Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 7 (Bertemu Psikiater)


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan usulan dari Sam, akhirnya seluruh keluarga setuju baik itu dari pihak Salsa atau Reza, begitupun dengan mereka berdua menyetujui untuk membawa Salsa berobat kembali.


Pagi ini Salsa telah selesai meminta tanda tangan dosen pembimbingnya. Salsa lega akhirnya sebentar lagi ia akan menjalani sidang tugas akhir untuk menyelesaikan kuliahnya, tapi sayang ia harus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan belajarnya meraih gelar master karena harus menjalani kembali pengobatan untuk kesembuhan trauma masa lalunya. Tentu saja Salsa tidak mau terus-menerus mengalami trauma yang berkepanjangan. Terlebih kedepannya Reza akan melamar Salsa dan mempersuntingnya sebagai Istri.


"Heiii Ca, ko bengong sih? Bae-bae lu kemaren ayam tetangga gue pada mati gara-gara bengong." Suara Anna membuyarkan lamunannya.


"Ahhh massaaa? Ayam siapa? Tetangga lu yang di Belanda? Tetangga lu kan tetangga gue juga." Salsa tertawa membuat bibir Anna menjadi maju 15cm.


Saking asyiknya berbincang-bincang Anna hampir tidak menyadari keberadaan Bang Sam. Bang Sam berjalan sudah sampai pintu kantin dan akan menghampiri Anna dan Salsa. Keberadaan Bang Sam yang tiba-tiba membuat Anna panik tak karuan.


Kenapa harus datang tiba-tiba? Sementara gue belum punya persiapan apa-apa. Anna


Bang Sam menyapa Anna membuat semua urat groginya keluar. Yang disapa hanya nyengir enggan membalas. Mendadak Salsa ingat bahwa ia melupakan satu buku yang tertinggal di meja penjaga perpustakaan. Salsa terpaksa harus meninggalkan Anna dan Bang Sam. Bagaimanapun mereka harus punya waktu berdua dan ini kesempatan bagus itulah yang dipikirkan oleh Salsa.


"Gue tinggal dulu yah Bang sebentar. Lo temenin Anna dulu."


Anna menarik-narik ujung baju Salsa, mengisyaratkan agar tidak pergi meninggalkannya berduaan dengan Bang Sam.


"Sebentar ada buku yang ketinggalan diperpustakaan tadi." Salsa langsung ngeluyur pergi meninggalkan mereka berdua. Salsa Tak menghiraukan Anna yang merengek ingin ikut.


Kini hanya ada Anna dan Bang Sam di meja. Jantung Anna berdegup tak beraturan. Bagi Anna lebih baik ia di suruh berlari mengelilingi lapangan sepuluh kali dari pada jantungnya harus berdegup karena setruman energi dari orang yang dia suka. Lama tak ada suara diantara mereka, hingga pada akhirnya suara merdu yang tak dirindukan memaksa keluar tak tertahan.


"Tuuuuuutttt...."


Suara yang cukup nyaring datang memecah keheningan.


Wajah Anna bersemu merah.


Aaaaaa memalukan sekali, kenapa harus keluar di saat-saat seperti ini sih? Anna.


Sebenarnya kebiasaan Anna ini sudah sering muncul, entah kenapa setiap kali dia merasa gugup pasti tiba-tiba saja bunyi itu datang tanpa memberi aba-aba terlebih dahulu. Anna sudah menahan mati-matian sedari tadi tapi apa daya namanya angin lebih besar kekuatannya.


Sam berusaha menahan tawanya dalam hati. Sam juga sudah sering mendengar cerita adiknya soal Anna yang ketika sedang serius presentasi tiba-tiba saja mengeluarkan bunyi andalannya atau ketika ujian sekolah tempo hari di saat kelas sedang sunyi senyap tiba-tiba ia membuat gaduh seluruh penghuni ruangan dengan aromaterapi yang tanpa sengaja ia keluarkan.


Menyadari Sam akan tidak menyukai kelakuan buruknya itu, terpaksa Anna membuka mulut mulai mengajak Sam berbincang-bincang.


"Hari ini Salsa jadi pergi psikotestnya Bang?" Anna membuka suaranya dengan intonasi lembut.


"Hah psikotest? Maksud kamu pergi ke Psikiater?" Sam tersenyum membenarkan omongan Anna.


"Ehh iya, memang udah ganti nama yah Bang?"

__ADS_1


Astaga, mendadak Anna merasa jadi orang yang paling bodoh didunia ini.


"Dari dulu memang namanya Psikiater Anne."


Lagi-lagi Sam tersenyum membuat hati Anna semakin kikuk.


Apa ia tidak tahu senyumnya itu membuat Aku menjadi semakin bodoh.


Untung saja Salsa datang diwaktu yang tepat sebelum Anna benar-benar hilang ingatan dan tidak bisa lagi berbicara bahasa manusia. Berdekatan dengan Bang Sam sangat membahayakan. Mampu membuat serangan jantung atau rasa senang yang berlebihan.


"Huftt syukurlah Salsa datang lebih cepat, kalau enggak bisa kejang-kejang gue di senyumin Bang Sam terus." Anna menggerutu tanpa suara.


