Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 27 (DESIR PASIR)


__ADS_3

Salsa belum juga dapat memejamkan matanya padahal tubuhnya


sudah sangat lelah hari ini, hari pertama bekerja sungguh menguras tenaga jiwa


dan raga.


Kilatan netra coklat masih menari-nari dipelupuk mata Salsa,


tidak mau enyah bersama bayangan tuannya. Apa aku sudah gila memikirkan


laki-laki lain? Tapi otaknya enggan menolak bayangan pria bertubuh atletis yang


nyaris sempurna.


Fikirannya kembali melayang menuju Rezanya, entah mengapa


Salsa merasa Rezanya seperti menghindari kontak dengan dirinya, sejak


kepergiannya minggu lalu dia benar-benar berubah tak seperti Reza yang biasa,


sejam saja Salsa tidak ada kabar Reza dapat mengucapkan kata rindu hingga


seribu. Entahlah saat ini Salsa tidak mau berprasangka buruk tentang Rezanya,


mungkin saja memang Rezanya perlu waktu untuk sendiri, bukankah setiap orang


memerlukan yang namanya sebuah privasi?


Kantong matanya mulai menutup tak tahu sejak kapan, yang


pasti mata minimalis miliknya mulai lelah sejak air mata yang sedikit tumpah


akibat terlalu rindu pada Rezanya.


Hari kedua dan ketiga bekerja tak ada yang berubah semua


tetap sama. Peraturan pertama Salsa harus datang sebelum atasannya datang jika


tidak habislah dia akan terkena sangsi meskipun sejauh ini dia selalu datang


tepat waktu dan lagi pula mana mungkin seorang boss datang lebih pagi dari pada


pegawai. Kegiatan Salsa selanjutnya setelah sampai kantor, Salsa harus


bersih-bersih ruangan atasannya hanya bersih-bersih yah cukup mudah baginya


tentu dikarenakan ruangan atasannya yang selalu bersih dan rapih. Salsa tahu


bahwa setiap gerak-geriknya selalu diperhatikan oleh atasannya yang menurutnya


sudah gila, seperti orang yang tidak mempunyai kesibukan saja.


Gio tersenyum menatap perempuan di layar gawainya, perempuan


itu nampak tergesa-gesa membersihkan ruangannya.


“Naikan kecepatan, aku ingin segera sampai kantor.”


Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan


Ibukota yang sedikit mulai melega.


“Dimana perempuan itu?”


Mulai dicarinya sekretaris yang baru saja keluar dari


ruangannya. Tak lama pintu terketuk yang dicari rupanya menyerahkan diri membawa


dua gelas cappucino ditangan.


Gio hanya menaikan sebelah alisnya.


“Ini satu cangkir untuk tuan.” Salsa menaruh cangkir dengan


hati-hati agar tidak tumpah.


Gio langsung menyeruput secangkir cappucino yang masih


mengebul. Lidahnya kelu bukan karena panasnya air tapi karena panas suhu


tubuhnya yang mendadak naik saat Salsa mengambil cangkir dari tangannya dan


meniupkan udara disana.


“Tuan, tuan ko bengong? Ini sudah saya dinginkan. Silahkan diminum!”


Salsa bergegas meninggalkan ruangan atasannya.


Hari ini Salsa berbaik hati kepada atasannya tentu karena


ada maunya, supaya bossnya tidak galak-galak lagi dan memperlakukannya dengan


baik.


Sebenarnya Gio termasuk orang yang baik, hanya saja mungkin


sikap angkuhnya memang sudah bawaan dari lahir.


Sore telah menyapa, hari ini Salsa dapat pulang agak awal. Salsa


menghubungi Rezanya tapi lagi-lagi nomor Rezanya masih tidak dapat dihubungi.


“Ja, kamu dimana? Aku rindu.” Hatinya mendadak bergemuruh, sesak


sekali rasanya disaat aku butuh tapi kamu seperti tidak lagi menjadi milik-ku

__ADS_1


secara utuh.


