
Salsa terbangun ketika sosok anak perempuan berpita merah memasuki kamar tidurnya.
“Hoooaaaam, Anna ada apa datang kesini?”
Seperti biasa temannya ini pasti ingin mengajaknya bermain. Anna menarik-narik lengan Salsa agar ia segera bangun dari tidurnya.
“Iya, iya sebentar aku mau cuci muka dulu.”
Setelah Salsa selesai mencuci muka mereka bergegas turun untuk bermain sepeda di pekarangan rumah Salsa.
Salsa melihat mamahnya sangat sibuk di dapur. Ia ingat bahwa nanti malam akan ada acara makan malam bersama dengan teman papahnya.
“Kamu mau main yah sama Anna? Hati-hati yah sayang, nanti jam setengah 5 sudah harus pulang karena kita akan makan malam bersama.”
Mamah yang menyadari kehadiran putri kecilnya meningatkan kembali agar anaknya tidak bermain sampai sore.
Dua sahabat kecil itu pergi meninggalkan dapur dan beralih ke ruang tengah. Jam pada dinding rumahnya sudah menunjukan pukul 04.00 sore. Bocah perempuan itu urung pergi bermain keluar karena waktu bermainnya tak lama.
“Yah Anna aku ga jadi main deh, sudah jam 04.00 kan tadi mamah aku bilang jam 04.30 sudah harus pulang.”
“Memangnya ada apa sih Ca? Kamu mau makan malam sama siapa?” tanya anak kecil bermata agak kehijauan.
Anak berambut gelombang itu menganggukan kepalanya. Anna bertanya apakah dirinya juga boleh ikut makan malam bersama? Tentu saja jawabannya tidak boleh.
“Kenapa?” tanya Anna lagi.
“Karena kamu tamu tak diundang.”
Anna hanya manyun mendengar ucapan Salsa. Akhirnya mereka memutuskan untuk bermain diruangan tengah saja, tidak lama berselang Anna meminta tolong Bi Inem untuk menghubungi Bi Ijah agar menjemputnya dirumah Salsa. Karena Bi Inem sedang sibuk mempersiapkan hidangan untuk makan malam hingga tidak bisa mengantar Anna pulang.
Salsa kembali ke kamarnya, dilihatnya ruangan abangnya yang pintunya sedikit terbuka. Jiwa ke-kepoannya muncul, berniat untuk mengganggu Abangnya Salsa malah dikejutkan oleh Abangnya yang memakai topeng lalu tiba-tiba muncul dari balik pintu.
__ADS_1
Salsa berteriak dan berlari menuju kamarnya. Sam tertawa sangat puas menjahili adiknya yang cengeng. Ter-la-lu!
Mamah menuju lantai atas memeriksa apakah anak-anaknya sudah selesai menjalankan kewajiban mereka dan bersiap untuk menyambut kedatangan tamu papahnya untuk makan malam bersama.
Dikamar anak bungsunya terlihat ia sedang merapihkan rambutnya mencari bandana yang sesuai dengan warna gaun yang sedang ia gunakan.
Mamah sangat bangga karena melihat putri kecilnya sudah dapat melakukan banyak hal seperti mandi dan memakai baju serta berhias tanpa dibantu oleh mamahnya.
“Sudah selesai sayang?” Mamah memasuki kamar putrinya dan membelai rambut gelombang indah milik gadisnya itu.
“Anak mamah cantik sekali.” Puji mamahnya. Salsa terlihat sangat tersipu karena malu dipuji seperti itu oleh mamahnya.
Diruang tengah kini anggota keluarga berkumpul menunggu kedatangan tamu papahnya.
Mereka saling bercanda dan candaan mereka terhenti ketika suara bel berbunyi.
Tiing.. Toong..
Mereka saling berkenalan.
“Sam, Salsa perkenalkan ini Damar dan Arsen putra om.”
Sam dan Salsa mengulurkan tangan mereka. Kedua keluarga itupun makan malam bersama, saling membicarakan tentang urusan pekerjaan dan hal lain yang tentu saja hanya orang dewasa yang mengerti.
Sam nampaknya sangat mudah berbaur dengan Damar dan Arsen, mereka sudah terlihat begitu akrab sedangkan Salsa hanya berdiam diri terlihat sudah sangat bosan. Salsa memperhatikan Arsen dengan seksama, ia tidak terlalu banyak bicara seperti Damar. Pada saat Arsen berbicara Salsa seperti mengenali suara itu. Arsen yang merasa risih dengan tatapan Salsa meninggalkan mereka bertiga keluar dan mencari pengawalnya untuk meminta nintendo dan earphonenya.
“Mau kemana kau?” tanya Damar dengan suara lantang.
“Kemana saja itu urusanku, bukan urusanmu.” Arsen menjawab dengan seringai kecil yang menakutkan berjalan meninggalkan mereka bertiga.
Sam mengalihkan pembicaraan dan kembali membahas tentang topik sekolah yang akan mereka pilih nanti setelah lulus dari sekolah dasar.
__ADS_1
Jam menunjukan pukul 22.00 Keluarga Wijaya berpamitan untuk pulang kerumah. Salsa sudah memasuki kamarnya terlebih dahulu karena ia sudah merasa mengantuk.
***********
Anak laki-laki berusia 11 tahun itu bernama Arsen. Setelah memperkenalkan dirinya kepada keluarga Joni, ia merasa terkejut dengan kehadiran seorang gadis kecil berambut gelombang yang tadi pagi menabraknya disebuah Swalayan.
Arsen menatap gadis kecil itu dengan lekat.
“Benar, dia anaknya yang tadi menabrakku di Swalayan. Sepertinya ia tidak mengenaliku.”
Setelah perjamuan makan malam sesungguhnya Arsen sangat malas untuk bergabung bersama Sam dan kakaknya, terlebih ada gadis yang sudah membuatnya kesal tadi pagi.
Karena merasa tidak nyaman akhirnya Arsen memutuskan untuk keluar dari rumah itu dan bermain game dengan nintendonya, tidak disangka gadis kecil itu mengikuti Arsen berjalan keluar.
Gadis kecil itu mengintip dibalik pintu, dilihatnya nintendo yang sedang digenggam Arsen. Ya, dia mengenali nintendo itu.
“Itu seperti milik orang yang tadi pagi aku tabrak di Swalayan.”
Arsen yang menyadari kehadiran gadis kecil itu langsung berucap dengan lantangnya
“Gak usah ngintip-ngintip nanti matanya bintitan.”
Lamunan gadis kecil itu buyar, Salsa berlari terburu-buru dan izin kepada mamahnya untuk memasuki kamarnya lebih dahulu dengan alasan sudah mengantuk.
Tentu saja itu semua hanya alasan Salsa, dikamar dia ditemani oleh Bi Inem dan menceritakan kepadanya bahwa anak teman papahnya yang sudah menabraknya di Swalayan hingga terjatuh.
“Huuh kenapa yang datang tamu yang seperti itu, harusnya papah tidak mengundang anaknya itu. Dasar tamu tak diundang.” Salsa terus menggerutu.
Arsen hanya tersenyum sangat tipis merasa lucu dengan kelakuan gadis kecil yang ia bilang cengeng itu.
Pertemuan kedua yang sangat menyenangkan. Arsen
__ADS_1