
Happy Reading 🌸 Jangan lupa like dan tinggalkan jejak kalian dikolom komentar 🤗
Terima kasih banyak atas dukungan dari kalian, sekecil apapun dukungannya sangat mempengaruhi berjalannya proses penulisan 🤗♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
“Huuaaaaaa,” mulut Salsa ternganga menatap betapa luasnya kamar tidur miliknya, selain luas kamarnya cukup rapih serta dengan desain yang menarik.
Salsa menutup dan mengunci pintu kamar dengan cepat. Dengan langkah terseok tubuh lelah Salsa mencoba menggapai kasur, Salsa segera merebahkan tubuhnya yang sudah lelah tak berdaya.
Pernikahannya hari ini sungguh menguras tenaga dan pikirannya tak hanya mengurasnya secara emosional. Baru saja Salsa memejamkan mata kini mata minimalisnya harus kembali terbuka sebab mendengar suara pintu yang seperti terbuka.
Bukannya tadi udah gue kunci?
Karena rasa penasaran Salsa membuka paksa kelopak matanya. Tubuh lelaki yang ia sangat kenal berada percis didepannya. Gio hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, ia sedang asyik mengeringkan rambut basahnya selepas mandi.
Lagi-lagi teriakan menggema dari dalam kamar pengantin baru.
“Ngapain lo disini? Cepat pergi!” Salsa melempar bantal ke arah Gio secepat kilat Gio berusaha menangkap bantal yang sudah dilemparkan oleh Salsa.
“Pergi? Kamu lupa ini rumah siapa?” dengan telak Gio membalikkan ucapan Salsa.
Astaga, iya gue lupa. Salsa menepuk jidatnya. Iya memang ini rumah Gio, tetapi apa kamar ini juga akan menjadi kamarnya Gio? Apakah dia akan satu ranjang dengan lelaki seperti Gio? Berbagi selimut setiap malam, rasanya mustahil sekali.
“Apa tidak ada kamar lain? Gue mau tidur ditempat lain, gue gak mau satu kamar sama lo!”
“Semua kamar sudah penuh untuk pelayan dan pengawal.” Jawab Gio dengan entengnya sambil memainkan handuk kecil dikepalanya.
Gio melempar handuk yang baru saja dia gunakan ke arah Salsa. Seperti sebuah perintah untuk melanjutkan aktifitasnya mengeringkan rambut Gio dan Salsa sudah tanggap akan hal itu.
__ADS_1
Masih mengenakan gaun pengantin Salsa mengeringkan rambut Gio yang sudah terduduk pada sebuah cermin rias. Untuk menghindari kesucian matanya yang sudah ternoda dengan dada telanjang Gio, Salsa mengalihkannya ke arah lain.
Mata Salsa tak sengaja menangkap sebuah mini earphone dan sebuah nintendo dirinya seperti mengenal benda-benda yang tergeletak di atas meja rias.
“Hmm, itu earphone punya lo?” tanya Salsa penasaran.
“Iya, hanya saja earphone dan benda lainnya itu sudah tak berfungsi. Kenapa?” Gio kembali bertanya kepada Salsa.
Tidak ada apa-apa, hanya saja gue ngerasa seperti gak asing dengan kedua benda itu, jawab Salsa dalam hatinya yang masih berusaha mengeringkan rambut Gio.
Salsa memilih untuk tidak menjawab dan mengalihkan topik pembicaraan yang lain. Salsa tak ingin rasa penasarannya justru akan membawa dirinya pada hal-hal yang menyusahkannya kelak.
Kau pasti mengenal dan mengingatnya, Afshenna.
“Apa orang sekaya lo gak punya alat pengering rambut? Dan harus secara manual mengeringkannya?” Tangan Salsa sudah mulai lelah sepertinya. Jari Gio hanya menunjuk ke arah sebuah laci dimana alat yang dimaksud Salsa tersimpan rapih.
Salsa kembali mengerucutkan bibir sebal, kenapa tidak dari tadi Gio memberitahunya kan jadi menghemat waktu. Setelah rambut Gio benar-benar kering, Gio mengusirnya untuk segera pergi mandi.
“Mandi! Kenapa kau masih disini? Aku ingin pakai baju atau kau ingin memakaikan aku baju?” Kata-kata Gio membuat Salsa tersentak.
Salsa sedang bingung dimana kamar mandi untuknya berada? Masa dia harus memakai kamar mandi yang sama dengan Gio. Gio sudah mengerti kebingungan Salsa mencari letak kamar mandi miliknya.
“Disana! Buka saja pintunya, didalamnya ada kamar mandi pribadi untukmu.”
Salsa menengok ke arah sumber suara bergantian memandang pintu yang dimaksud oleh Gio.
Apakah kau tidak waras Tuan Gio? Itukan pintu lemari pakaian?
__ADS_1
Gio berjalan mendekati pintu yang ia maksud dan membukanya. Ternyata lemari itu bukanlah lemari biasa. Disana sudah tersimpan beberapa pakaian milik Salsa entah kapan Gio memindahkannya, ada meja rias lengkap dengan peralatan make-upnya yang sudah tertata.
“Aku tidak tahu bagaimana selera perempuan, tapi semoga saja kau suka ruangan ini yang aku buat khusus untuk dirimu. Cepat mandi!” Gio membalikkan tubuh dan menutup pintunya.
Dibalik sisi menyebalkan seorang Gio ternyata masih ada sisi perhatiannya juga begitulah pikiran Salsa menilai. Tapi Salsa tak ingin begitu saja berbaik hati hanya karena sebuah ruangan khusus yang ia ciptakan untuk Salsa pasti ada maksud lain dibalik semua kebaikan yang ia lakukan dan tentu saja harus ada imbalan.
Tubuh Salsa sudah kembali segar terkena guyuran air. Dirinya sudah wangi dan memakai piyama bersiap akan tidur atau justru memulai malam pertama.
Salsa bergegas menaiki ranjang dimana tubuh Gio juga sudah terbaring disana. Malam ini mendadak menjadi malam yang menyeramkan untuk Salsa, melihat Gio yang sudah berbaring membuat pikiran kotor menari-nari dalam benak Salsa. Dengan hati-hati Salsa mendekati bibir ranjang.
“Afsheena,” panggil Gio membuat Salsa semakin merasa berdebar.
“Iyy—iyya,” jawab Salsa gugup.
Gio tiba-tiba saja membuka pakaiannya. Dada bidangnya kembali terlihat jelas dimata Salsa.
Dia mau apa? Salsa menutup kedua matanya dengan telapak tangan.
“Gue belum siap, belum siap.” Salsa meracau dengan suara parau, dia benar-benar akan menangis jika Gio menyentuh tubuhnya malam ini.
“Kau kenapa? Aku ingin kau membayar rasa terima kasihmu dengan memijat tubuhku malam ini. Aku sangat lelah,” ujar Gio yang sudah berbaring dengan posisi tertelungkup.
Perlahan Salsa membuka matanya dan memijat tubuh Gio perlahan. Pikiran kotornya sudah kemana-mana sehingga membuat Salsa parno.
“Afsheena, mulai detik ini bersikap dan berbicaralah dengan baik kepadaku. Kalau tidak?” ucapan Gio terhenti beberapa saat.
“Kalau tidak kau akan tanggung akibatnya!” lanjut Gio dengan kata-kata sedikit berisi ancaman.
__ADS_1