
Reza pulang kantor lebih awal hari ini, tentu saja karena ia harus bersiap-siap terlebih dahulu untuk kencannya malam ini bersama kekasihnya, Salsa.
Salsa tidak kalah hebohnya dirumah kini ia sedang sibuk mencari baju yang sesuai untuknya. Anna melihat Salsa dengan jengah sudah kesekian baju yang ia keluarkan dari dalam almarinya, lalu ia pakai kemudian ia
buang ke atas tempat tidurnya dengan alasan tidak cocok, terlalu sexy, atau apalah.
“Duh gusti, udah kaya mau ketemu ama presiden aja dah si Salsa.” Anna.
Brughht...
Baju yang Salsa lempar mendarat tepat diatas kepala si jomblo unyu katanya.
“Caaaaaaaaaa.” Suara Anna yang cemprengnya minta ampun mulai bergema.
“Ups, sorry An sengaja. Lagian kepala lu sejak kapan ada disitu?”
“Emang kepala gue disini, lu kira gue hantu jeruk purut yang kepalanya ditenteng.” Anna menjawab dengan keki, tiba-tiba bulu kuduknya merinding membayangkan hantu tanpa kepala!
Salsa yang melihat Anna bergidik ngeri makin melebar tawanya. Anna mendekati Salsa perlahan ia meminta izin untuk ikut nonton bersama. Berkali-kali ia merengek ingin ikut dengan alibi kesepian, sampai bete dirumah karena stress memikirkan tugas akhir.
Salsa menimbang-nimbang keinginan sahabatnya.
Bukan karena Salsa tidak mau mengajaknya tapi ia merasa kasihan kepada sahabatnya itu karena ia pasti akan menjadi obat nyamuk diantara mereka.
“Coba lu telpon Reza, boleh gak Ca?”
Akhirnya Salsa menghubungi Reza, meminta pertimbangan apakah Anna harus ikut atau tidak usah. Reza mengizinkan, tentu saja karena akan semakin ramai dan ada bahan candaan untuk mereka yang berpasangan, ya tentu saja yang jadi objeknya jomblo kesepian.
Mereka berdua pun segera bersiap-siap. 15 menit lagi Reza datang.
Belum sampai 15 menit Reza sudah ada diruang tamunya sedang berbincang dengan calon mertuanya.
Malam ini sangat membahagiakan pasca membaiknya hubungan mereka, tetapi juga tidak terlalu menyenangkan untuk jomblo yang sedang duduk di kursi belakang. Sengaja Anna mengencangkan volume musik yang ia dengarkan selama perjalanannya menuju Mall, ia tidak mau mendengarkan kata-kata yang dapat merusak gendang telinganya, sudah cukup ia menjadi penyandang jomblo.
Sesampainya di Mall mereka langsung menuju lantai atas tempat bioskop berada. Anna yang sedari tadi mampir ke toilet belum juga menunjukan batang hidungnya.
“Ja, kamu pesan tiket saja dulu untuk kita bertiga, aku mau ke toilet sebentar yah cari Anna.”
Salsa pergi meninggalkan Reza, mencari Anna yang entah sedang apa dia di toilet hingga tidak muncul-muncul.
Reza yang masih menunggu Salsa dikejutkan dengan suara sapaan dari seorang wanita.
“Hai Za, kamu nonton juga disini? Ga nyangka yah kita ketemu disini.” Sapa wanita itu dengan nada lembut.
“Hai juga, iya kebetulan banget kita ketemu disini.” Reza menjawab biasa saja.
“Kamu sama siapa Za disini? Sendirikah? Kalau sendiri ayo kita nonton bareng.” Tawar April.
Belum sempat menjawab Salsa dan Anna berdehem bersamaan di belakang Reza. Reza langsung menarik lengan Salsa dan memeluk pundaknya.
__ADS_1
“Aku bersama Salsa, pacarku.” Jawab Reza dengan senyum.
“Bukan pacar Za, tapi calon is-tri.” Anna memberi sedikit nada penekanan berharap setelah mengetahui kenyataan yang sesungguhnya perempuan itu enyah dari hadapan mereka bertiga.
Salsa dan Reza semakin mengembangkan senyuman diwajah mereka.
“Aduhh Ann, lu hebat banget sihh bisa ngomong kaya begitu. Setelah ini gue harus berterima kasih sama lu dengan mendoakan lu biar cepet dapet jodoh.” Salsa
Bukannya pergi April malah mengulurkan tangannya kepada Salsa dan Anna.
“Perkenalkan, aku April rekan kerjanya Reza.”
Cih, kalian fikir semua itu berpengaruh untuk aku. April tersenyum biasa saja.
Untung saja tidak lama teater yang akan mereka bertiga masuki sudah akan dimulai. Reza, Salsa memasuki teater terlebih dahulu, sementara Anna menunggu dulu barangkali ada abang-abang penjual popcorn ganteng yang akan masuk jadi dia bisa barengan. Jiwa-jiwa kejombloannya Anna kembali meronta saat memasuki teater dilihat pasangan tua maupun muda saling berpegang tangan.
