
Hubungan keluarga Wijaya dan keluarga Joni terlihat semakin erat. Sesekali keluarga mereka sering melakukan perjamuan makan malam atau pergi berlibur bersama.
Keluarga Joni sangat menghormati keluarga Wijaya karena status sosial yang mereka miliki cukup tinggi walaupun seperti itu keluarga Wijaya tetap terlihat rendah hati.
Sebaliknya, keluarga Wijaya pun sangat mengagumi keluarga Joni karena kesederhanaanya dan tentu karena keluarga Joni cukup hangat kepada banyak orang.
Liburan kelulusan sekolah telah tiba setelah selesai dengan urusan pendaftaran sekolah lanjutan untuk anak-anak mereka, orang tua mereka memutuskan untuk berlibur bersama.
Tujuannya pergi ke sebuah Pulau XX untuk mengunjungi beberapa Resort milik dari keluarga Wijaya, keluarga Joni dengan sangat senang hati menyambut tawaran tersebut.
“Sayang, apa kalian sudah siap?” Mamah bertanya kepada kedua anaknya.
“Sam sudah siap mah, Salsa belum nih.” Sam menjawab.
“Yaudah tolong dibantu yah Bang adiknya, nanti Bi Inem yang akan bawa kopernya kalian ke mobil.”
Keluarga itu bersiap mengecek kembali beberapa perlengkapan yang akan mereka bawa untuk berlibur selama seminggu ke depan.
Anak-anak terlihat sangat senang terkecuali Arsen. Salsa menatap aneh Arsen karena ia merasa takut dengan Arsen yang wajahnya selalu kelihatan datar dan tidak punya ekspresi, berbeda dengan Abangnya Sam serta Kak Damar.
Dipesawat pribadi milik Keluarga Wijaya, Damar duduk bersama Bang Sam. Sementara Salsa kecil duduk bersama Arsen.
Lebih baik duduk bersama anak kecil cengeng itu dari pada harus duduk bersama dengan si Damar. Arsen
Salsa menolak untuk duduk bersama Arsen karena ia takut melihat tatapan Arsen terlebih jika ia ingat kejadian di Swalayan Arsen memarahinya sudah seperti orang dewasa.
Nyali Salsa menciut duduk berdekatan dengan Arsen hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidur didalam pesawat.
Huh, dasar anak kecil sudah cengeng, tukang tidur juga rupanya. Arsen
__ADS_1
Sesampainya di Pulau XX mereka langsung menuju resort milik keluarga Wijaya.
Bang Sam satu kamar dengan Damar sementara Salsa tidurnya bersama mamah dan papah. Hanya Arsen yang memutuskan untuk tidur dikamar single tidak mau campur dengan Damar dan Sam.
Hari pertama di resort kelurga itu mengadakan jamuan makan malam bersama beberapa partner bisnis mereka setelahnya mereka beristirahat untuk menyiapkan tenaga besok berkeliling resort dan tempat lainnya.
Keesokan paginya, mereka berkeliling resort puas dengan hamparan laut yang begitu memanjakan mata. Air laut yang begitu jernih sungguh menyegarkan untuk para penyelam yang mencoba beberapa fasilitas yang tersedia di resort.
Salsa hanya mengamati orang-orang yang tertawa berenang menikmati keindahan laut.
“Kalau aku sudah besar nanti, aku akan kesini lagi untuk berenang.”
Salsa berkeliling melihat-lihat pemandangan sekitar bersama Bang Sam, sementara mamah dan papahnya bersama keluarga Wijaya masih berbincang-bincang dipinggiran pantai.
Kakak beradik itu berjalan menyusuri pantai dan melihat dua orang sedang saling mendorong diujung jembatan.
“Salsaaaa.” Sam menjerit berusaha menarik adiknya tapi jembatan itu terlalu tinggi.
Tanpa pikir panjang Arsen melompat untuk menyelamatkan adik kecil Sam.
Arsen berhasil menyelamatkan Salsa dibantu pengawal Arsen, Salsa langsung diberikan pertolongan pertama oleh pengawal Arsen, bersyukur nyawa Salsa tertolong. Sam yang panik berlari memberitahukan kepada orang tuanya dan orang tua Arsen. Mereka berlarian, sangat panik takut sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada anak-anak mereka.
Salsa sudah sadar dan terlihat sangat syok. Mamah dan papahnya segera memeriksakan Salsa kerumah sakit, Salsa mengalami trauma. Keluarga Joni memutuskan untuk pulang kembali ke Jakarta esok pagi karena khawatir kepada Salsa dan harus melakukan pengobatan atau terapi akan trauma yang anaknya kini alami.
Dikamarnya Arsen masih terdiam, merenung menyesali perbuatannya. Ia menyadari bahwa tindakannya sudah sangat membahayakan orang lain.
Harusnya dia tidak meleraiku, dasar anak kecil ceroboh. Arsen
Pagi-pagi sekali keluarga Joni sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta. Terlihat dua pengawal menuju kamar keluarga Joni dan memberikan sebuah bingkisan untuk Salsa.
__ADS_1
“Untuk Adik kecil Salsa, permintaan maaf dari Arsen.”
Joni menerima bingkisan dan membaca kartu ucapan maaf Arsen. Papahnya Salsa hanya tersenyum, sejujurnya ia sangat terkesan dengan keberanian Arsen, papahnya Salsa sudah mendengar semua cerita dari anaknya Sam semua terjadi karena kecelakaan yang tidak disengaja.
Setelah berpamitan dengan keluarga Wijaya, Joni beserta keluarga langsung menuju bandara karena hari ini juga mereka akan memeriksakan Salsa sesampainya di Jakarta.
Di halaman depan Resort Arsen bersembunyi melihat kepergian mobil yang membawa seluruh keluarga Joni.
*****
“Plaaakkkk...” Tamparan keras mendarat di pipi putih Arsen hingga pipi itu berubah menjadi kemerahan.
Wijaya menumpahkan kemarahannya kepada putranya itu. Wijaya merasa malu dengan kelakuan Arsen yang selalu keras kepala dan tidak mau mengalah.
“Harusnya kamu mau mengalah Arsen dengan kakakmu, kenapa kamu susah sekali diaturnya? Kamu membuat ayah malu, kelakuan kamu sudah sangat membahayakan orang lain.”
“Tapi bukan Arsen ayah yang menyebabkan semua itu terjadi, anak itu tergelincir sendiri. Arsen tidak mendorongnya.”
“Plaaakkk...”
Lagi-lagi tamparan yang ia terima karena ia berani menjawab ucapan ayahnya yang sedang marah. Arsen hanya tertunduk ia merasa sangat terpukul akan cacian dan makian yang ayahnya lontarkan. Sakitnya tamparan yang ia rasakan di pipinya tidak sebanding dengan rasa sakit hatinya yang sudah ia pendam selama ini.
“Ayah, bisa tanyakan kepada anak itu apakah aku mendorongnya? Aku sama sekali tidak mendorongnya.”
“Tapi anak itu berusaha untuk melerai kamu dengan kakakmu, Arsen. Kenapa kamu menjadi anak yang keras kepala, kamu berkelahi semua salah kamu bukan salah kakakmu.” Sekali lagi ayahnya membela Damar dan menyalahkan Arsen.
Arsen kembali tertunduk tidak berani menatap mata ayahnya yang sudah dipenuhi oleh kemarahan, mungkin juga dengan kebencian karna memiliki anak sepertinya.
Diluar kamar Arsen nampak dua orang yang sedang menguping dan tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1