Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 28 (HUKUMAN TERLAMBAT)


__ADS_3

Bumi masih terus setia berputar pada porosnya bukan tetapi bulan tidak setia pada malamnya, matahari pagi yang nampak terik tak seperti biasa, rasanya Salsa tidak ingin kembali memasuki kantor yang sudah seperti kandang singa bagi dirinya. Dilihatnya kembali deretan jadwal yang tak begitu padat tapi mengapa selalu membuatnya repot.


Selama hampir sepekan bekerja disana hampir tak ada waktu luang untuk Anna dan Reza bahkan hari Sabtu dan Minggu dia tetap bekerja untuk atasannya yang menurut Salsa sedikit mengalami gangguan jiwa.


Seperti pada hari Minggu ini jadwal lari pagi rutin bersama Anna sahabatnya kini terganti dengan jadwal lari pagi bersama atasannya.


Arggghttttt, rasanya pingin kabur gue dari atasan menyebalkan kaya Gio.


Hari ini Salsa janjian dengan boss muka temboknya (karena dia tak berekspresi) di taman pukul 05.30 bahkan Salsa sudah berada disana 15 menit lebih cepat agar tidak terlambat dan mendapat hukuman lembur bekerja seperti sekarang, dia terhitung lembur tidak berbayar akibat kemarin telat pergi bekerja.


Tepat pukul 05.30 atasannya benar-benar muncul tepat dihadapannya.


Gila, ini orang bener-bener ontem.


“Bawa ini!”


Gio melempar handuk kecil mendarat tepat menutupi wajah Salsa. Aroma tubuh Gio tercium oleh Salsa sangat wangi dan menyegarkan.


Eh, apa aku sudah gila?


Gio mengenakan hoodie abu-abu dengan celana training panjang saja sudah cukup membuatnya terlihat tampan, banyak pasang mata wanita melirik manja ke arahnya. Sementara Salsa dia sudah bosan melihat ketempanan boss Gio karena setiap hari dirinya selalu dihantui oleh boss gila ini dan rasanya muak.


“Tuan, kita mau mulai dari mana?” Salsa mulai bertanya karena lelah mengikuti bossnya yang sedari tadi hanya berjalan tak tentu arah.


“Hmmm.” Lagi-lagi jawabannya hanya hmmm, itu berarti Salsa masih belum tau mau dibawa kemana.


Boss Gio mulai berlari-lari kecil, benar-benar melakukan aktifitas seperti manusia lain yang ada ditaman. Salsa juga ikut senam pagi mumpung dia sedang disini karena tidak mungkin dia hanya berdiam diri saja sambil memegangi handuk bossnya yang sedang berolahraga.


Setelah tubuhnya berkeringat Gio dan Salsa melakukan pendinginan kemudian beristirahat duduk berdua diatas rumput hijau taman.


“Handuk.”


Salsa memberikan handuk milik Gio, sejujurnya Salsa tidak berani melihat Gio karena melihat wajah Gio yang berkeringat ketampanan itu makin terlihat natural membuat naluri Salsa sebagai perempuan normal muncul apalagi disaat-saat begini, saat Rezanya yang menghilang karena kesibukan membuat hatinya kosong dan sepi.


Oh Anna, ternyata tak mudah menjadi jomblo seperti dirimu melewati hari-hari dengan kesepian.


Salsa yang sedang asyik dengan beribu pikiran dikepala terlonjak kaget karena sapuan lembut di pelipis kanannya. Dilihatnya boss dingin itu sedang mengusap keringat dipelipisnya bahkan Rezanya saja tak pernah melakukan hal sepele seperti itu.


Salsa membiarkan tangan bossnya mengusap wajahnya lembut, sepertinya dia menikmati anggap saja kalau itu Rezanya. Gio yang menyadari tingkah lakunya langsung mendorong wajah Salsa dengan kasar.


“Auhh.”


Salsa meringis kesakitan karena toyoran yang didapat dari Gio atasannya yang galaknya mulai kumat.


Gio menatap wajah Salsa dengan begitu kesal. Melihat wajah lelah Salsa yang imut membuat Gio terlena hingga tanpa sadar mengusap keringat yang mengucur dipelipisnya.


Gio berdiri entah mau kemana, Salsa segera mengikuti berjalan dari balik tubuh tinggi milik Gio.


Gio membeli air mineral, disuruhnya Salsa untuk membuka tutup botol minuman sungguh benar-benar Gio adalah boss yang manja.


“Lama.”


“Iyah sabar ini lagi dibukain.”

__ADS_1


Salsa menyodorkan botol air mineral, segera Gio meminumnya hingga air tersisa setengah.


“Untukmu. Minum!”


Hah, apa? Apa gue kaga salah denger disuruh minum bekas dia.


Lagi-lagi Salsa harus meminumnya karena tenggorokan dia sudah kering dan penjual air mineralnya juga sudah pergi. Gio nampak tersenyum mengumpat, melihat sekretarisnya yang kehausan tak berdaya.


Tadi boss gila itu minumnya di kokop atau ditenggak yah? ah, bomat gue haus.


Rasa haus mampu mengalahkan pikiran jernihnya. Bagaimana kalau Rezanya tahu akan hal kecil semacam ini? Pikiran tentang Rezanya lama-lama terkikis karena kesibukan satu sama lain.


Satu pesan masuk dari ponsel Salsa.


Ohh my Lord, akhirnya Eja ngajak gue jalan juga hari ini. Rindu Eja.


