
Pagi ini mamah Salsa mendapat telepon dari anak sulungnya yang kini sedang berada diluar negeri untuk urusan pekerjaan.
“Siapa mah?” tanya Salsa.
“Iya Sam, ini adik kamu mau bicara katanya.”
“Iihh siapa juga yang mau bicara sama Bang Sam.”
Tapi karena mamahnya sudah memberikan gagang teleponnya kepada Salsa akhirnya ia mau berbicara juga.
“Ada apa lu Ca, kangen ama gue?” Sam meledek Salsa.
“Iiihh pede banget lo Bang, malah enakan gak ada lu tau rumah adem gak ada yang ngisengin gue terus makanan gue utuh paling yang ngabisin si Anna doang itupun kalo dia lagi maen kesini.” Jawab Salsa.
“Ngomong-ngomong gimana kabar Anna? Emang dia udah jarang maen kerumah.” Sam mulai menanyakan Anna.
“Cieee, Anna nih yeh. Baik ko dia sekarang dia lagi sibuk kursus bahasa Belanda makanya jadi jarang maen ke rumah. Lu kapan pulang ke Indo? Nanti pas gue sidang lu datang gak?”
“Gue belum tau Ca, liat nanti yah. Gue usahakan pulang buat kasih support lu dan Anna, tapi kalo ga bisa nanti saja pas wisuda yah.”
Salsa mengoper kembali gagang telepon kepada mamahnya.
Mamahnya menceritakan banyak hal kepada anak laki-lakinya itu, sebelum mengakhiri teleponnya mamah mengingatkan anak laki-lakinya untuk tidak meninggalkan ibadahnya dimanapun dia berada serta selalu menjaga kesehatan.
Sungguh mamahnya merindukan anak laki-lakinya itu.
Bang Sam pergi mendapatkan tugas ke Jerman untuk beberapa waktu. Masih belum tau juga berapa lama dia akan tinggal disana, bisa sebulan bahkan bisa setahun tergantung selesai masa tugasnya.
__ADS_1
Walau papah mempunyai perusahaan sendiri bang Sam tidak mau langsung melanjutkannya ia memilih untuk membangun karirnya dari Nol dulu, karena bagaimanapun berbisnis harus mempunyai bekal ilmu dan juga pengalaman yang cukup jika bisnisnya ingin maju dan berkembang.
Meskipun bang Sam agak sedikit error tapi pemikiran untuk masa depannya selalu ia fikirkan terutama untuk masa depan mamah dan papah, terlebih adik satu-satunya.
Mamah mengusap air matanya. Salsa tahu mamah pasti merindukan begitupun dia juga dalam hati kecilnya sangat rindu abangnya.
Tugas Salsa saat ini hanya fokus untuk sidang skripsinya yang tinggal menghitung hari. Ia benar-benar berjuang untuk mendapatkan hasil yang sesuai agar ia dapat membanggakan keluarganya.
Bang Sam selalu mengingatkan Salsa bahwa wanita selain akan menikah, ia juga perlu mendapatkan hak pendidikan untuk mengejar cita-citanya lagi pula bukankah seorang ibu adalah madrasah bagi anak-anaknya? Maka dari itu wanita pun perlu melanjutkan pendidikannya setinggi angkasa begitu kata Bang Sam.
Hari ini Anna datang kerumah Salsa membawa beberapa cemilan yang dibuat ibunya Anna dirumah. Suara salam terdengar dari luar rumah. Ibu dan anak menjawab salam dengan serempak.
“Eh Anna, bawa apa pagi-pagi beginih?” Mamah Salsa menerima bingkisan yang dibawakan oleh Anna.
“Dari ibu tan biasa.”
Anna mengangguk dengan seulas senyum.
“Telat lu Anna datengnya, tadi barusan Bang Sam telepon.” Salsa melirik mamahnya.
“Masa sih? Terus bagaimana kabarnya Bang Sam?” Anna malu-malu bertanya kepada Salsa.
“Baik ko, tadi dia juga nanyain lu.”
“Yang bener? Nanyain apa Ca?” Anna mulai antusias.
Apakah Bang Sam mulai ada benih-benih dihatinya buat gue yah? Anna senyum-senyum sendiri merasa tersipu dengan apa yang di pikirkan olehnya.
__ADS_1
“Katanya dia kangen sama elo.” Salsa kembali berbicara dengan senangnya.
“Masa sih Ca?” Anna tidak kalah senangnya.
“Iyaa, TAPI BO’OONG.”
Salsa tertawa terbahak-bahak melihat Anna yang tiba-tiba saja menjadi lemas karena kenyataan bahwa itu semua hanya bohong.
Mamah belum menutup teleponnya, karena ketika ia akan menutupnya Anna keburu datang dan Sam meminta mamah dan Salsa untuk tidak menutup teleponnya.
Di seberang sana Sam hanya tersenyum mendengarkan ocehan-ocehan yang keluar dari mulut Anna.
“Anna, ada yang mau ngomong nih.” Mamah memberikan gagang teleponnya pada Anna.
Dugg.. dugg.. dugg..
Hatinya bergetar hebat.
Aduhh rasanya jantung gue mau lepas dari tempatnya. Anna memegangi dadanya yang bergemuruh hebat.
Tangan Anna gemetar menerima gagang teleponnya seperti baru menerima hadiah dari sebuah undian.
Degg..
Terdengar suara laki-laki yang sangat ia rindukan dari ujung telepon yang ia genggam.
“Astaga nafas gue berhenti, gue butuh oksigeeeeennn." Anna
__ADS_1