Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 56 (TUGAS KEDUA)


__ADS_3

Salsa berdecih, mengapa juga ia harus mematuhi ucapan dari Gio? Pernikahan dengannya tak lebih hanyalah sebuah status untuk menyelamatkan bisnis serta nama baik keluarga Joni. Sama sekali tak berimbas apapun kepada bisnis serta nama baik keluarga Wijaya.


Salsa memijat tubuh Gio hingga yang di pijat merasa keenakan dan tertidur pulas.


“Eh, apa dia sudah tertidur?” Salsa melirik Gio yang sudah terlelap di alam mimpi.


Jika di lihat dengan jelas wajah Gio memang sangat tidak asing baginya. Salsa memikirkan kapan ia pernah bertemu dengan Gio. Namun memorinya masih bekerja sangat lambat untuk kembali mengingat.


Mungkinkah Gio adalah sesuatu yang dirinya lupakan? Tetapi Salsa merasa dirinya tak pernah mengenal Gio. Salsa ikut terbaring di samping Gio. Mau tidakk mau tak ada pilihan lain ia harus tidur disamping suaminya.


Hari masih begitu gelap. Matahari belum juga mengeluarkan sinar. Salsa sudah terbangun untuk melakukan kewajiban. Subuh ini Gio masih belum terbangun.


Selesai membersihkan diri Salsa mencoba membangunkan tubuh Gio, menggoyahkannya beberapa kali namun Gio tetap tak bergeming dari atas kasur.


“Gio, hey.. Gio.. ayo bangun, sholat oy sholat. Apa mau gue sholatin?” Salsa berteriak di telinga Gio.


Sudah habis kesabarannya untuk membangunkan Gio. Tak disangka bukannya terbangun Gio justru memeluk tubuh Salsa dan membawanya kembali ke atas kasur dalam pelukannya.


“Aaaa, manusia gak ada akhlak.” Salsa terus berontak dalam pelukan Gio. Berontaknya Salsa membuahkan hasil dengan berat hati Gio melepaskan dirinya.


“Sana, sholat sendiri saja. Aku tidak.” Jawab Gio terbangun dan meninggalkan Salsa menuju kamar mandi.

__ADS_1


Dia kenapa? Diajak ibadah ko nolak? Ah, dasar manusia satu ini.


Salsa segera melanjutkan aktifitas ibadahnya yang tertunda sebelum waktunya habis. Salsa memanjatkan doa dengan khusyuk.


Harapannya setelah menikah ia akan menunaikan ibadah bersama imam dikeluarganya namun justru ia harus beribadah seorang diri.


Gio telah selesai mandi. Masih melihat istrinya yang tengah khusyuk memanjat doa, Gio memandangnya dengan tatapan takjub.


Dia harus berterima kasih kepada papah Salsa yang sudah sangat baik mendidik istrinya. Salsa telah selesai sholat dilihatnya Gio tengah memandang ke arahnya.


Salsa terdiam memikirkan apakah ia harus mencium tangan Gio seperti suami istri lainnya ketika selesai sholat? Bagaimanapun Gio sudah menjadi suami yang harus dia patuhi.


Gio mengulurkan tangan kanannya, seperti sudah membaca isi pikiran Salsa. Salsa justru menepis tangan Gio membuat lelaki itu membulatkan matanya tak percaya.


Istri durhaka macam apa? Dasar suami gak punya akhlak.


Salsa mengambil tangan kanan Gio dan mencium punggung tangannya. Apa yang Salsa lakukan membuat Gio terkejut tetapi senang juga. Belum pernah ada wanita yang mencium punggung tangan miliknya.


“Gak usah GR, gue cuma gak mau dibilang jadi istri durhaka. Itu sama aja merusak citra gue,” tutur Salsa secara terang-terangan. Gio tak perduli dengan ucapan Salsa apapun alasannya Salsa bertindak demikian cukup membuat suasana hati Gio senang.


“Ambilkan aku baju!” titah Gio.

__ADS_1


Salsa mengambilkan baju yang diperintahkannya dalam lemari pakaian milik Gio. Di dalam almari tersusun sangat rapih baju-baju milik Gio. Salsa memilihkan satu stel jas berwarna navy dan memberikannya kepada Gio.


“Pakai ini!” Salsa melemparkan satu stel pakaian yang sudah ia pilihkan.


“Aku tidak mau, ganti yang lain!” Gio menggelengkan kepalanya. Salsa mencoba kembali memilihkan pakaian yang sesuai dengan Gio. Satu stel pakaian berwarna abu.


“Tidak mau,” ujar Gio kembali menggelengkan kepala. Salsa tak berputus asa ia kembali mencarikan yang sesuai untuk Gio.


Ini adalah tugas keduanya sebagai istri Gio memilihkan pakaian yang cocok untuknya setelah tugas pertamanya semalam memijat tubuh Gio. Ternyata memilihkan Gio pakaian lebih sulit dari pada memijatnya hingga terlelap.


Warna hitam, biru, putih berbagai warna semua sudah Salsa keluarkan. Namun tak satupun yang cocok menurut Gio dengan berbagai alasan bosan pakai, bajunya jelek, seleranya Salsa kampungan dan masih banyak lagi.


“Ayo cepat sedikit atau aku akan terlambat bekerja!” ucap Gio santai membuat Salsa kesal adalah kesenangan tersendiri baginya.


“Sudahlah, kau pilih saja sendiri. Mau pakai yang mana?” Salsa sudah menyerah tak mengerti dengan keinginan Gio. Jika wanita banyak maunya ternyata laki-laki justru yang banyak maunya dan sangat merepotkan.


“Aku mau pakai yang ini.” Gio menunjuk satu stel pakaian berwarna navy.


Itukan pakaian yang pertama kali gue pilihkan? Menyebalkan sekali. Kalau mau pakai yang ini harusnya gak perlu susah payah bongkar pakaian hingga berantakan.


Salsa mengerucutkan bibir. Gio benar-benar menguji kesabarannya. Kamar pengantin baru yang seharusnya rapih dan wangi malah lebih mirip dengan keadaan kapal pecah.

__ADS_1


“Tolong bantu aku pakaikan baju ini!” Gio menyodorkan satu stel pakaian yang tadi ia pilih kepada Salsa.


Apa? Aku pakaikan dia baju? Benar-benar menyebalkan dan tidak tahu malu, Gio sialan.


__ADS_2