
“Akhirnya selesai juga membantu manusia bodoh itu pakai baju. Tangan gue udah gak suci lagi.” Salsa melihat kedua telapak tangannya.
Mengingat kejadian yang beberapa menit baru saja terjadi di antara dirinya dan Gio. Salsa tak sengaja menyentuh sesuatu yang tak seharusnya ia sentuh.
“Bersiaplah, kita akan pergi hari ini.” Kata-kata Gio membuyarkan lamunan Salsa.
“Eh, apa? Kenapa?” Salsa yang melamun tak mendengar kata-kata Gio. Gerakan tangan Gio sangat cepat menarik gadisnya ke dalam ruangan pakaian ganti milik Salsa.
Kini giliran Gio yang membantu Salsa memilihkan baju yang cocok untuknya. Gio memilihkan sebuah dress dengan warna senada dengan pakaian yang Gio pakai.
“Lo mau apa?” tanya Salsa yang merasa bingung dengan kelakuan absurd Gio.
“Memilihkan kamu baju, tadi kamu sudah membantuku memilihkan pakaian yang sesuai dan memakaikannya. Sekarang gantian aku,” jawab Gio dengan seringai licik.
“Tidak perlu, gue bisa sendiri. Pergi!” Salsa mendorong tubuh Gio untuk keluar dari ruangannya. Tapi tenaga Gio jauh lebih kuat dan usaha Salsa berakhir sia-sia. Tubuhnya justru terhuyung dalam pelukan Gio.
“Oh, jadi kamu ingin aku peluk?”
“Dasar kurang ajar, lelaki tidak sopan.” Salsa terus memukul Gio membuat Gio harus mengambil tindakan tegas untuk menghentikan Salsa. Gio mencium bibir Salsa dengan secepat kilat. Tindakannya berhasil membuat Salsa berhenti berontak.
__ADS_1
Bibir gue udah ternoda. Salsa memegang bibirnya. Ciuman kilat dari Gio membuat jantungnya berdetak tak menentu.
“Ayo buka bajumu!” Gio benar-benar membuat Salsa terhipnotis hanya dengan sebuah ciuman di bibir.
Lelaki itu berhasil membantu Salsa melepas baju yang melekat dan memakaikan gadis itu dress yang sudah ia pilihkan. Salsa terdiam, bingung harus bagaimana. Ia takut jika berontak Gio akan melakukan hal lebih dari sekedar menciumnya.
Selama ini Reza yang selalu bersamanya bahkan tak pernah sekalipun berani mencium bibir Salsa. Tapi Gio dengan berani mengecup bibirnya, mengambil kesucian bibir yang selama ini ia jaga.
Salsa masih berharap tubuhnya kelak hanya akan dinikmati oleh suami yang dia cinta dan dia masih berharap bahwa pria itu adalah Reza Hermawan.
“Cepatlah atau tidak kita akan terlambat.” Gio keluar meninggalkan Salsa yang mulai tersadar.
Ia memilih untuk membiarkan rambutnya tergerai. Setelah selesai berdandan dia segera keluar. Gio masih terlihat sabar menunggu.
“Kita sarapan!" Gio menggandeng tangan Salsa membuat yang digandeng merasa risih.
Kenapa harus gandengan tangan sih? Udah kaya mau nyebrang jalan. Salsa hanya patuh mengikuti Gio. Rumah Gio memang sangat luas dan besar, entah apakah Salsa akan menyasar jika harus tinggal seorang diri dirumah semegah ini?
Aneka makan telah tersaji. Ruang makannya pun tak kalah luas. Kursi berjejer rapih padahal setiap hari hanya ada Gio seorang diri yang menempati kursi-kursi ini. Suasana sangat sepi berbeda sekali dengan suasana sarapan dirumahnya.
__ADS_1
“Kenapa?” tanya Gio melihat raut wajah Salsa yang terlihat tak bersemangat.
“Tidak apa-apa, ngerasa aneh aja. Biasanya sarapan suasananya ramai tapi sekarang sepi hanya ada kita berdua,” ujar Salsa.
“Makanya cepat berikan aku anak supaya rumah ini jadi ramai,” jawab Gio sembarang.
Anak? Apa si gila ini mengharapkan anak dariku? Jangan harap.
“Kenapa diam? Apa kau tidak ingin memberiku anak?” tanya Gio lagi kali ini dengan ekspresi yang sangat menakutkan.
“Ti—tidak, bukan begitu. Maksud gue emang lo bisa punya anak?” petanyaan Salsa sangat meremehkan harga diri Gio.
“Kita lihat nanti, bersiap-siap saja malam ini aku akan membuktikan kepadamu. Habiskan sarapanmu!” Perkataan Gio membuat nyali Salsa menciut.
Dirinya tidak bermaksud membuat Gio tersinggung. Salsa merasa was-was dengan apa yang akan Gio lakukan malam nanti kepadanya.
Membuktikan? Dia bilang malam ini? Habislah gue.
Salsa menyesali perkataannya. Dia sudah memberi umpan kepada singa yang sedang kelaparan.
__ADS_1