“Salah tempat ni gue.” Anna
Anna mencari nomor bangkunya karena ia minta untuk dicarikan nomor yang berbeda dari mereka berdua, karena dia tidak mau menjadi baper dan menangis bukan karena filmnya tapi karena meratapi nasibnya.
“Dah, aman gue disebelah sini kaga
melihat pemandangan yang mengerikan.” Anna berbicara sendiri menepuk-nepuk
bangkunya.
Reza dan Salsa sudah duduk dengan nyaman di nomor bangku mereka masing-masing tentu saja saling bersebelahan.
Sambil menunggu film diputar Salsa
menghabiskannya dengan mengobrol ngalor-ngidul bersama Rezanya. Tawa mereka
terhenti kali ini suara yang tidak asing kembali lagi terdengar di telinga mereka.
“Hai, kalian disini juga?” Sapa April ramah tanpa penuh dosa.
Salsa dan Reza tak menjawab, April duduk disamping Rezanya.
Deggg...
“Sabar Ca, sabar. Lu ga boleh kepancing emosi.” Salsa
Duh, masalah baru lagi aja, baru juga malam ini baikan masa besok harus dieman. Reza
Nah kan, kita bertemu lagi. Mungkin memang sudah jodohnya. Meskipun aku harus melihatmu dengannya lagi tapi tidak apa karena aku bisa pastikan kalian pasti akan berpisah. Apil
Reza menggenggam tangan Salsa, tidak
melepasnya meski sedetik. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Jika ia meminta pindah duduk dengan Salsa khawatir April akan menjadi tersinggung, karena bagaimanapun April memang tidak melakukan tindakan apa-apa tapi siapa yang tahu bagaimana dengan perasaan gadisnya.
__ADS_1
Salsa menatap Reza setelah ia mengelus pucuk kepalanya. April yang fokus menonton diam-diam juga mencuri pandang kepada laki-laki yang kini berada disampingnya.
Tatapan mata April tertangkap basah oleh Salsa, lagi-lagi April berhasil dengan sangat tenang ia mengalihkan pandangannya tanpa merasa risih atau apapun.
Meninggalkan mereka bertiga yang sudah saling canggung dan ingin filmnya segera selesai, lain halnya dengan Anna.
Dia sangat menikmati acara menontonnya. Makan popcorn sebanyak-banyaknya, dan minum soda sekembung-kembungnya.
Saat film akan selesai Anna menoleh mencari keberadaan Salsa, ia sangat terkejut dengan laki-laki disampingnya yang tiba-tiba saja berdiri dari kursinya.
*****
April nekat datang ke kantornya Reza dengan berbekal alasan mampir kebetulan lewat dan akan mengajaknya makan malam bersama di Apartemennya.
“Bu April, maaf pak Rezanya sudah pulang sejak sejam yang lalu.”
“Pulang? Kenapa?” April berbalik bertanya.
“Maaf bu saya tidak tau soal itu.”
Maya menjawabnya lalu meninggalkan April yang masih mematung didepan ruangan
Reza.
April segera bergegas menelpon supirnya untuk mengantarnya kerumah Reza. Disana April melihat mobil Reza masih terparkir dihalaman dan tidak lama ia melihat mobilnya pergi.
“Pak ikutin mobil itu!” April mengikuti mobil Reza pergi.
Sesampainya di Mall April sengaja
menyuruh supirnya untuk mengikuti Reza, sementara ia berganti pakaian.
Supirnya berhasil membuntuti Reza dan memesan nomor bangku untuk majikannya sesuai intruksi darinya.
Melihat Salsa yang pergi mencari sahabatnya ke toilet April mulai melancarkan aksinya.
Dari situlah April memulai aktingnya yang memukau seolah semua adalah kejadian yang tidak disangka-sangka.
April terkejut karena nomor bangku yang ia duduki ternyata persis disamping Rezanya. Lagi-lagi keberuntungan berpihak untuknya.
Anna masih tercengang di depan toilet. Dia seperti memikirkan sesuatu.
“Suaranya, seperti aku kenal tapi siapa?” Anna kembali mengingat-ngingat.
Sebelumnya Anna sedang berdiri didepan toilet hingga ada suara seorang laki-laki yang menyapa dengan suara yang sangat lembut.
“Hai Anne.” Sapanya tapi setelah Anna membalikkan tubuhnya ia tidak melihat siapapun.
“Hiii, jangan-jangan?” Anna sungguh merinding kali ini. Tidak lama Salsa datang Anna tidak menceritakan apapun kepada Salsa yang ada nanti dia di tinggal kabur disini.
__ADS_1
Disebalik tembok ada laki-laki bertopi hitam sedang mengawasi gerak-gerik mereka.