Sam tertawa kecil melihat mulut gadis di depannya seperti sedang berkomat-kamit.


"Lucu juga yah Anna," gumam Sam dalam hati.


Setelah menghabiskan makanan dan minuman mereka, Salsa menghubungi Reza.


"Halo Ja, kamu dimana?"


"Oke, aku segera kesana." Salsa menutup teleponnya dan pergi meninggalkan kantin bersama Sam dan Anna.


******


"Selamat siang juga Pak Reza Hermawan."


Dokter Bram membalas salam dan menyalami kekasih salah satu pasien lamanya itu.


Mereka mengobrol panjang lebar untuk mengisi waktu menunggu kedatangan Salsa, Reza menceritakan lebih dahulu apa yang Salsa alami sebelum Salsa menceritakan apa yang ia rasakan akhir-akhir ini.


Tak berselang lama yang ditunggu datang. Sam mengetuk pintu ruangan dan memasuki ruangan bersama Salsa sedangkan Anna sudah menunggu diluar parkiran karena ia merasa pusing dengan bau khas rumah sakit katanya.


Salsa mulai menjalani kembali perawatannya , Dokter Bram mulai memberikan Salsa beberapa pertanyaan dan mendengarkan keluhan-keluhan apa saja yang Salsa rasakan di akhir-akhir ini hingga Dokter Bram dapat menganalisa.


Selesai menjalani pemeriksaan Salsa diberikan beberapa resep obat penenang hanya untuk dikonsumsi beberapa waktu kedepan sambil melihat perkembangan dari rasa trauma. Peran orang-orang yang dia sayangi juga sangat diperlukan untuk membantunya agar Salsa tidak terlalu merasa stress.


Setelah berpamitan dengan Dokter Bram, Reza dan Salsa pergi menuju tempat pengambilan obat sedangkan bang Sam katanya pergi untuk mencari Anna.


"Anne." Sam memanggil Anna yang terdiam mematung memandang ke arahnya.


"Bukan, ini pasti gue salah liat." Anna berbicara dalam hatinya dan masih terpaku di tempatnya memandang intens Sam yang berada beberapa meter didepannya.

__ADS_1


Kenapa sama Anne? Sam


Sam berlari pelan menemui Anna tapi yang dituju hanya diam masih melamun.


"Kamu kenapa An? Ko melamun? Aku panggil-panggil kamu diam saja," tanya Sam menyelidik.


"Engg...eng...enggak ko Bang ga ada apa-apa, Anna tadi kesedak permen mau ngomong ga bisa."


Anna berusaha mengelak. Matanya tetap memandang ke depan, ke arah sekitar Sam tadi berdiri. Entah apa yang sedang ia cari.


"Ayooo, kita kesana!"


Sam menarik pergelangan tangan Anna. Anna merasa terkejut karena ini pertama kali tangannya disentuh oleh laki-laki selain ayahnya dirumah, maklum Anna itu jomblo akut dan penakut.


Anna terus memandang Sam, sekejap ia melupakan kejadian yang baru saja dilihatnya, fokusnya mulai terpusat kepada Sam.


Sam membiarkan Anna memandanginya, Sam tidak merasa risih karena menurutnya sudah terlalu sering ia dipandang seperti itu oleh perempuan.


Mereka berdua masih tidak menyadari bahwa sepasang kekasih yang mereka tunggu sudah berada dibelakangnya.


"Ehemmmm..." Reza dan Salsa berdehem berbarengan dan upaya mereka berhasil Anna terperanjat melihat keduanya, ia melepaskan genggaman tangan bang Sam.


"Ehh.. Kalian udah selesai? Yaudah yuk kita pulang." Anna berbicara dengan salah tingkah.


Didalam mobil mereka sibuk membahas masalah perkuliahan dan bisnis mereka masing-masing. Sam melirik Anna dari kaca depan mobil, memandangnya yang sedang melihat pemandangan di luar jendela.


Bukan hanya karena Anna cantik tapi ada hal lain yang Sam pikirkan tentangnya. Tanpa sengaja pandangan mereka bertemu, Salsa yang menyadari itu hanya berdehem dan mengolok-ngolok Anna, menjadi hiburan tersendiri melihat jomblo akut yang salah tingkah.


Semoga saja tidak. Sam


Sam tersenyum penuh tanya.


***********


Seorang Lelaki bertubuh tegap berjalan menuju kasir sebuah Toko Buku, lalu menyodorkan sebuah kartu pada penjaga kasir dan memberinya beberapa lembar rupiah. Setelah berpesan kepada penjaga kasir, lelaki itu pergi begitu saja keluar dari Toko Buku tersebut.


"Semua sudah saya selesaikan Tuan."


"Bagus, terus awasi kegiatannya sampai dia kembali kerumah dan jangan sampai lolos!"


Perintah seorang lelaki dari balik ponselnya, lalu ia mematikan panggilannya. Lelaki itu bersandar pada kursi mobil sambil memantau seseorang yang sedang diawasi oleh kamera berjalannya.

__ADS_1


__ADS_2