Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 17 (DANAU)


__ADS_3

Reza mengaktifkan ponselnya kembali. Di lihatnya tidak ada pesan masuk dari seseorang yang dia tunggu-tunggu, pesan terakhir darinya masuk tadi pagi.


Reza mencoba menghubungi Salsa beberapa kali tapi nomor yang dihubungi tidak aktif.


“Sepertinya dia lupa lagi men-charge handphonenya.” Gumam-gumam sendiri.


Merasa penat di ruangannya Reza memutuskan untuk keluar menemui Maya, Sekretarisnya.


“May, berkasnya sudah selesai dikerjakan?”


Reza tiba-tiba saja muncul membuat Sekretarisnya terkejut.


“Aduh, bagaimana ini? Ada pak Reza lagi.” Maya berbisik dalam hati.


“May, Maya. Kamu kok malah bengong?”


“Ehh, hmm iya Pak, anu.” Maya mulai gugup.


“Kamu kenapa may?” Tanya Reza curiga.


“Engg.. engga Pak, anu.”


Tanpa sengaja mata Reza melihat sebuah kotak makanan besar tergeletak di atas meja kerja Maya.


“Loh, itukan kotak makan punya Salsa. Apa Salsa kesini May?” Reza mulai bertanya.


“Iy.. Iya pak tadi mba Salsa kesini nunggu pak Reza juga tapi saat Pak Reza sudah datang aku suruh masuk ke dalam Mbak Salsa


langsung pergi.” Maya mulai buka suara.


“Kenapa dia gak mau masuk?”


“Eng.. saya enggak tau pak.”


Pura-pura gak tahu. Cari aman saja dari pada nanti di salahkan.


Reza kembali mengingat-ngingat kesalahannya.


“Apa dia lihat apa yang April lakukan ke aku?” Reza mulai gusar dengan perkiraannya.


Reza langsung pergi meninggalkan Maya yang masih gugup, berlari menuju lantai bawah berharap Salsa masih berada disana.


Tapi sayangnya Reza telat, ketika ia melihat Salsa dan akan mengejarnya Salsa sudah naik ke dalam sebuah taxi.

__ADS_1


“Argggghhhtttt.. Sial.”


Reza sangat menyesali kenapa dia harus jadi laki-laki yang bodoh, yang tidak bisa bersikap sedikit tegas kepada April. April memang teman lamanya meskipun ada kejadian seperti tadi bukan berarti Reza merespon perasaan April, Reza tidak ada perasaan apapun kepadanya meski hanya seujung kuku.


Salsa mulai menangis sesengukan di dalam taxi. Ia sudah tidak dapat lagi menahan air matanya. Hatinya hancur dan sakit. Selama ini Rezanya tidak pernah melakukan kesalahan semacam ini. Jangankan berpelukan dan berciuman, chatingan dengan lawan jenis yang Salsa tidak kenal bahkan tidak pernah.


Salsa ingin menenangkan hatinya, hanya satu tempat yang dapat membuatnya selalu merasa tenang, Danau!


“Pak kita ke Danau yah!”


Pengemudi taxi tidak menjawab, ia hanya fokus melajukan kendaraannya mengantar penumpang sampai ke tempat tujuan yang ia ingin tuju.


Reza masih panik di ruangan kerjanya, berkali-kali ia mencoba menghubungi ke rumah Salsa tetapi yang dicari belum juga pulang, menghubungi Anna pun hasilnya nihil ia sedang tidak bersama Salsa.


Dihubunginya kembali nomor Salsa tapi nomor itu masih tidak aktif.


“Kamu kemana, Ca?”


Reza merasa bersalah dengan Salsa, ia harus menjelaskan semua dengan detail agar gadisnya tidak salah paham.


Reza bergegas dengan cepat meninggalkan kantornya, sepertinya ia tahu kemana Salsa pergi jika ia sedang merasa bersedih.


Salsa berjalan menuju tepian danau untuk duduk dan menumpahkan kekesalannya.


“AAAAAAAAAAAAAA” Salsa berteriak.


“Akuuuuuuu... BENCIIIIII... KAMUUU.. REZAAAAAA...”


Salsa berteriak dengan sangat kencang, lagi-lagi air matanya mengucur deras.


“Ja, kenapa kamu tega sama aku?” Salsa berbicara lirih menggambarkan hatinya yang masih terasa perih.


Beberapa menit berlalu, ia kembali menemui pengemudi taxi yang ia minta untuk menunggunya.


Salsa sudah memasuki taxi.


“Pak, kita pergi ke jalan xx yah.”


Pengemudi taxi hanya mengangguk dan melajukan mobilnya.


 *****


“Aaargghht, si b*jingan itu kenapa dia membuatnya menangis.”

__ADS_1


Tangan yang disebut tuan besar itu sudah terkepal.


Dadanya bergemuruh melihat wanita yang menangis dipinggiran trotoar sebuah gedung. Dilihatnya sebuah taxi hampir memasuki gedung itu.


“Cegah, taxi itu dan bawa pengemudinya menemuiku.”


“Baik tuan.”


Setelah pengawalnya berhasil membawa pengemudi taksi nampak pria itu berbicara serius terhadapnya.


“Jangan biarkan taxi manapun masuk kedalam gedung itu.” Titahnya.


Selang beberapa menit seseorang dengan menggunakan seragam pengemudi taxi online keluar dari dalam mobil mewah.


Ia mengambil penumpang perempuan yang tengah terduduk lemas di pinggiran trotoar.


Setelahnya ia mengantar ke tempat tujuan kemana yang ingin penumpangnya tuju.


Ia melirik penumpang wanita dari kacanya, dilihatnya kini wanita itu tengah menangis tersedu-sedu didalam mobil itu.


Sesampainya di danau, pengemudi itu diam-diam membuntuti penumpang perempuannya.


Dilihatnya kembali perempuan itu menangis, tapi kali ini ia tidak hanya menangis tapi mulai melakukan tindakan-tindakan aneh.


Pengemudi itu mengambil ponselnya lalu merekamnya.


“Benar-benar cengeng!” Gumamnya sambil tersenyum.


Penumpang perempuannya kembali minta diantarkan untuk pulang kerumahnya di jalan xx.


Sebelum pergi pengemudi itu melihat dari kaca spionnya, sebuah mobil sport hitam terparkir tepat di belakang taxinya.


Pengemudi itu mencengkram kemudi dengan erat.


Cih, dasar b*jingan.


Pengemudi itu mengendarai taxi dengan cepat berharap mobil dibelakang tidak mengetahui keberadaannya.


Sesampainya dirumah Salsa langsung keluar dari taxi. Salsa baru menyadari satu hal.


“Kenapa dia bisa tahu danau xx, rasanya aku tidak bilang tadi mau ke danau xx hanya mengatakan danau saja kan?” Salsa.


Pria dibalik topi tersenyum sangat senang dibalik kemudinya, meski waktunya hanya sebentar tapi itu terasa berharga baginya.

__ADS_1


__ADS_2