Salsa menyenderkan kepala kepada kursinya, rasanya dia jadi


enggan ingin pulang lebih awal berteman dengan setumpuk kertas rasanya lebih


menyenangkan dari pada harus menunggu satu pesan masuk dari kekasih, kekasih


entah berantah.


Gio memasuki ruangan Salsa tanpa mengetuk memandang gadis


yang matanya tengah terpejam dengan aturan nafas yang masih bergemuruh.


Mata Salsa kembali terbuka sudah tidak aneh lagi baginya melihat


atasannya yang tiba-tiba ada berdiri didepan atau dibelakangnya dengan wajah


datar seperti biasanya.


“Ayo.”


Hanya kata itu yang boss dinginnya ucapkan. Salsa masih


tidak mengerti apa yang bossnya inginkan sebenarnya, hanya berbicara satu kata


itu sungguh membuat Salsa harus memutar otak didalam kepala, sedangkan


jangankan untuk berfikir yang lain saat ini rasanya dia benar-benar sudah menyerah.


Kembali Gio berdiri didepan pintu kali ini dia hanya menatap Salsa didepan


pintu.


“Iya, iya aku tau.” Salsa berlalu mengambil tas kerjanya,


berjalan menghampiri atasannya yang sudah lebih dahulu berjalan didepannya.


Sejak awal masuk kerja Gio tidak pernah mau berjalan


beriringan bersama Salsa padahal Salsa adalah sekretaris pribadinya bukan body


guardnya.


Kali ini hanya ada mereka berdua di mobil tanpa ada supir


yang mengemudi. Atasannya nampak gagah jika terlihat seperti ini sama seperti


dirinya dan manusia normal lainnya hanya saja tetap wajah datar tanpa ekspresi


itu masih setia menggantung menutup ketampanannya.


Sepanjang perjalanan mata Salsa hanya memandang kearah luar


“Ayo turun, kita hirup udara segar disini.”


Atasannya mengajaknya pergi ke pantai, menyusuri jalan


berpasir berdua.


Salsa sedikit kesulitan berjalan karena ia pakai heels yang


cukup tinggi dan akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan high heelsnya berjalan


dengan kaki telanjang menikmati butiran pasir yang begitu lembut menyapu


bersama air laut.


Hati Salsa mulai sedikit tenang bukan berarti pikirannya


dapat menghilangkan Rezanya. Diliriknya atasannya yang masih memasang wajah


datar tanpa ekspresi tapi kali ini wajah itu terasa begitu hangat tidak seperti


hari-hari biasa.


“Dulu, ketika aku kecil dan jika aku bersedih ibuku selalu


mengajakku berjalan di pantai, memandang lautan dan melepaskan segala kekesalan


melalui bibir pantai.” Suaranya terhenti, di putar kepalanya menuju sisi kanan


dimana Salsa kini berada yang masih menatap ke arah lautan.


“Teriaklah, aku akan menutup telingaku. Lepaskan apa yang


ingin engkau ungkapkan.” Gio mengambil mini earphonenya dan memasang


ditelinganya. Salsa hanya memandang Gio yang mulai mengisyaratkan bahwa dia


sudah bisa memulainya.


Salsa berteriak kencang menyebutkan satu nama “EJAAAAAA KAMU


DIMANAAAAA? AKU RINDUUU.” Suara wanita dipinggiran pantai menggema. Gio dapat


merasakan kepedihan disetiap gema yang tercipta. Salsa kembali terdiam dadanya


berangsur pulih lebih baik dari pada sebelumnya dia melepaskan earphone yang


terpasang pada atasannya yang matanya sengaja terpejam karena tidak ingin


melihat gadis disampingnya menangis, Salsa memberi tahu lewat isyarat mata


bahwa dia sudah melakukan apa yang tadi atasannya perintah.

