
Mata Salsa sudah merah, tangan dan bibirnya bergetar hebat dia benar-benar tak menyangka bahwa masalahnya dengan Reza belum usai, justru semakin bercabang.
“Ya Tuhan,” Salsa mendekap erat secarik kertas yang baru saja selesai ia baca. Hatinya kali ini sudah benar-benar melebur seperti butiran debu. Bagaimanapun Salsa juga seorang wanita, dirinya tengah membayangkan bagaimana berada di posisi April saat ini.
Salsa kembali merapihkan kotak merah muda yang baru saja ia bongkar isinya dan menaruhnya dengan rapih di tempat semula.
Drama kembali harus ia mulai. Dirinya harus terlihat tegar seolah tak mengetahui apa-apa dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
Sebelumnya Salsa berinisitif memotret benda dan secarik kertas yang tadi sempat ia baca. Salsa kembali menyimpan ponselnya, tak berselang lama Maya datang untuk membawa Salsa keruangan rapat dimana Reza bersama rekan-rekannya menunggu.
“Mbak Salsa, ayo ikut Maya. Pak Reza sudah menunggu,” ujar Maya.
Salsa hanya tersenyum dan mengikuti langkah kaki Maya, tak banyak bertanya. Salsa sedang berusaha menata hati, bagaimanapun dia akan berjumpa dengan April nanti.
Sesampainya diruangan, kedatangan Salsa disambut hangat oleh rekan-rekan bisnis calon suaminya. Satu persatu mereka menyalami dan berkenalan dengan Salsa untuk mengetahui sosok calon Nyonya Hermawan lebih dekat. Tiba giliran April yang menyalaminya.
“Selamat datang dan selamat bergabung dengan kami, Nyonya Hermawan.” April dengan sengaja menekankan kalimat Nyonya Hermawan kepada Salsa.
“Terima kasih,” jawab Salsa dengan senyum seramah mungkin. Hanya itu mungkin yang dapat Salsa lakukan saat ini. Bersikap seakan semuanya baik-baik saja. April ingin segera meninggalkan ruangan rapat yang membuat hatinya semakin memanas. Baru saja April akan melangkahkan kakinya keluar tetapi langkahnya harus terhenti sebab suara Reza memanggilnya.
"Nona April." Dengan suara ramah Reza memanggil.
April membalikkan badannya, mencoba untuk tersenyum meski getir karena harus melihat genggaman tangan Reza yang tak pernah lepas dari Salsa.
Reza, kamu akan menyesal karena telah membuat hidupku hancur.
__ADS_1
“April, apakah kamu tahu dimana Tuan Gio berada?” tanya Reza dengan wajah serius.
“Mengapa kau tanyakan kepadaku? Mengapa tidak kau tanyakan saja kepadanya?” jawab April dengan mengadahkan kepalanya, melirik tajam Salsa.
Apa? Kenapa gue dibawa-bawa sih?
“Maksud kamu?” tanya Reza bingung tak mengerti dari perkataan April.
“Bukankah Nyonya Hermawan sudah tahu dimana Tuan Gio berada? Bukankah seperti itu Nyonya Hermawan?” April berlalu begitu saja meninggalkan Reza dengan berbagai macam pertanyaan di kepala.
Salsa mengusap lengan Reza, sebisa mungkin berusaha menenangkan Reza. Dengan perlahan Salsa mulai menceritakan dimana keberadaan Gio dan alasan mengapa dirinya tahu Gio berada disana. Tentu Salsa bercerita dengan versi yang lain bukan yang sesungguhnya karena dia tak ingin membuat Reza cemburu.
Rapat telah selesai di gelar, Reza telah resmi mengumumkan tanggal pernikahan. Mereka berdua meninggalkan gedung perkantoran yang berdiri tak kalah megah. Sepanjang perjalanan hanya hening yang tercipta. Salsa fokus menatap jalan dengan pikiran yang kembali bercabang. Di satu sisi dia sedang membayangkan bagaimana dengan perasaan April, di satu sisi dia juga berfikiran tentang Gio.
Salsa mengetuk-ngetukkan kepalanya membuat Reza yang melihat tingkah aneh kekasihnya bertanya-tanya. Salsa yang menyadari sedang di perhatikan oleh Reza kembali bersikap biasa seperti semula. Reza melajukan mobilnya ke arah rumah sakit tempat Gio dirawat. Sebenarnya Salsa merasa malas untuk ikut bersama Reza tapi karena ini menyangkut pernikahan mereka maka Salsa manut saja dengan kemauan Reza.
