
Hari ini adalah rapat pertemuan antar pimpinan perusahaan, Reza mengambil momen ini sebagai kesempatan untuk menyebarkan undangan sekaligus memperkenalkan Salsa sebagai calon Nyonya Hermawan.
Sepasang calon pengantin itu telah memasuki sebuah gedung area perkantoran. Kehadiran mereka menjadi pusat perhatian banyak pasang mata. Tatapan mereka hampir sepenuhnya memandang takjub oleh ketampanan dan kecantikan sepasang kekasih yang terlihat begitu serasi.
Tangan Reza tak lepas dari bahu indah milik Salsa seolah ingin menunjukan kepada dunia bahwa Salsa adalah miliknya dan akan menjadi milik Reza seutuhnya.
“Kamu cantik,” bisik Reza mendekati telinga Salsa.
“Terima kasih,” jawab Salsa dengan sedikit perasaan risih.
Pintu lift terbuka, dua insan berjalan saling beriringan menuju sebuah ruangan yang tak asing bagi mereka. Reza memeriksa beberapa berkas yang sudah tersusun rapih diatas meja, sementara untuk mengisi waktu senggang Salsa melihat-lihat sekitar ruangan Reza, tak ada yang berubah bahkan foto bersama Reza saat perayaan pelantikannya sebagai pimpinan perusahaan masih terpampang indah pada tempatnya.
Salsa mendekat dan mengusap foto yang terbungkus oleh bingkai kaca, tiba-tiba saja.
Praaangggg..
Figura tersebut terjatuh, serpihan kaca berhamburan kemana-mana karena terkejut refleks Salsa ingin mengambil figura dan membersihkan serpihan kaca yang terserak.
Dengan sigap tangan Reza menghentikan pergerakan tangan Salsa yang sedang terfokus dengan apa yang ia lakukan.
“Jangan, biar nanti petugas kebersihan yang membereskan.” Reza menatap Salsa dengan intens.
“Kenapa?” tanya Salsa kembali.
“Karena aku tidak ingin kamu terluka, Ca.”
Kata-kata Reza sangat menohok hati Salsa. Bagaimana mungkin dia tak ingin Salsa terluka karena pecahan kaca? Tetapi Reza sendiri telah membuatnya terluka lebih sakit dari sebuah luka goresan.
__ADS_1
Salsa terbangun dan merapikan penampilannya. Kata-kata dari Reza membuatnya sedikit bungkam dan berfikir.
Reza sangat menyayangi Salsa, tapi entah mengapa apa yang Reza baru saja katakan, semua bukan membuat Salsa merasa senang melainkan membuatnya kembali merasakan sakit karena kenyataan yang masih begitu sulit ia terima. Salsa terduduk di sofa, tak lama Maya sekretaris Reza mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan untuk memberitahukan bahwa rapat akan segera dimulai.
“Permisi Pak, sebentar lagi rapat akan segera dimulai. Semua rekan telah menunggu kedatangan Pak Reza,” ucap Maya dengan sopan.
“Baiklah, saya akan segera menyusul kesana. Lebih baik kamu lebih dahulu ke ruangan pertemuan siapkan dan kroscek kembali kelengkapan berkasnya,” titah Reza.
Maya mengangguk dan mengundurkan diri dari ruangan Reza untuk menjalani perintah dari atasannya. Reza mengemasi beberapa berkas yang baru saja ia periksa untuk di bawa rapat. Salsa masih terdiam di sofa memandang Reza yang masih sibuk dengan urusannya. Setelah selesai dan dirasanya telah cukup berkas-berkas yang akan dibawa, Reza menghampiri perempuan yang tengah asyik dengan gawai di tangannya. Reza menghempaskan tubuhnya di sofa, tepat disisi kanan Salsa.
“Ca,” panggil Reza.
Salsa mengalihkan pandangannya ke arah Reza.
“Kenapa?” tanya Salsa.
“Sudah telat, ayo segera pergi!” ujar Salsa untuk mengalihkan perasaan gugupnya.
“Oke baiklah, aku pergi rapat kamu jangan kemana-mana! tunggu aku disini saja, Maya akan menjemput kamu jika waktunya tiba.” Reza mengacak rambut kekasihnya gemas dan meninggalkan kekasihnya seorang diri.
“Huft, hampir saja,” gumam Salsa di iringi dengan tubuhnya yang melemas. Hampir saja Reza menciumnya, meskipun mereka akan segera menikah tapi Salsa hanya akan memberikan ciuman pertamanya hanya untuk suaminya kelak. Tidak munafik selama ini Salsa begitu menginginkan merasakan kecupan bibir dari Reza, tetapi selama berpacaran Reza tak pernah melakukannya kepada Salsa. Reza justru begitu menjaga Salsa, tak pernah ia bersikap kurang ajar sedikitpun kepada gadisnya. Itulah salah satu alasan mengapa Salsa begitu mencintai Reza dan tetap memberikannya kartu kesempatan.