Gio menatap tidak suka layar ponsel Salsa, dia sudah tahu pesan dari siapa hingga membuat sekretarisnya tersenyum sendiri seperti orang sakit jiwa.


Baiklah, aku biarkan kamu membuatnya kembali tertawa.


Gio berlalu meninggalkan Salsa.


“Hei, tuan tunggu saya.”


Salsa segera mengejar Gio yang berjalan santai sambil mendengarkan rentetan musik di mini earphonenya.


Gio meninggalkan Salsa begitu saja ditaman. Entah apa yang kini hatinya sedang rasakan tapi mendadak ekspresi dingin itu muncul kembali mampu mengenyahkan perasaan hangat yang sudah sangat susah payah tercipta.


Salsa hanya memandangi kepergian mobil atasannya sambil memegangi handuk milik Gio.


Dasar kalian bodoh!


*****epilog*****


Salsa dengan begitu cepat berjalan menyusuri lantai demi lantai dengan tangga darurat karena mendadak lift rusak.


Gedung setinggi ini aja liftnya bisa rusak.


Salsa berjalan sambil mengutuki dirinya, bodohnya dia kesiangan bangun akibat nyeri kaki yang disebabkan oleh luka kakinya dan kini nyeri itu seperti lenyap begitu saja bersama rasa takut.


“Arrggghtt, bisa-bisa jadi bakso nih gue sama tuan Gio.” Masih terus menggerutu gak karuan.


Akhirnya sampai juga dia di lantai ruangan kerjanya berada. Pintu lift terbuka.


“Lah, ini lift kaga rusak?”


Adam yang mendengar ocehan Salsa langsung menghampiri Salsa.


“Tidak nona Salsa, kenapa nona terlihat basah kuyup?”


Salsa tak menjawab pertanyaan Adam dia buru-buru masuk menuju ruangan boss Gio, dia berdoa komat-kamit mudah-mudahan bossnya belum datang.


Ceklekkk

__ADS_1


Salsa langsung membuka pintu ruangan atasannya, betapa terkejut dia melihat pemandangan pagi yang ada didepannya.


Apa-apaan dia berdua?


Dilihatnya seorang wanita tengah terduduk dipangkuan tuannya, kedua lengannya mengalungi leher tuan Gio.


Eh, apa mereka sedang berciuman? Gilakkk, ini dikantor woy masih pagi.


Salsa terlihat geram melihat kelakuan bossnya, untung saja dia yang mempergoki bukan pegawai lain. Gio yang menyadari keberadaan Salsa menghempaskan tubuh wanita yang masih asyik duduk dipangkuannya.


“Eh, booos, tu...tuaan maafkan saya. Saya akan keluar. Permisi”


Salsa menutup pintu ruangan bossnya dan langsung berlari keruangannya, jantung Salsa berdegup kencang.


Baru beberapa menit dia sampai didalam ruangan boss Gio menyusulnya.


“Afsheena, apa yang tadi kamu liat?” Tuan Gio tak berbasa-basi.


“Ittt..itu pak.. saya gak lihat apa-apa.”


Bohong aja kali yah buat kebaikan gue juga.


Seperti membaca pikirannya, boss Gio kembali menatap matanya dengan tatapan semakin dipicingkan.


Gio berjalan mendekati tubuh Salsa, terus mendekatinya hingga tubuh Salsa terdorong ke belakang.


Sial ini meja ngapa ada disini sih? Siapa yang mindahin?


Tubuhnya sudah mentok tidak dapat bergerak sementara tubuh tuan Gio terus mendekatinya.


Haduh mikir dong, mikir Ca gimana nih?


Matanya yang terpejam mendadak terbuka saat deru nafas tuannya mulai menyeruak.


“Hei diam, ada kotoran di matamu.” Gio meniup mata Salsa membuat Salsa menjadi salah tingkah dan mengedip-ngedipkan mata.


Perasaan tadi pagi gue mandi bersih. Ngapa masih ada belek yang tertinggal?


“Afsheena, kenapa kamu telat? Kamu juga sangat lancang memasuki ruangan saya tanpa mengetuk terlebih dahulu.”


Salsa mulai menjelaskan kepada atasannya alasan mengapa dirinya terlambat. Tentu saja Gio sudah tahu, tentang lift rusak memang sengaja dia yang sudah merencanakan agar Salsa telat supaya Salsa tidak harus melihat adegan seperti yang tadi pagi sudah dilihatnya ada perempuan lain yang bergelayut manja, sekretaris sialan yang di kirim oleh Tuan Ardi rekan bisnis yang sedang mencoba membujuknya untuk bergabung.


“Afsheena, tentang perihal tadi saya akan jelaskan bahwa saya tidak melakukan apapun seperti yang ada didalam pikiranmu. Jadi, tolong jangan sampai ada berita yang menyebar diluar.”


“I..iyaaa tuan.”


Ah bodo amat, itu bukan urusan gue lagi juga siapa lu dimata gue? Memangnya apa urusan gue, lu mau ciuman atau pelukan gak ada urusan. Eh ko gue malah jadi ngegerutu.


“Dan untuk hukuman karena keterlambatanmu besok kamu harus lembur, menemani saya berolahraga pagi di taman xx jam 05.30 jangan sampai telat lagi!”


Gio keluar dari ruangan tak menghiraukan protes dari sekretarisnya.


Aaaaarght, dasar gue lagi kan yang kena getahnya.

__ADS_1


Salsa mengerucutkan bibirnya semakin sebal.


__ADS_2