
Gio memasukan ponselnya kembali ke dalam saku celana yang ia gunakan. Kini dirinya terduduk sendiri. Terasa sunyi, dirinya hanya ditemani oleh suara bising televisi sementara manusia lainnya sudah terjaga. Mereka sama seperti Gio hanya menunggu tapi rasa lelah tak bisa mereka hindari.
Rasa kantuk mulai hinggap dimata Gio sekuat mungkin dia menolak matanya untuk terpejam tetapi tetap saja dirinya hanyalah manusia biasa. Gio terlelap begitu saja. Dirinya tertidur sambil duduk. Pengawal Gio ingin membangunkannya tapi urung dilakukan mengingat Gio tak suka apapun yang menganggunya. Pengawal hanya melihat Gio terlelap tidur dengan rasa iba.
Salsa terbangun dari istirahatnya, diruangan dirinya tak menemukan siapapun kecuali perawat. Salsa mulai menanyakan keberadaan keluarganya. Sedari tadi tak dilihatnya kedua orang tua Salsa bahkan keberadaan Bang Sam dan Anna pun tak ada tanda-tanda.
“Sus,” Salsa memanggil perawat yang tengah sibuk menulis beberapa laporan.
“Iya, ada yang bisa saya bantu?” jawabnya ramah.
“Maaf Sus, apa keluarga saya tidak ada yang menunggu?”
Perawat mulai menjelaskan posedur dari rumah sakit, Salsa masih butuh perawatan secara intensif untuk beberapa hari ke depan itu sebabnya ketenangan sangat ia perlukan meskipun dirinya tak dipindahkan ke ruang ICU atau sebagainya.
“Bisakah saya meminta tolong?” Salsa meminta perawat untuk melihat siapakah yang sedang menjaganya diruang tunggu.
Mungkinkah Rezanya? Bahkan disaat seperti inipun Salsa masih sempat memikirkan Reza.
Tak butuh lama Perawat nampak sedang menghubungi rekan sejawatnya dan berhasil memperoleh informasi yang Salsa inginkan.
“Seorang laki-laki? Siapa? Apakah bernama Eja? Eh maksud saya Reza Hermawan.” Tanya Salsa dengan antusias, seperti dirinya yang masih berharap bahwa semua yang ia alami adalah tipuan.
“Sebentar yah, hmm iya laki-laki tersebut bernama Reza Hermawan.” Jawaban Perawat tersebut membuat Salsa semakin jatuh, entah harus seperti apa dirinya.
Hatinya yang meremuk seperti berangsur pulih mendengar keperdulian Reza. Apakah ia harus melupakan kesalahan Reza yang begitu besar kepadanya dengan mudah?
Salsa masih belum mengerti dengan mau hatinya kini. Sebelah hatinya menolak tetapi sebelah lagi menginginkan Reza. Tiga tahun yang dia bangun dengan susah payah, tak akan mudah baginya untuk merubuhkan bangunan istana masa depan mereka yang hampir terwujud.
__ADS_1
Sedikit senyum telah terbit. Reza menunggunya? Dia pasti akan kedinginan menunggu dan terlelap diruang tunggu. Lalu aku harus apa? Pikirannya kini sibuk sendiri.
“Hmm, Sus. Boleh saya minta tolong satu kali lagi.” Pintanya.
“Iya, silahkan!” Perawat tersebut sangat ramah.
Salsa memberikan selimut yang ia pakai tapi setelah menciumnya selimut ini terasa bau tak layak jika Reza harus memakai selimut bekas Salsa. Salsapun meminta selimut cadangan dengan sigap perawat itu memberikan yang ia butuh. Salsa mencari-cari keberadaan tasnya tapi tidak ada, mungkin mamah telah membawanya pulang.
“Sus, punya parfum atau minyak wangi?” tanya Salsa lagi.
“Punya, sebentar kebetulan saya selalu bawa.” Perawat tersebut mengeluarkan sebuah botol kecil berisi cairan.
Omegot, ini namanya minyak angin bukan minyak wangi.
Salsa tergelitik melihat Perawat tersebut. Minyak angin aromaterapi menurut si Perawat adalah minyak wangi. Memang sih ini juga wangi, terus siapa yang salah dong?
Selesai sudah, selimut itu dia berikan kepada Perawat untuk segera diantar kepada Reza.
Dengan semangat Perawat itu menerima selimutnya, ia penasaran juga dengan bentuk rupa Rezanya. Seganteng apa sih dia?
***********
Seorang perawat memasuki ruangan tunggu.
“Keluarga pasien Salsabila?” Suara perawat menggema diruangan. Tak ada satupun yang mengacungkan tangan atau mendekat. Dicobanya sekali lagi tapi tetap tak ada sahutan.
Baru beberapa langkah dirinya keluar tak lama seorang pria berjalan menemuinya.
__ADS_1
“Sus, ada apa?” tanya pria tersebut.
“Apa anda keluarga yang menunggu Nona Salsabila Afsheena?” tanya perawat tersebut.
“Iya,” jawabnya singkat.
“Siapa nama anda? Apakah anda bernama Reza Hermawan? Sebab Nona Salsabila ingin mengetahui siapa yang menunggunya.”
Pria itu cukup terkejut darimana Perawat tahu nama Reza Hermawan. Pria itu hanya mengangguk.
Mungkinkah Salsabila Afsheena menyebutkan nama Reza?
Dirinya kembali memasuki ruang tunggu membawa segelas kopi hangat yang ia pesan di Starterbuk Kopi persis depan Rumah Sakit.
Seorang perempuan datang menghampirinya memberikan selimut yang telah diamanatkan kepadanya.
Wah, ini sih bukan ganteng tapi ganteng banget namanya. Perawat tak berkedip memandang pria yang ada didepannya. Seumur hidup dirinya baru melihat pria tampan, sepertinya laki-laki tampan itu memang bersikap cuek.
“Terima kasih.” Ucap pria tersebut sambil menerima selimut tersebut setelah sebelumnya adegan tarik-menarik selimut ia lalui. Perawat itu pergi dengan hati berbunga-bunga.
Diciumnya selimut yang berparfum aromaterapi, wanginya berhasil membuat senyum mengembang.
Seperti kata pepatah, Tak ada minyak wangi, minyak anginpun jadi!
Sedang asyik mencium selimut aromaterapi seorang pengawal memberinya sebuah bantal leher untuk melengkapi malam menunggu kabar baik wanita yang tak pernah tahu siapa yang sedang menunggunya.
Gio dapat terlelap sekarang bersama selimut tertanda aromaterapi yang akan menemani sepanjang malam.
__ADS_1