“Maafkan aku, Ca. Aku berjanji takkan mengulangnya lagi.” Reza berbisik lirih dibalik pintu.
Reza keluar ruangannya dengan perasaan bersalah, dirinya hampir saja kembali terjebak oleh nafsunya sendiri. Dia sudah berjanji tak akan merusak gadisnya, mereka akan melakukan semua itu tentu setelah mereka menikah.
Diruangan rapat semua pimpinan telah berkumpul menunggu kedatangan Reza. April juga nampak terlihat mengisi salah satu kursi. Satu kursi tak bertuan, Reza sudah tahu siapa yang tak hadir disana.
__ADS_1
“Baiklah, sebelum kita mulai saya ada satu pertanyaan. Mengapa Tuan Gio tidak hadir?” tanya Reza kepada rekannya yang lain.
“Tuan Gio sedang dirawat, kesehatannya menurun akhir-akhir ini. Bukankah begitu Nona April?” jawab salah seorang rekannya dengan ujung melibatkan April disana.
“Benar sekali,” jawab April dengan senyum yang hampir tak terlihat.
Setelah mendapatkan jawaban yang tak cukup memuaskan Reza segera memulai rapat untuk segera mengakhiri pertemuannya dengan April.
Baru setengah jam kejenuhan sudah melanda Salsa, bingung entah ia harus melakukan apa diruangan Reza. Sepeninggal petugas kebersihan dan juga karena keisengannya Salsa membongkar laci pada meja kerja Reza satu per satu. Dengan seksama dia mencari sesuatu, ya mungkin saja Reza menyimpan satu rahasia di dalam laci.
Tak butuh waktu lama Salsa menemukan satu kotak berwarna merah muda dengan balutan pita berwarna merah. Rasa penasaran hinggap. Dengan hati-hati Salsa membuka kota tersebut, bukan maksudnya untuk bersikap lancang tapi baginya tak masalah juga kan membuka barang milik Reza toh selama ini Reza selalu jujur dan terbuka kepadanya. Dibukanya perlahan. Ternyata hanya berisi secarik kertas, di ambilnya kertas tersebut ternyata masih ada benda lain selain kertas disana. Isinya membuat mata Salsa melebar membulat dengan sempurna.
Salsa mencoba menenangkan hatinya dan perlahan membaca setiap kata yang tertulis, berharap otaknya masih dapat mencerna setiap kata begitupun hatinya harus dengan lapang menerima.
***********
April tertegun dengan hal yang baru saja ia lakukan. Dirinya seperti baru saja terjun bebas dari atas tebing. Tubuhnya terkulai lemas perlahan air mata mengucur dengan deras. April menyadari bahwa dirinya sudah terlambat datang bulan. Terakhir dia menstruasi pada saat sebelum dirinya melakukan hubungan terlarang dengan Reza.
April menaruh curiga, sesungguhnya dia takut jika dia benar-benar mengandung dan Reza tak mengakui. Berita penikahan Reza sudah tersebar luas. Apa jadinya jika April hamil mengandung anak Reza dari hasil hubungan mereka diluar nikah?
Dengan tangan gemetar April mencelupkan benda pipih yang dia beli di apotik ke dalam urin miliknya. Tak perlu menunggu lama dua garis muncul menghiasi benda pipih yang awalnya tak nampak garis. Dua garis itu membuat April cukup frustasi. Reza mengumumkan dirinya akan mengadakan rapat sekaligus memperkenalkan Salsa kepada rekan-rekan bisnisnya.
Dengan sisa-sisa kekuatan yang April punya dirinya mulai berfikir bagaimana caranya untuk memberitahu Reza secara langsung. Sementara Reza benar-benar menjauhi dirinya. April mendapatkan satu ide, ia harus meletakkan benda ini dan menuliskan sebuah surat yang mewakilkan isi hatinya yang terdalam. Sebelum Reza datang April telah datang terlebih dahulu, April meminta bantuan Maya kali ini.
“May, bisakah kamu membantu saya?” April benar-benar nekat, untuk kali ini saja dia berharap Maya bersedia membantunya.
Karena merasa tidak enak hati Maya menerima permintaan tolong April untuk menaruh benda tersebut di laci meja milik Reza. Karena sibuk mempersiapkan keperluan rapat Maya lupa memberitahukan kepada Reza perihal kotak hadiah merah muda yang tadi pagi April berikan.
__ADS_1