua orang tuanya.
__ADS_1
“Bang Sam belum pulang mah? Kemana saja sih dia?” Salsa mulai menanyakan keberadaan Bang Sam.
“Kenapa? Kamu kangen sama abang kamu, Ca.”
Papah merasa aneh dengan putrinya itu biasanya dia akan sangat senang jika kakaknya itu sedang bepergian jauh karena baginya sangat bebas dan tidak ada yang usil, meskipun mereka sudah beranjak dewasa kejahilan Sam pada adiknya tidak pernah hilang.
“Kangen pah, ga ada yang jahilin Salsa.” Salsa menjawab sambil mengunyah sandwich buatan mamahnya.
“Hari ini kamu mau kemana Ca? Kamu ga kemana-mana kan?”
Mamah mulai mengeluarkan suara.
“Enggak mah, hari ini aku dirumah paling Anna nanti yang datang kesini.”
Mamah meminta putrinya untuk jaga rumah karena kedua orang tuanya sedang ada keperluan mendesak.
Tidak lama kepergian orang tuanya Salsa, Anna datang mengunjungi Salsa.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Salsa menyahut dari dalam.
“Maaf Mbak kita tidak menerima sumbangan.” Salsa mulai berlagak tidak mengenali Anna.
dirinya di sofa.
“Kenapa lu? Kusut amat kaya benang layangan.” Salsa menggoyak-goyak tubuh Anna yang sedang bersandar di sofa.
Anna mulai menceritakan keluhannya. Saat ini ia sedang menjalani kursus bahasa Belanda.
“Lu kan tau Ca, gue dari dulu itu susah banget belajar bahasa Belanda. Ayah juga kalau ngomong bahasa Belanda kalau dia lagi marah-marah aja, jadi gue mana ngerti.” Anna memejamkan matanya. Pusing!
“Kenapa tiba-tiba lu mau kursus bahasa Belanda, An?”
Anna menghembuskan nafasnya kasar, ia memang belum bercerita sepenuhnya tentang keluarganya yang akan pindah ke negeri kincir angin tersebut.
Mau tidak mau Anna harus menjelaskan kepada Salsa cerita yang sesungguhnya. Tapi hatinya belum siap karena bagaimanapun Salsa sudah seperti keluarga dari kecil hingga kini mereka berteman dengan sangat baik.
Anna hanya terdiam berusaha mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
“Nyokap kemana, Ca?” Anna mencoba mengalihkan.
“Mamah pergi ada urusan sebentar katanya.”
“Kalau bang Sam?” Pelan-pelan Anna mulai kepo dengan abangnya Salsa. Sejak kejadian di rumah sakit dia tidak lagi bertemu dengan Bang Sam.
“Hayoooo, kepo yah?” Salsa mulai meledek Anna hingga wajah Anna yang putih mulus itu berubah menjadi merah seperti udang rebus.
Asyik berbincang-bincang terdengar suara bel rumah berbunyi. Bi Inem segera membuka kan pintu.
“Siapa bi?” Salsa berteriak dari dalam. Bi Inem tidak menjawab.
“Bi...” Salsa kembali memanggil.
“Assalamualaikum.” Salam seorang lelaki.
Salsa menepuk-nepuk pipinya dan mencubitnya dengan keras. Auuuu Sakit!
“Eja? Ini bener Eja?” Salsa memeluk Rezanya girang.
“Iya sayang, ini aku Rezamu.” Reza membalas pelukan Salsa, pelukan dari gadisnya yang ia rindukan. Melepas rindu selama hampir seminggu tidak pernah bertemu. Mereka hanya saling melepas rindu via suara.
“Hmmmm... Hmmmm...” Anna mulai berdehem.
Dua sejoli yang sedang merindu sama sekali tak menghiraukan deheman itu.
“Sial, gue dikacangin.” Batin Anna.
Mereka berpelukan dengan sangat lamanya sampai pada akhirnya menyadari bahwa ada jomblo di sebelah sana yang sedang iri menatap.
“Gue gapapa ko, gapapa. Udah biasa, udah kebal, jadi tenang aja.” Anna nyengir lalu kembali manyun.
***********
Diujung jalan seorang pria menghubungi seseorang yang sedang menunggu informasinya.
“Hallo tuan, dia sudah kembali hari ini.”
“Baik tuan.” Entah apa yang dikatakan tuannya disebrang panggilannya, kemudian laki-laki itu mematikan teleponnya.
__ADS_1
Nampak seseorang sedang berdiri didepan mobil sport hitam yang terparkir didepan jalanan sebuah rumah.
“Aku tidak akan mencelakaimu, aku masih memberimu kesempatan hidup karena dia pasti akan sangat bersedih jika harus kehilanganmu.” Berbisik sambil meremas handphone yang ia genggam.