
Reza memukul kemudi dengan keras, dirinya merasa kecewa karena tak dapat menemukan keberadaan Salsa. Dimana gadisnya kini dia tak tahu, sementara orang tua Salsa dirumah tak kalah panik sebab untuk pertama kalinya Salsa pergi dari rumah tanpa tahu arah dan tujuan. Berkali-kali Sam dan Anna menghubungi Salsa akan tetapi nihil tak ada kabar.
“Sam kemana adikmu? Ini sudah larut malam. Coba dihubungi sekali lagi.” Pinta mamah Salsa dengan nada penuh kecemasan.
Mamah Salsa sangat khawatir pasalnya keadaan Salsa baru saja membaik, tak dapat dipungkiri kejadian kemarin dapat terulang kembali.
Baru saja Sam akan menghubungi Salsa satu panggilan masuk yang membuat Sam menaikan sebelah alisnya.
Jangan-jangan?
Sam mengangkat panggilan telepon tersebut, seorang lelaki yang suaranya sangat asing membuat jantung Sam berdegup cepat.
“Hallo, apakah saya berbicara dengan Pak Sam?” Suara lelaki itu memenuhi ruang dalam pikiran Sam.
“Iya, dengan saya sendiri. Maaf ini siapa?” Sam menjawab dengan ragu, perbincangan diantara mereka terjadi entah apa yang dibicarakan lelaki tersebut setidaknya dari raut wajah Sam nampak membuat Sam menjadi sedikit lebih tenang.
“Baiklah. Saya akan menuju kesana.” Sam menutup panggilannya dan memberitahukan apa yang baru saja mereka perbincangkan.
Rupanya Adam yang menghubungi Sam untuk memberi tahukan keberadaan Salsa. Sam bergegas menuju Rumah Sakit untuk menjemput Salsa. Sam pamit kepada kedua orang tuanya, sebelum kerumah sakit Sam mengantarkan Anna pulang terlebih dahulu.
“Sam.” Anna memanggil Sam dengan lembut membuat lelaki yang dipanggil menoleh ke arahnya.
“Iya An,” jawab Sam.
Dan selanjutnya hanyalah hening, Anna memanggil Sam karena hanya ingin memastikan bahwa Sam baik-baik saja. Mereka telah sampai didepan rumah Anna, sebelum Anna turun Sam menarik lengan Anna membuat Anna mengurungkan niatnya untuk turun.
“Ada apa?” tanya Anna.
Sam terdiam tak menjawab pertanyaan Anna, tangannya sibuk memainkan anak rambut yang menutup wajah cantik Anna. Perlakuan Sam membuat Anna tersipu terlebih satu kecupan mendarat dikening Anna. Hangat!
Aaaaaa, Sam keningku sudah tidak perawan lagi.
__ADS_1
Ingin sekali Anna berteriak tetapi apa yang Sam lakukan padanya justru mampu mengunci suaranya.
“Selamat malam.” Sam tersenyum sangat manis kepada Anna.
Anna hanya mengangguk lalu turun dari dalam mobil. Sam segera memacu mobilnya meninggalkan wanita sang pemilik hatinya.
Kayanya gue ga bakal bisa tidur lagi deh. Anna mengusap-ngusap keningnya meskipun jejak bibir Sam tak terlihat tapi itu membekas pada hati dan ingatan Anna.
Sesampainya dirumah sakit Sam segera menuju kamar dimana Gio tengah berbaring lemah. Sam masuk karena intruksi dari Gio, Sam mengerutkan keningnya melihat Salsa yang tengah tertidur dipinggiran.
“Wah bro, bisa sakit juga lu?” Sam menepuk bahu Gio, jika saja dirinya sedang tidak sakit ia pasti sudah mematahkan pergelangan tangan milik Sam. Gio memilih menjawab pertanyaan Sam dengan senyum meremehkan.
Gio tahu kedatangan Sam pasti karena adiknya. Dia memang seorang kakak yang baik untuk Salsa, sebisa mungkin Sam selalu menjaga dan melindungi Salsa.
Mereka berbincang-bincang membicarakan tentang bisnis, wanita dan satu lagi tentang cinta.
Sam memutuskan untuk ikut menjaga Gio malam ini. Perasaan Gio sangat bahagia, dirinya tak menyangka bahwa masih ada orang yang perduli terhadapnya meskipun kehadiran Gio banyak memberikan bahaya untuk mereka.
“Hoamm, jam berapa ini?” Salsa mengusap matanya yang masih terasa berat.
“Jam 7 pagi.” Jawab Gio kembali mengulum senyum.
