
Salsa belum juga dapat memejamkan matanya padahal tubuhnya
sudah sangat lelah hari ini, hari pertama bekerja sungguh menguras tenaga jiwa
dan raga.
Kilatan netra coklat masih menari-nari dipelupuk mata Salsa,
tidak mau enyah bersama bayangan tuannya. Apa aku sudah gila memikirkan
laki-laki lain? Tapi otaknya enggan menolak bayangan pria bertubuh atletis yang
nyaris sempurna.
Fikirannya kembali melayang menuju Rezanya, entah mengapa
Salsa merasa Rezanya seperti menghindari kontak dengan dirinya, sejak
kepergiannya minggu lalu dia benar-benar berubah tak seperti Reza yang biasa,
sejam saja Salsa tidak ada kabar Reza dapat mengucapkan kata rindu hingga
seribu. Entahlah saat ini Salsa tidak mau berprasangka buruk tentang Rezanya,
mungkin saja memang Rezanya perlu waktu untuk sendiri, bukankah setiap orang
memerlukan yang namanya sebuah privasi?
Kantong matanya mulai menutup tak tahu sejak kapan, yang
pasti mata minimalis miliknya mulai lelah sejak air mata yang sedikit tumpah
akibat terlalu rindu pada Rezanya.
Hari kedua dan ketiga bekerja tak ada yang berubah semua
tetap sama. Peraturan pertama Salsa harus datang sebelum atasannya datang jika
tidak habislah dia akan terkena sangsi meskipun sejauh ini dia selalu datang
tepat waktu dan lagi pula mana mungkin seorang boss datang lebih pagi dari pada
pegawai. Kegiatan Salsa selanjutnya setelah sampai kantor, Salsa harus
bersih-bersih ruangan atasannya hanya bersih-bersih yah cukup mudah baginya
tentu dikarenakan ruangan atasannya yang selalu bersih dan rapih. Salsa tahu
bahwa setiap gerak-geriknya selalu diperhatikan oleh atasannya yang menurutnya
sudah gila, seperti orang yang tidak mempunyai kesibukan saja.
Gio tersenyum menatap perempuan di layar gawainya, perempuan
itu nampak tergesa-gesa membersihkan ruangannya.
“Naikan kecepatan, aku ingin segera sampai kantor.”
Mobilnya melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan
Ibukota yang sedikit mulai melega.
“Dimana perempuan itu?”
Mulai dicarinya sekretaris yang baru saja keluar dari
ruangannya. Tak lama pintu terketuk yang dicari rupanya menyerahkan diri membawa
dua gelas cappucino ditangan.
Gio hanya menaikan sebelah alisnya.
“Ini satu cangkir untuk tuan.” Salsa menaruh cangkir dengan
hati-hati agar tidak tumpah.
Gio langsung menyeruput secangkir cappucino yang masih
mengebul. Lidahnya kelu bukan karena panasnya air tapi karena panas suhu
tubuhnya yang mendadak naik saat Salsa mengambil cangkir dari tangannya dan
meniupkan udara disana.
“Tuan, tuan ko bengong? Ini sudah saya dinginkan. Silahkan diminum!”
Salsa bergegas meninggalkan ruangan atasannya.
Hari ini Salsa berbaik hati kepada atasannya tentu karena
ada maunya, supaya bossnya tidak galak-galak lagi dan memperlakukannya dengan
baik.
Sebenarnya Gio termasuk orang yang baik, hanya saja mungkin
sikap angkuhnya memang sudah bawaan dari lahir.
Sore telah menyapa, hari ini Salsa dapat pulang agak awal. Salsa
menghubungi Rezanya tapi lagi-lagi nomor Rezanya masih tidak dapat dihubungi.
“Ja, kamu dimana? Aku rindu.” Hatinya mendadak bergemuruh, sesak
sekali rasanya disaat aku butuh tapi kamu seperti tidak lagi menjadi milik-ku
__ADS_1
secara utuh.
