
“Cukup Tuan Gio.” Reza yang tidak terima dengan perlakuan Gio ikut menarik lengan Salsa yang satunya.
Salsa kebingungan bagaimana dia harus mengatasi kedua lelaki ini. Salsa ingin melepas genggaman Reza dan pergi bersama Gio tapi itu tidak mungkin, ia takut pilihannya akan menyakiti hati Reza.
Akan tetapi jika ia melepaskan genggaman tangan Gio Salsa tahu bagaimana bossnya ini akan marah, terlebih sepertinya Gio sudah mengetahui titik masalah mereka berdua.
Adam, tolong aku. Mata Salsa mengisyaratkan pertolongan kepada Adam, tetapi Adam hanya terdiam tak dapat berbuat banyak untuknya.
Perlahan Salsa melepaskan genggaman Reza dan memilih pergi bersama Gio.
“Maafkan aku Ja.” Dalam hati Salsa merasa sakit sendiri dengan pilihannya, akan tetapi jika ia memilih untuk tetap bersama Reza lukanya takkan pernah sembuh.
“Ca,” suara Reza memanggil lirih nama kekasih yang perlahan melepas genggaman tangannya. Seakan tidak percaya akan keputusan kekasihnya. Bagaimana bisa Salsa memilih pergi bersama orang lain dan mengabaikan dirinya yang sudah berjuang selama tiga tahun.
Gio menarik lengan Salsa memaksanya untuk pergi meninggalkan acara yang sudah tak penting lagi. Gio tak membiarkan Salsa menoleh kepada Reza yang masih menatap kepergian mereka dengan mata nanar.
Di luar gedung Salsa berusaha melepaskan genggaman Gio dengan kasar. Melepaskan Reza bukan berarti dia memilih pergi bersama Gio yang sudah di capnya pria paling menyebalkan.
__ADS_1
“Lepaskan!” Salsa berusaha meminta Gio untuk melepaskannya. Namun Gio tak menggubris kata-kata Salsa ia justru semakin mengeraskan cengkraman tangannya.
Salsa meringis kesakitan, sebenarnya apa yang di inginkan oleh Gio? Kelakuan dia sungguh membuat Salsa semakin geram.
“Apa seperti ini ucapan terima kasih untukku yang telah membebaskanmu dari laki-laki ba*ingan semacam Reza?”
Rupanya Gio perlu ungkapan terima kasih dari Salsa karena ia merasa seperti pahlawan yang sudah menyelamatkan hidup Salsa.
Apa? B*jingan? Salsa seperti tidak terima mendengar kata ba*ingan yang di lontarkan Gio. Bagaimanapun Salsa tahu Rezanya, walau saat ini kata-kata itu memang pantas di sandang Reza.
“Terima kasih Tuan Gio atas bantuannya saya harap anda dapat melepaskan tangan saya.” Salsa mencoba memasang wajah semanis mungkin. Tak di sangka itu berhasil membuat Gio luluh dan melepaskan genggaman tangannya. Setelah dirasa aman Salsa kembali meluapkan kekesalannya terhadap boss gila yang sudah berani datang tanpa dia undang dan mengacaukan acaranya.
Saat ini Salsa ingin pergi ke tempat yang ingin ia tuju tanpa kehadiran siapapun disana. Biarlah dia hanya sendiri menumpahkan kekesalan, rasa kecewa dan marahnya tanpa mau membagi dengan orang disekitarnya. Dia tak menghubungi Anna karena tak ingin merusak hari bahagia sebelum keberangkatannya ke Belanda.
Reza masih terpaku di dalam ruangan, dengan segala kegelisahan yang ingin ia ungkap. Reza masih berhutang penjelasan kepada kedua orang tua Salsa. Mengapa Salsa bisa dengan mudah membatalkan pernikahannya? Tentu semua ada alasan yang kuat, mengingat pernikahan bersama Reza adalah pernikahan yang sudah sangat ia impikan.
Reza mengacak rambutnya frustasi, mengapa masalah datang di saat hari bahagia akan segera tiba? Apa kata orang tentang pernikahannya yang gagal? Reza tak habis pikir kenapa ada orang lain yang begitu kejam menyakiti hati gadisnya. Merusak mimpi gadisnya sama dengan membunuh harapan Reza untuk hidup berdampingan dengan Salsa.
__ADS_1
Reza yakin Salsa pasti akan memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua. Pernikahan hanya tinggal hitungan minggu. Biarkan dia egois sekali ini, pernikahan akan tetap berlangsung meski seribu kali Salsa memintanya untuk membatalkan.
Air mata yang tak pernah ia teteskan sebagai seorang pria kini telah mengalir deras, air mata yang menggambarkan seribu luka tentang masa depan yang akan ia miliki.
Salsa berjalan menyusuri pantai dengan kaki telanjang, pedihnya kerikil yang menusuk tak sepedih luka yang sudah Rezanya buat. Masih mengenakan kebaya berwarna peach tak membuat tubuhnya dingin dari terpaan angin laut yang bertiup ke darat. Salsa masih memandang hamparan laut, meskipun sejujurnya dia masih terasa takut menginjakan kakinya di atas pasir karena hanya seorang diri tetapi rasa takut itu kalah dengan rasa sakit yang semakin malam semakin menghujam.
Masa depan, pernikahan impian dan hari-hari yang sudah ia lewati bersama Reza seketika hempas.
Air laut menyibak kakinya, tubuh Salsa kembali bergetar. Rasa takut dan trauma itu kembali muncul.
Ia tidak dapat menggerakan kakinya yang terasa seperti karam. Kepalanya berdenyut terasa sakit menimbulkan bayangan-bayangan dari masa lalu yang sama sekali tak ingin kembali ia ingat. Salsa memegangi kepalanya, badannya sudah lemas dan akan terhuyung jatuh ke atas pasir. Matanya sudah terpejam meskipun dirinya masih dalam keadaan setengah sadar. Dia merasakan sesuatu yang berbeda, tak dirasakan sakit akibat terjatuh. Justru dia merasa ada yang menopang tubuhnya. Setelah dirasa tenang perlahan Salsa memberanikan diri untuk membuka matanya, samar-samar terlihat satu sketsa wajah yang semakin membuatnya terluka.
*********
Gio dan Adam memasang indera pendengaran mereka lebar-lebar. Mereka tengah menguping pembicaraan yang terlihat menegangkan.
Gio sudah tak dapat membendung emosinya ketika melihat wanita yang sangat ia kenal tengah berusaha menahan rasa sakitnya. Dia tahu bahwa hari ini Salsa akan patah hati. Baginya melihat perempuan itu marah-marah karena kesal terhadapnya lebih baik dari pada harus melihatnya menangis karena terluka oleh seorang pria.
__ADS_1
Adam berusaha sekeras tenaga untuk menahan atasannya agar tak menemui dan mau mendengarkan percakapan mereka hingga selesai. Sia-sia usaha Adam, Gio tetap pergi dengan kilatan kebencian yang semakin menjadi-jadi.
“Afsheena, berhentilah untuk berusaha terlihat tegar. Aku mohon!”