
Meninggalkan Sam dan Anna yang sedang mengadu dengan rindu, Salsa masih menikmati jamuan makan siang bersama di Aula untuk yang terakhir kali.
Inginnya menyusul dua sejoli yang sudah lebih dulu meninggalkan Salsa tapi ada daya kali ini ia hanya perlu membuat hatinya menjadi sedikit lebih tebal.
Hari yang harusnya jadi bahagia justru membuat dirinya begitu muak.
Reza yang mulai menyadari gelagat Salsa berubah berbisik meminta waktu untuk berdua.
Sampai kapan harus tertahan? Aku ingin keluar. Air matanya mulai berontak.
Salsa menolak baginya sudah tak ada waktu untuk berdua, setidaknya dia juga tidak ingin lebih lanjut melihat Rezanya bersandiwara.
"Ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian. Aku berharap ini akan menjadi keputusan yang terbaik." Salsa mengatur ritme bicara, ia berharap semua bisa menerima yang seharusnya.
"Aku ingin pernikahan kami diundur. Batalkan jika perlu."
Selanjutnya bulir-bulir air mata Salsa yang melanjutkan kata yang tak dapat tersampaikan.
Hatinya remuk redam, terlepas dari nyata atau mimpi ia berharap bisa secepatnya keluar banyak solusi.
Mata Reza nanar dirinya tertunduk menyadari mungkin Salsa sudah mengetahui segala rahasia yang berusaha ia hilangkan dengan menebus hari-hari bersama.
Hatinya tak kalah remuk. Ia hanya ingin Salsa yang sudah menjadi separuh hidupnya di tiga tahun terakhir.
Semua karena kebodohan Reza seandainya saja ia sedikit lebih berani mungkin semua akan menjadi lebih baik.
Orang tua Salsa tak kalah terkejut mengapa putrinya dengan mudah membatalkan semua rencana yang sudah sangat lama ia tunggu.
Hatinya Salsa sudah terpecah belah, entahlah apa ia akan sanggup mendengar semua pengakuan.
Meskipun bukan maksud dan inginnya Reza membuat lubang yang dalam dihati Salsa semua telah terjadi dan luka juga tak lagi dapat dihindari.
"Maafkan aku Ca, aku bisa jelaskan semua."
__ADS_1
Mata Reza mengisyaratkan bahwa dirinya perlu ditinggal hanya berdua.
Mama, papah beserta Maya dan orang tua Anne bangun dari kursi mereka berharap bahwa apa yang tadi Salsa katakan hanya sebuah gurau.
"Ceritakan dengan kejujuran Ja. Aku memberimu kesempatan karena aku ingin semua keluar langsung dari mulutmu."
Suara Salsa mulai menegar, tapi tak ada yang tahu bagaimana isi hatinya yang sudah berubah menjadi keping.
Mata Reza memanas, dadanya sesak apakah ia harus jujur dan mulai bercerita? tapi harus ia mulai dari mana?
Disodorkan sebuah bukti yang membuat Reza semakin ingin lari dari kesalahan terbesarnya. Mengapa harus dia?
Tak menyangka ini semua akan menjadi boomerang bagi dirinya dan juga masa depan yang sudah ia persiapkan.
Reza menjelaskan semua ingatannya yang memutar kembali pada hari itu.
"Ca, semua hanya salah paham. Aku akan membuktikan semua kepada kamu tapi aku mohon jangan batalkan pernikahan kita yang hanya tinggal hitungan minggu."
Salsa kembali menimbang pengakuan Reza, tiga tahun baginya belum cukup untuk mengerti sisi lain dari Reza.
Tapi sekali lagi cinta mengalahkan segalanya.
Kesempatan kedua? Apa mungkin semua yang hancur akan dengan mudah dapat diperbaiki?
Apa aku bisa memberikan kesempatan kedua?
Reza kembali meraih jemari Salsa dengan sentuhan untuk meyakinkan apa yang sudah ia ceritakan meski hatinya sendiri tak kuasa.
Memohon kesempatan kedua dari wanita yang paling dia cinta.
Salsa sedikit melunak melihat mata Reza yang mulai memerah, Salsa tahu semua bukan keinginan Reza akan tetapi yang dia sesali mengapa semua harus dia ketahui lebih dahulu bukan dari kejujuran Reza.
"Hai Afsheena." Suara yang tak asing menyapa dua manusia yang saling membisu.
__ADS_1
Sumber suara yang sangat Salsa kenal belakangan ini bahkan selalu menjadi mimpi buruk baginya siapa lagi kalau bukan suara milik Gio.
"Hei Adam." Yang disapa justru menyapa laki-laki muda yang berdiri di belangkangnya.
Adam hanya tersenyum kikuk ucapan Salsa sudah menyulut sumbu emosi boss yang sudah berbesar hati ingin melihat hari bahagia mantan sekretarisnya.
Lagi-lagi Gio menarik paksa Salsa untuk pergi mengikutinya meninggalkan Reza yang tak terima begitu saja melihat gadisnya meringis kesakitan.
"Lepasin Gio!" Reza mencoba menahan langkah Gio untuk membawa gadisnya pergi.
Gio menoleh dengan wajah datar tak berekspresi, membuat bulu kuduk Salsa berdiri karena sorotan mata bertabur kebencian yang begitu menghujam.
"Kenapa? Kenapa kamu harus bertahan bersama laki-laki yang hanya bisa mengacaukan masa depan? Bukankah sudah tidak ada lagi alasan untuk bersama? Afsheena kau ingin ikut siapa?"
Degg... Mungkinkah dia telah mengetahui segalanya?
Bibir Salsa kelu, apakah dia bisa dengan mudah melepas Reza? Akan tetapi memilih pergi bersama boss gila ini justru akan membuat masalah baru tercipta.
Haruskah aku memberikan kesempatan kedua? God, help me.
*****
Malam yang panjang untuk menanti esok tak sabar ingin melihat bagaimana mimik wajah Salsa yang mengetahui Gio datang padahal tak dia undang.
"Gadis itu, berani-beraninya dia mengundang Adam tetapi tidak mengundangku."
Selain berpamitan dengan Adam, Salsa juga memberinya undangan untuk menghadiri acara kelulusannya. Salsa bukan tak ingin mengundang atasannya yang galak itu mengingat betapa merepotkan jika harus mengundang laki-laki yang banyak maunya.
Tring.. Tring..
Gawai milik Gio berbunyi. Satu pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Isi pesan yang kembali membangunkan amarah yang tercermin di netra coklat miliknya.
"Dasar baj*ngan." Gio meremas gawai dan meleparkan dengan keras ke sudut ruang hingga bagian gawai berserak di lantai.
__ADS_1