Salsa menyenderkan kepala kepada kursinya, rasanya dia jadi
enggan ingin pulang lebih awal berteman dengan setumpuk kertas rasanya lebih
menyenangkan dari pada harus menunggu satu pesan masuk dari kekasih, kekasih
entah berantah.
Gio memasuki ruangan Salsa tanpa mengetuk memandang gadis
yang matanya tengah terpejam dengan aturan nafas yang masih bergemuruh.
Mata Salsa kembali terbuka sudah tidak aneh lagi baginya melihat
atasannya yang tiba-tiba ada berdiri didepan atau dibelakangnya dengan wajah
datar seperti biasanya.
“Ayo.”
Hanya kata itu yang boss dinginnya ucapkan. Salsa masih
tidak mengerti apa yang bossnya inginkan sebenarnya, hanya berbicara satu kata
itu sungguh membuat Salsa harus memutar otak didalam kepala, sedangkan
jangankan untuk berfikir yang lain saat ini rasanya dia benar-benar sudah menyerah.
Kembali Gio berdiri didepan pintu kali ini dia hanya menatap Salsa didepan
pintu.
“Iya, iya aku tau.” Salsa berlalu mengambil tas kerjanya,
berjalan menghampiri atasannya yang sudah lebih dahulu berjalan didepannya.
Sejak awal masuk kerja Gio tidak pernah mau berjalan
beriringan bersama Salsa padahal Salsa adalah sekretaris pribadinya bukan body
guardnya.
Kali ini hanya ada mereka berdua di mobil tanpa ada supir
yang mengemudi. Atasannya nampak gagah jika terlihat seperti ini sama seperti
dirinya dan manusia normal lainnya hanya saja tetap wajah datar tanpa ekspresi
itu masih setia menggantung menutup ketampanannya.
Sepanjang perjalanan mata Salsa hanya memandang kearah luar
“Ayo turun, kita hirup udara segar disini.”
Atasannya mengajaknya pergi ke pantai, menyusuri jalan
berpasir berdua.
Salsa sedikit kesulitan berjalan karena ia pakai heels yang
cukup tinggi dan akhirnya ia memutuskan untuk melepaskan high heelsnya berjalan
dengan kaki telanjang menikmati butiran pasir yang begitu lembut menyapu
bersama air laut.
Hati Salsa mulai sedikit tenang bukan berarti pikirannya
dapat menghilangkan Rezanya. Diliriknya atasannya yang masih memasang wajah
datar tanpa ekspresi tapi kali ini wajah itu terasa begitu hangat tidak seperti
hari-hari biasa.
“Dulu, ketika aku kecil dan jika aku bersedih ibuku selalu
mengajakku berjalan di pantai, memandang lautan dan melepaskan segala kekesalan
melalui bibir pantai.” Suaranya terhenti, di putar kepalanya menuju sisi kanan
dimana Salsa kini berada yang masih menatap ke arah lautan.
“Teriaklah, aku akan menutup telingaku. Lepaskan apa yang
ingin engkau ungkapkan.” Gio mengambil mini earphonenya dan memasang
ditelinganya. Salsa hanya memandang Gio yang mulai mengisyaratkan bahwa dia
sudah bisa memulainya.
Salsa berteriak kencang menyebutkan satu nama “EJAAAAAA KAMU
DIMANAAAAA? AKU RINDUUU.” Suara wanita dipinggiran pantai menggema. Gio dapat
merasakan kepedihan disetiap gema yang tercipta. Salsa kembali terdiam dadanya
berangsur pulih lebih baik dari pada sebelumnya dia melepaskan earphone yang
terpasang pada atasannya yang matanya sengaja terpejam karena tidak ingin
melihat gadis disampingnya menangis, Salsa memberi tahu lewat isyarat mata
bahwa dia sudah melakukan apa yang tadi atasannya perintah.