Reza menuju meja resepsionis untuk menanyakan keberadaan kamar Gio. Berbeda dengan Salsa, yang dengan santai berjalan saja, dirinya lupa bahwa dia harus berpura-pura tidak tahu dimana ruangan Gio berada.
Sesampainya di depan ruangan beberapa pengawal masih berjaga, begitupun dengan Adam. Adam menyapa Salsa dengan ramah dan langsung mempersilahkannya masuk ke dalam. Gio tengah terduduk santai membaca berkas masih dengan infusan ditangannya.
“Tuan Gio bagaimana kabar anda? Apakah sudah membaik?” tanya Reza yang kini sedang berdiri di pinggiran ranjang.
“Aku sudah membaik tentu berkat doa kalian semua. Ada urusan apa anda datang menjengukku?” tanya Gio tanpa ingin berbasa-basi. Tak ada senyum ramah kepada Reza atau Salsa.
Reza mengeluarkan undangan resmi dari balik jasnya, lalu memberikan kepada Gio. Gio menerima tanpa ekspresi senang atau sedih, wajahnya masih tetap terlihat datar tanpa mengucapkan apa-apa kepada mereka.
__ADS_1
Salsa merasa kikuk melihat wajah Gio, dia takut Gio akan berbicara tentang kejadian semalam kepada Reza. Setelah menerima undangan dari Reza, Gio mengusir pasangan itu dengan sangat halus menandakan bahwa dirinya sangat terusik oleh kehadiran kedua manusia itu.
“Jika sudah tak ada urusan, silahkan pintu keluar masih tetap berada disana,” ujar Gio dengan kembali sibuk membaca berkas ditangannya. Gio tak menoleh sepasang kekasih yang masih berdiri di sampingnya.
Cih, dia pikir gue betah apa lama-lama berada disini.
Rezapun pergi meninggalkan Gio, sulit mengartikan dan membaca sikap Gio. Reza tak menemukan fakta yang ia sedang cari.
Bahkan Gio tak berbicara apapun tentang Salsa dan menatapnya masih dengan tatapan tak ramah.
Setelah memastikan sepasang kekasih itu telah lenyap, Gio memanggil Adam untuk menemuinya. Gio merasa ada sesuatu yang Reza cari. Mungkin saja dia sedang mencari bukti dari informasi yang dia terima tentang calon istrinya.
"Secepatnya harus kau selidiki! Dimana April?" tanya Gio kepada Adam. Lelaki muda itu menjelaskan keberadaan April lengkap dengan bagaimana kondisinya saat ini.
Gio tak melewatkan satupun informasi tentang April. Bagaimanapun April sudah seperti adiknya, jasa ayahnya jauh lebih besar di banding pengorbanan Gio untuk hidup April.
***********
Reza yang tertidur dibalik kemudi, terbangun ketika satu pesan masuk. Dirinya berharap bahwa itu adalah pesan dari Salsa. Di bukanya pesan yang sudah tertampil dilayar gawai.
Ternyata bukan pesan dari Salsa, satu potret menampilkan Salsa tengah berdiri di depan ruangan yang terdapat di rumah sakit, dirinya nampak tengah berbincang dengan seorang pria yang wajahnya tak terlihat, foto itu menampilkan ekspresi kepanikan Salsa yang tergurat jelas. Membuat Reza bertanya-tanya siapakah yang sedang Salsanya khawatirkan? hingga mampu membuatnya meninggalkan Reza.
Pagi hari ini Tuan Gio tak ada dikursinya. Membuat jantung Reza berdegup, apakah mungkin Tuan Gio yang Salsa khawatirkan semalam? Pertanyaan terus mengusik, jawaban yang diberikan oleh rekannya membuat Reza semakin yakin. Dia harus mendengar semua dari bibir Salsa. Dan benar saja Salsa menceritakan semua, meski dirinya masih belum jujur bahwa semalam ia pergi mengunjungi Gio yang tengah berbaring lemah disana.
Sesampainya di rumah sakit tak ada yang dapat Reza temui, baik dari benda milik Salsa yang tertinggal atau kesaksian Gio tentang Salsa yang datang. Bahkan tatapan Gio terhadap Salsa tak berubah sedikit pun masih dengan tatapan tak bersahaja.
__ADS_1