
Reza berlari mengelilingi danau xx, berusaha mencari Salsa meskipun pada akhirnya Reza menyerah.
Reza terduduk di pinggiran danau, menyesali segala kebodohannya.
“Bodoh, bodoh, bodoh.” Reza mengutuki kebodohan dirinya.
Reza sungguh tidak menyangka bahwa Salsa akan melihat semua kejadian itu. April memeluknya dan mencium pipi kanan dan kirinya. Reza hanya berfikir mungkin April melakukan itu karena merasa pelukan dan cipika-cipiki perpisahan adalah sebuah hal yang wajar, mungkin April juga merasa sama saja seperti ketika kami masih tinggal di negeri seberang, tetapi ia lupa bahwa ini di Indonesia tentu saja berbeda budayanya.
April yang sudah mendapatkan penolakan pelukan sebelumnya dari Reza awalnya enggan melakukan, tapi apa salahnya mencobanya kembali bukan?
Pada akhirnya Reza tidak merespon ataupun menolak, itu sudah cukup menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk April. Walau Reza tidak membalas pelukannya, paling tidak rasa rindunya bisa tersalurkan dalam pelukan perpisahan yang pernah ingin ia lakukan beberapa tahun silam.
April meninggalkan gedung itu penuh suka cita, perasaan berbunga menyeruak seolah dewi fortuna sedang berpihak kepadanya.
Sementara Salsa mampu pergi dengan menahan lukanya. 3 tahun bersama Reza tanpa luka rasanya itu mustahil. Kini ia harus rasakan juga bagaimana rasa sakitnya melihat lelakinya di pelukan wanita lain.
Salsa memasuki rumahnya, matanya sembab karena sepanjang perjalan menangis dan baru mencoba berhenti ketika taxinya sudah mau sampai di halaman rumah.
Bi Inem yang membuka pintu merasakan ada yang aneh dengan Salsa yang berjalan dengan tatapan lurus tanpa isi.
Apa non Salsa kesambit yah? Eh salah kesambet maksudnya. Bi Inem
“Non, mau bibi ambilkan air?” Tawar bi Inem.
Yang ditanya hanya menggeleng tanpa suara. Masih dengan tatapan kosongnya Salsa berjalan menuju kamarnya.
Ia mengunci kamarnya khawatir Bi Inem atau mamahnya masuk tanpa mengetuk, ia tidak ingin mereka melihatnya dengan kondisi hati yang sedang kacau balau. Bebas menangis
dikamarnya, Salsa melihat deretan figura bersama Rezanya.
Untuk pertama kalinya Salsa merasa ragu dengan kesetiaan Rezanya. Bagaimana bisa ia melakukan itu semua? Sudah berapa kali? Berapa banyak wanita yang sudah melakukan seperti itu kepada Rezanya?
Pertanyaan demi pertanyaan menghantui fikirannya hingga ia merasa mual, sangat mual jika harus mengingat kembali adegan yang tadi siang dilihatnya.
Ternyata menangis membuatnya kehilangan banyak tenaga, karena kelelahan Salsapun ketiduran.
__ADS_1
Pukul 18.30 mamah mengetuk pintu kamar Salsa. Mamah nampak cemas karena putrinya tidak keluar kamar sejak ke pulangannya dari kantor Reza.
“Ca, kamu masih tidur?”
Mamah mengetuk pintunya entah sudah ke sekian kalinya.
“Ca, ayo kita turun makan malam bersama. Mamah sama papah tunggu dibawah yah.”
Belum sempat mamahnya beranjak dari tempatnya berdiri, pintu kamar Salsa terbuka.
Glekkk.
“Mah,” suara Salsa lirih memanggil.
Ia memutuskan untuk membuka pintu meskipun hanya membuka sedikit ruang tanpa menampakkan wajah sembabnya. Salsa ingin makan malam di kamar, ia meminta tolong agar Bi Inem membawakan makan malamnya ke kamar beserta segelas jus sebagai perbaikan untuk moodnya.