__ADS_1
Gio berjalan kembali menyusuri garis pantai, kali ini mereka
berjalan berdampingan tidak seperti hari biasanya dimana Salsa selalu mengikuti
dibalik punggungnya.
“Auh, sakit.” Salsa menghentikan perjalanannya kakinya terasa
sakit seperti menginjak sesuatu.
Gio refleks menundukan tubuhnya menuju sumber sakit yang
Salsa rasa, diusapnya telapak kaki Salsa dengan lembut, ada luka goresan yang
cukup dalam disana. Gio menggendong tubuh Salsa karena pasti lukanya akan
tambah lebar jika Salsa terus memaksakan untuk berjalan.
Deg..
Hati Salsa sudah tidak dapat dikondisikan lagi. Dia dapat melihat wajah atasannya dengan
begitu jelas. Meskipun dibalut dengan ekspresi datar tapi ketampanan itu tidak
bisa hilang begitu saja.
Gio membersihkan luka Salsa, setelah membersihkan sisa-sisa
pasir yang menempel, Gio menyiram antiseptik dan membalut luka Salsa. Tentu saja
dimobil dia tidak pernah melupakan kotak P3K.
“Lumayan berat juga yah kamu. Dan jangan berfikir apapun
soal tadi karena aku gak mau kamu malah menangis karena kesakitan, lalu besok kamu
tidak masuk bekerja semakin merepotkan aku nanti.”
Tak perduli apapun alasannya, Salsa tetap berterima kasih.
“Ku fikir kamu bukan orang yang tidak tahu berterima kasih.”
Lagi-lagi Salsa ingin menarik ucapan terima kasihnya atas kebaikan atasannya.
“Sudah hampir jam 9, ayo kita pulang bukankah batas waktu
kamu sampai jam 10 malam?”
Gio memasuki mobil lalu melajukan mobilnya, mengantarkan sekretarisnya
pulang kerumah.
Salsa tertidur dijalan, Gio tak tega harus membangunkannya. Sesampainya
di depan rumah mau tidak mau dia harus membangunkannya. Dirapihkannya beberapa
anak rambut yang menutupi wajah ayu milik Salsa.
“Hei bangun, ayooo banguuuun apa kau mau menginap di dalam
mobilku.” Salsa tersentak dan buru-buru merapihkan rambutnya, lalu sesegera
mungkin turun dan meninggalkan bosnya yang berteriak dari dalam mobil “TERIMA
KASIH ATAS TUMPANGANNYA.”
Haduhhh lagi-lagi dia lupa mengatakan terima kasih, ketika
dia membalikkan badan hanya ada lambaian tangan mengusir.
*****epilog*****
Salsa tidak dapat membohongi perasaannya malam ini, tapi
hatinya seperti berdesir. Diperjalanan menuju pulang Salsa memutuskan untuk
pura-pura tertidur saja agar ia terbebas dari rasa canggung.
Bukannya terbebas dari rasa canggung justru ada banyak
kejadian yang membuat hatinya semakin berdebar. Gio meletakkan Jasnya menutupi
bagian depan tubuh Salsa, sebelumnya Gio membenarkan posisi tidur Salsa agar ia
tetap merasa nyaman.
Sepanjang perjalanan jantung Salsa berdegup cepat tentu
karena tangan Gio yang tidak sengaja menyentuh tangannya.
Aaaaa, rasanya aku akan pingsan sungguhan.
Belum lagi ketika mobilnya yang mendadak berhenti melaju
hanya karena ingin merapikan anak rambut yang menutupi wajah Salsa.
“Dari mana tuan Gio tahu yah kalau batas gue keluar rumah
hanya sampai jam 10 malam? Dan ini kenapa dia juga tahu alamat rumah gue,
bukankah sepanjang perjalanan gue pura-pura tertidur? Sudahlah akan gue
tanyakan padanya esok.” Salsa memasuki rumahnya dan mengakhiri malam ini dengan
sedikit tanda tanya.
__ADS_1