
Reza harus menepati janjinya untuk tetap bertanggung jawab kepada April apapun yang terjadi nanti. Baginya pria sejati adalah yang dapat memegang teguh ucapan serta janjinya.
Seperti pagi ini ia tiba lebih awal dari April. Reza menunggu April di sebuah kursi tunggu para penumpang. Diliriknya arloji pada pergelangan tangannya berkali-kali.
Tak lama sosok yang ditunggunya terlihat dari balik kerumunan. Hari ini mereka akan pergi bersama sesuai dengan kesepakatan.
“Aku harap ayah akan menyukaimu sama seperti diriku.” Kata-kata dari April sama sekali tak menyentuh Reza.
Di sukai atau tidak bagi Reza tak masalah. Terpenting baginya adalah ia sudah berusaha memenuhi kewajibannya. Dengan langkah berat Reza meninggalkan April sendirian.
Pesawat telah mendarat di negara tujuan mereka. Beberapa orang berpostur tinggi tegap menyambangi April.
Dengan segala wibawa wanita itu menginstruksikan para pekerjanya untuk segera membawa mereka ke tempat dimana ayahnya berada.
Sepanjang perjalanan mata Reza di manjakan dengan sederet pemandangan indah. Diperjalanan menuju kediaman calon sang ayah mertua Reza tak berkomentar apapun dengan sederet tuntutan yang April berikan. Tingkah Reza tergantung dari bagaimana calon ayah mertuanya memperlakukan dia.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan yang riuh hingga sampai pada jalan-jalan yang sunyi. Reza telah menapaki kakinya pada sebuah rumah.
Tak disangka jika orang tua April yang begitu tersohor kekayaannya justru memilih untuk tinggal disebuah rumah dekat pegunungan jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Rumah kayu sederhana namun kesan mewah tetap tak tertinggal.
Bukankah ayahnya sedang menjalani pengobatan? Bagaimana bisa ia memilih untuk tinggal jauh dari pemukiman umum?
Indera penglihatan Reza berpendar. Tak satupun ditemukannya rumah lain yang berjejer di samping kanan atau kiri ditempat yang sedang ia pijak.
__ADS_1
Tempat tinggal ayah April terasa begitu asri. Suasana pegunungan semakin menambah kesejukan udara dari tempat yang juga sangat bersih itu.
Tuan Anggara menyambut kedatangan putrinya. Sudah lama sekali putri semata wayangnya itu tak pernah mengunjunginya karena sibuk menjalankan sederet bisnis ayahnya yang sedang berkembang pesat.
April menyambut pelukan hangat sang ayah. Rasa rindu kepada ayahnya tercurah. Reza hanya dapat memandang haru karena turut berbahagia melihat pertemuan antara anak dan ayah itu.
“Apakah dia adalah Reza?” tanya Tuan Anggara setelah melepaskan pelukan kepada putrinya.
Reza tersenyum berjalan ke arah Tuan Anggara dan mencium punggung tangan Tuan Anggara sopan. Setidak suka apapun Reza kepada April, Tuan Anggara tetaplah ayahnya April figur orang tua yang harus di hormati.
“Benar, saya adalah Reza.” Reza memperkenalkan dirinya. Tuan Anggara mempersilahkan Reza untuk duduk.
Ternyata memang benar jika Tuan Anggara adalah seseorang yang mempunyai sikap yang hangat seperti kebanyakan rumor yang beredar.
Reza menyeruput teh hangat di cangkir sebelum melanjutkan obrolan. Reza mengutarakan maksud kedatangannya yang tak lain ingin meminta restu untuk meminang putri semata wayangnya.
Tuan Anggara menerima dengan tangan terbuka lamaran Reza. Dia banyak berpesan agar Reza dapat menjaga putri tunggalnya dengan baik dan tak menyakitinya kelak.
Tuan Anggara sangat berharap banyak dengan kehadiran Reza di hidup April. Usia yang semakin menua membuat Tuan Anggara memutuskan untuk secepatnya meninggalkan dunia bisnis yang sudah melambungkan namanya. Mewariskan semua bisnisnya kepada April dan Reza nantinya.
***
Di halaman belakang April sedang asyik menikmati kesejukan udara di tepi kolam ikan. April mengeluarkan gawainya. Lalu, menyambungkan koneksi khusus milik rumah keluarga Anggara pada ponselnya.
__ADS_1
April membaca sederet pesan elektronik di gawainya lalu matanya tertuju pada pesan singkat dari Gio.
“Nona maaf mengganggu, Tuan Anggara memanggil anda,” ujar salah seorang pengurus rumah.
Dengan sigap April berjalan menuju tempat dimana ayahnya berada. Samar-samar April mendengar perbincangan ayahnya.
Tak salah lagi Gio pasti sudah menghubungi ayah.
“Kabar ayah semakin membaik? Bagaimana dengan kabarmu, Nak?” suara gembira Tuan Anggara menyambut panggilan dari putra angkatnya.
“Apa? Kalian sedang berbulan madu? Wah, kau ini. Apa aku bisa berbicara dengan menantuku?” ujar Tuan Anggara selanjutnya.
April menarik kembali langkahnya, menahan diri bersembunyi disebalik tembok. Reza yang semula tertunduk kini telah mendongakkan kepalanya.
Bulan madu? Benarkah mereka sedang berbulan madu? Ca, kamu dimana?
April menyeringai melihat ekspresi terkejut dari calon suaminya yang tak lain adalah mantan kekasih dari menantu yang disebut oleh Tuan Anggara.
“Hallo Nak, maafkan ayah mengganggu bulan madu kalian. Ayah hanya ingin mendengar suara menantu ayah. Pesan ayah rawat suamimu baik-baik, segera mungkin ayah pasti akan menemui kalian.” Pesan dari Tuan Anggara sedikit menyentil pikiran Reza.
Apakah Salsa sudah dapat menerima kenyataan tentang pernikahannya dengan orang lain selain Reza? Apakah nama Reza sudah sama sekali tak memiliki tempat di hati Salsa? Entahlah, semua pertanyaan Reza hanya akan mendapatkan jawaban jika ditanyakan kepada Salsa.
Reza memilih berpamit meninggalkan Tuan Anggara yang masih larut dalam bahagia.
__ADS_1
Haruskah aku meneruskan kepura-puraan ini? Hatiku begitu sakit walau hanya mendengar tanpa melihat. Reza mendekap dadanya, napasnya terasa sesak dengan rasa sakit yang tak berkesudahan.