“Baiklah, kamu baik-baik sajakan Ca?” Mama bertanya untuk kembali memastikan.
“Iya aku cuma kecapean mah.”
Salsa mengunci kembali pintunya, diambilnya handphone yang sudah dia isi penuh baterainya.
Beberapa panggilan masuk, tapi tak ada pesan yang di harapkannya. Tentu saja Salsa berharap Reza menjelaskan semuanya lewat pesan paling tidak, tapi nihil ia tidak mendapatkan itu semua.
Dilemparnya kembali handphonenya di atas kasur setelah gagal menghubungi Anna. Ia perlu tempat curhat, brangkas isi hatinya dan siapa lagi kalau bukan Anna.
Anna masih sibuk ia harus banyak belajar untuk sidang skripsi nanti ditambah dengan belajar kursus bahasa Belanda yang rumit menurutnya (menurut author juga, hehe :D).
“Malam ini kayanya bakal bergadang deh.” Salsa mulai bermonolog lagi. Mencoba mengusir kepingan jenuh yang mulai melanda.
Karena daya matanya yang masih full dan sambil menunggu watt-nya abis Salsa mencoba mengisi kegiatan dengan belajar, mengulang lagi materi yang akan ia bawakan nanti. Tetapi apa daya berkali-kali baca otaknya masih belum mampu menangkapnya. Kepala Salsa hanya berisi Reza selingkuh! Reza tega! Rezaaaaa menyebalkan!
Reza terus berusaha menghubungi Salsa tak perduli walaupun panggilannya di abaikan oleh Salsa.
Tidak patah semangat Reza menghubungi Salsa lewat telepon rumah, beruntung mamahnya yang menerima.
__ADS_1
Reza pun mulai menceritakan tentang masalahnya dengan Salsa kepada mamahnya Salsa, semua hanya salah paham saja. Rezapun menceritakan siapa April dan bagaimana semuanya bisa terjadi hingga Salsa bisa melihat semuanya tanpa sepengetahuan Reza.
Mamah Salsa berjanji akan membantu Reza untuk berbaikan dengan Salsa dan menyarankan untuk jangan bertemu Salsa dulu malam ini.
Reza menuruti ucapan mamahnya Salsa, beruntung mamahnya Salsa masih mau mempercayainya terlebih membantunya berbaikan dengan gadisnya.
April yang masih berada diteras depan apartemennya masih menikmati pemandangan indah Ibukota pada malam hari, masih teringat kejadian hari ini bersama Reza, Reza Hermawannya.
Reza, semoga Tuhan mempersiapkan takdir
yang indah untuk kita. Meskipun aku tau kamu sudah mempunyai seseorang yang
istimewah bukankah jodoh masih bisa kita ubah?
*****
Laki-laki dengan sorot mata tajam masih memperhatikan wanita yang kini sudah berada didepan meja makan bersamanya.
Tatapannya sungguh tajam sudah seperti melihat mangsa. Yang ditatap justru merasa biasa saja, toh sudah sering juga ia menghadapi sikapnya yang seperti ini.
“Apa yang sudah kamu lakukan?” Tanya-nya tanpa ekspresi.
Yang ditanya hanya diam asyik melanjutkan makannya. Laki-laki itu mulai memandang kemballi dengan sorot mata memb*n**nya.
“Apa yang kamu lakukan?” kembali bertanya tanpa basa-basi, satu hal yang paling ia tidak sukai adalah mengulang pertanyaannya, terlebih diabaikan.
Mata cantik gadis itu mulai menatapnya lekat tentu saja ia pasti mempunyai keberanian yang super.
“Apapun yang aku lakukan itu bukan urusan kamu.”
Lelaki itu kembali memandangnya dengan sorot mata tajam, dengan tangan terkepal dibawah meja.
“Sial. Lihat saja kau nanti."
Gadis bermata indah itu kembali melanjutkan makannya , menghempaskan pertanyaan yang dirasanya sungguh tidak penting.
__ADS_1
“Ada apa dia bertanya seperti itu? Mulai kepo dia sekarang.” Bertanya dalam hatinya.