__ADS_1


Gio berjalan kembali menyusuri garis pantai, kali ini mereka


berjalan berdampingan tidak seperti hari biasanya dimana Salsa selalu mengikuti


dibalik punggungnya.


“Auh, sakit.” Salsa menghentikan perjalanannya kakinya terasa


sakit seperti menginjak sesuatu.


Gio refleks menundukan tubuhnya menuju sumber sakit yang


Salsa rasa, diusapnya telapak kaki Salsa dengan lembut, ada luka goresan yang


cukup dalam disana. Gio menggendong tubuh Salsa karena pasti lukanya akan


tambah lebar jika Salsa terus memaksakan untuk berjalan.


Deg..


Hati Salsa sudah tidak dapat dikondisikan lagi.  Dia dapat melihat wajah atasannya dengan


begitu jelas. Meskipun dibalut dengan ekspresi datar tapi ketampanan itu tidak


bisa hilang begitu saja.


Gio membersihkan luka Salsa, setelah membersihkan sisa-sisa


pasir yang menempel, Gio menyiram antiseptik dan membalut luka Salsa. Tentu saja


dimobil dia tidak pernah melupakan kotak P3K.


“Lumayan berat juga yah kamu. Dan jangan berfikir apapun


soal tadi karena aku gak mau kamu malah menangis karena kesakitan, lalu besok kamu


tidak masuk bekerja semakin merepotkan aku nanti.”


Tak perduli apapun alasannya, Salsa tetap berterima kasih.


“Ku fikir kamu bukan orang yang tidak tahu berterima kasih.”


Lagi-lagi Salsa ingin menarik ucapan terima kasihnya atas kebaikan atasannya.


“Sudah hampir jam 9, ayo kita pulang bukankah batas waktu


kamu sampai jam 10 malam?”


Gio memasuki mobil lalu melajukan mobilnya, mengantarkan sekretarisnya


pulang kerumah.


Salsa tertidur dijalan, Gio tak tega harus membangunkannya. Sesampainya


di depan rumah mau tidak mau dia harus membangunkannya. Dirapihkannya beberapa


anak rambut yang menutupi wajah ayu milik Salsa.


“Hei bangun, ayooo banguuuun apa kau mau menginap di dalam


mobilku.” Salsa tersentak dan buru-buru merapihkan rambutnya, lalu sesegera


mungkin turun dan meninggalkan bosnya yang berteriak dari dalam mobil “TERIMA


KASIH ATAS TUMPANGANNYA.”


Haduhhh lagi-lagi dia lupa mengatakan terima kasih, ketika


dia membalikkan badan hanya ada lambaian tangan mengusir.


 *****epilog*****


Salsa tidak dapat membohongi perasaannya malam ini, tapi


hatinya seperti berdesir. Diperjalanan menuju pulang Salsa memutuskan untuk


pura-pura tertidur saja agar ia terbebas dari rasa canggung.


Bukannya terbebas dari rasa canggung justru ada banyak


kejadian yang membuat hatinya semakin berdebar. Gio meletakkan Jasnya menutupi


bagian depan tubuh Salsa, sebelumnya Gio membenarkan posisi tidur Salsa agar ia


tetap merasa nyaman.


Sepanjang perjalanan jantung Salsa berdegup cepat tentu


karena tangan Gio yang tidak sengaja menyentuh tangannya.


Aaaaa, rasanya aku akan pingsan sungguhan.


Belum lagi ketika mobilnya yang mendadak berhenti melaju


hanya karena ingin merapikan anak rambut yang menutupi wajah Salsa.


“Dari mana tuan Gio tahu yah kalau batas gue keluar rumah


hanya sampai jam 10 malam? Dan ini kenapa dia juga tahu alamat rumah gue,


bukankah sepanjang perjalanan gue pura-pura tertidur? Sudahlah akan gue


tanyakan padanya esok.” Salsa memasuki rumahnya dan mengakhiri malam ini dengan


sedikit tanda tanya.

__ADS_1


__ADS_2