“Apa? Nyokap pasti nyariin gue nih, duh kenapa lu gak ngebangunin gue sih.”
Wah, wah beraninya dia menyalahkan aku? Sementara bukankah semua salahnya yang tertidur dengan sendirinya, apa dia lupa ingatan? Gio tak habis pikir dengan Salsa memang dirinya adalah perempuan yang unik, membuat Gio semakin hari semakin tertarik.
“Nona Afsheena, bukankah dirimu sendiri yang datang menemuiku semalam? Bahkan tak ada yang menyuruhmu untuk tetap tinggal menemaniku. Jikapun memang aku yang menyuruhmu apakah engkau mempunyai cukup bukti?” pertanyaan Gio kembali membuat Salsa mati kutu. Jelas saja Salsa tak mempunyai bukti bahwa si Gio ini mengigau dan dengan seenak jidatnya menarik pergelangan tangannya untuk menahan dirinya agar tidak pergi.
Sudahlah, lebih baik gue mengalah berdebat dengan Gio gue pasti kalah. Lagi pula gue kan masih waras.
Salsa memilih menyudahi perdebatannya dengan Gio, pergi meninggalkan Gio adalah satu-satunya jalan. Toh, Salsa merasa Gio sudah baik-baik saja tak ada yang perlu di khawatirkan. Salsa teringat satu janji hari ini dia akan ikut bersama Reza untuk memberikan undangan pernikahan mereka.
__ADS_1
Aduh, bagaimana gue bisa melupakan dan mengabaikan Eja sih?
Setengah berlari Salsa pergi begitu saja dari ruangan Gio meninggalkan lelaki yang masih tertegun melihat kepergiannya.
Rupanya Sam sudah pulang lebih awal karena dirinya sudah memiliki janji temu dengan rekan bisnisnya. Salsa memacu kecepatan mobil dengan kecepatan sedang, dia hanya bisa berharap semoga dia sampai rumah sebelum Rezanya datang menjemput.
“Bi, mamah dan yang lain kemana? Kenapa rumah sepi? Apa Reza sudah datang?” tanya Salsa kebingungan karena sesampainya dirumah tak dijumpainya mamah serta abangnya Sam.
“Oh, Ibu pergi ikut sama Tuan. Kalau Den Sam pergi bekerja. Sedangkan Den Reza belum ada datang, Non.” Bi Inem menjawab semua pertanyaan Salsa.
Beruntung Salsa datang sebelum Reza datang, dirinya segera bergegas ke kamar untuk bersiap-siap.
Baru saja Salsa selesai memoles wajahnya dengan riasan Bi Inem sudah mengetuk pintu kamar.
“Non, Den Reza sudah datang,” ucap Bi Inem dari luar kamar.
“Iya Bi, suruh Eja tunggu sebentar yah aku akan segera turun,” ucap Salsa dengan sedikit mengeraskan suara.
Bi Inem kembali menemui Reza mengatakan apa yang dikatakan oleh majikannya. Sepuluh menit berlalu Salsa menemui Reza yang tengah terduduk manis menunggunya.
Salsa kembali merasakan keanehan pada dirinya. Dahulu dia sangat bahagia jika melihat Reza terduduk tengah menunggunya, tapi saat ini Salsa merasa biasa saja seperti tak ada lagi yang istimewah. Mungkin dirinya masih mebutuhkan waktu untuk mengembalikan kembali perasaannya kepada Reza pasca kecewa karena skandal yang Reza lakukan bersama April.
Mereka melenggang pergi meninggalkan rumah minimalis yang terkesan sederhana.
Didalam mobil Reza hanya tersenyum menatap gadis yang sebentar lagi akan berstatus sebagai Nyonya Hermawan.
“Kita mau pergi bertemu siapa?” Salsa bertanya mengalihkan kejanggalan hatinya yang semakin menjadi-jadi.
“Rekan kerja.” Jawab Reza singkat dengan senyum mengembang.
Rekan kerja? Kata-kata rekan kerja seperti menjadi satu kalimat yang tak ingin pernah Salsa dengar. Rekan kerja macam apa yang bisa membuat skandal percintaan dalam urusan bisnis? Kata-kata Rekan kerja yang membuat Salsa kembali merasa mual mengingat semua kejadian, setiap adegan kekasihnya yang sedang bercumbu. Salsa kembali memilih untuk terdiam, lebih baik baginya jika Reza tak mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya dari pada dia harus berbicara hanya untuk mengumpulkan kepingan luka yang dengan susah payah Salsa lenyapkan. Rekan kerja, kata yang menyimpan terlalu banyak luka.
__ADS_1