
Pak Dan telah mengantarkan dua insan yang akan menghabiskan malamnya di depan pintu sebuah kamar.
"Ini kunci kamarnya tuan. Jika memerlukan sesuatu silahkan tuan menghubungi saya secara langsung. Saya permisi pamit. Semoga hari tuan dan nyonya besar menyenangkan." Pak Dan menyerahkan sebuah kunci pada Gio.
Menyenangkan apanya yang ada habislah riwayat gue malam ini.
Salsa hanya menyahut dalam hatinya. Bukan karena Salsa takut untuk mengeluarkan kata-kata yang tidak menyenangkan tetapi dia juga harus tetap menjaga etika serta sopan santun sebagai putri keluarga Joni. Perkataan Gio di meja makan kembali terngiang. Semua tidak boleh terjadi.
"Terima kasih."
Pak Dan langsung melenggang pergi meninggalkan kedua manusia yang masih mematung didepan pintu pada sebuah kamar.
"Cepat buka pintunya gue lelah," ujar Salsa.
Gio memberikan kunci kamar kepada Salsa seakan memberinya sebuah isyarat lebih baik jika Salsa saja yang membukanya.
Dengan perasaan jengkel Salsa merampas kunci dari tangan Gio. Tak butuh waktu lama pintu kamar telah terbuka. Salsa masuk ke dalam kamar lebih dulu.
Sepersekian menit Gio tak mendengar suara Salsa, Gio segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamar. Salsabila masih berdiri mematung.
__ADS_1
Dirinya dibuat terpesona dengan dekorasi ruangan yang sudah dipersiapkan Gio untuknya. Bunga mawar dan lilin tertabur dimana-mana. Ruang tamu yang benar-benar mewah.
"Ayo kita masuk!" Gio menarik Salsa pada sebuah ruangan dan ini adalah kamar untuk mereka menghabiskan malam berdua.
Inilah kamar pengantin baru. Di atas kasur taburan mawar merah berbentuk hati juga menghias tak kalah indah. Entah berguru dari mana pria berwajah datar itu soal memperlakukan wanita dengan penuh keromantisan.
Salsa penasaran dibalik keromantisan Gio apakah dia sedang menyusun strategi untuk membuat hati Salsa luluh?
"Tuan Gio, apakah semua ini dirimu yang sudah siapkan untuk aku?" tanya Salsa ragu.
"Menurutmu?" Gio justru membalikkan pertanyaan kepada Salsa. Perlahan Gio mendekatkan tubuhnya dengan mata sadis yang ingin menerkam, membuat yang ditatap menjadi gelagapan.
"Coba kamu ulangi sekali lagi, tadi kamu mengatakan aku?" Gio tersenyum mendengar ucapan Salsa barusan.
Sejak Salsa memutuskan untuk berhenti menjadi sekretaris pribadi Gio, dia mulai berbicara tidak sopan dengan mantan atasannya itu. Keringat dingin mulai keluar pertanda jantung Salsa sudah mulai berdegup tak beraturan.
Gio mengunci tubuh Salsa dan semakin memajukan tubuhnya hingga jarak mereka sudah sangat dekat. Hembusan nafas milik Gio mengusap wajah Salsabila dengan lembut. Netra coklat milik Gio hampir saja mampu membuat Salsa kehilangan kesadaran.
Salsa mendorong tubuh Gio meskipun pada akhirnya usaha Salsa itu menjadi sia-sia. Gio memajukan wajah mereka hingga jarak antara bibir mereka mungkin hanya beberapa senti.
__ADS_1
Salsa memejamkan mata pasrah. Semua tubuhnya saat ini memang sudah menjadi milik Gio.
Beberapa detik Salsa menunggu namun tak ada kecupan yang mendarat dengan kasar atau lembut sekalipun. Suara tawa Gio terdengar renyah setelah sebelumnya membisikkan kata yang membuat Salsa membuka matanya.
"Apakah kau menantikannya, istriku?" Tawa Gio kembali terdengar. Menggoda dan membuat Salsa kesal adalah tujuan utamanya.
Tak disangka wajah Salsa sudah bersemu merah. Dirinya tak mampu menyangkal ucapan yang baru saja Gio lontarkan kepadanya.
Apa gue benar-benar menginginkannya? Aku? Kamu? Sudah tidak waras gue rasanya.
"Afsheena sebaiknya kau beristirahat sejenak, sebab sore nanti kita akan pergi lagi."
Salsa memilih untuk membenamkan wajahnya pada bantal di atas kasur sembari membaringkan tubuhnya yang lelah menempuh perjalanan cukup jauh.
Mawar merah yang tertata rapi kini telah berhamburan. Satu helai mawar merah mendarat tepat di samping wajah Salsa.
Entah mengapa memorinya kembali mengingat akan kejadian beberapa bulan lalu. Dimana hari jadinya bersama Reza yang ketiga.
Rangkaian bunga mawar merah menghias taman rumah. Semua hanya tinggal kenangan. Salsa meniup sehelai mawar itu berharap kenangan dirinya bersama Reza ikut tertiup bersama.
__ADS_1
Mawar merah pergilah dengan kenangan tiga tahun bersama Reza.