Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 36 (SAKIT YANG TERULANG)


__ADS_3

“Tuan Gio,” mata Salsa memandang dalam netra coklat yang kini terlihat jelas. Sekelebat kenangan hinggap, kini rasa sakit di kepalanya semakin hebat. Tak hanya itu, rasa sakitnya mulai menjalar membuat mata Salsa benar-benar terpejam. Salsa kehilangan kesadaran!


Perasaan frustasi Reza berubah seketika menjadi cemas dimana dirinya mendapatkan panggilan bahwa Salsa tengah terbaring di UGD.


“Rumah sakit? Baiklah, saya akan segera menuju kesana.” Reza menutup panggilan, dirinya tergesa-gesa perasaannya kini sudah tak lagi dapat tergambar.


Di ruang tunggu mamah Salsa tengah menangis tersedu sementara di sampingnya berdiri Anna dan Sam yang berusaha untuk menenangkan.


Papah Salsa bersama Gio tengah menemui Dokter yang menangani Salsa. Kondisi Salsa kali ini tak dapat dianggap remeh.


Permasalahan dengan Reza sepertinya adalah pemicu utama memburuknya kondisi Salsa mengingat penyakit yang pernah Salsa alami akibat sebuah kecelakaan.


“Bagaimana kondisi putri saya, Dok?” raut wajah Papah Salsa terlihat tenang tetapi tidak dengan hatinya. Orang tua mana yang tidak khawatir melihat kondisi anaknya yang sedang mengalami kritis. Salsabila seperti sedang mengulang sakit yang beberapa tahun lalu pernah ia rasa.


Gio hanya menyimak penjelasan dari Dokter.


“Nona Salsabila sudah melewati masa kritis, hanya saja pasien perlu banyak waktu untuk beristirahat dengan tenang. Saran saya apapun masalah yang sedang dia alami saat ini sebaiknya jangan dibahas terlebih dahulu. Biarkan pikirannya tenang karena banyak pikiran mampu memicu depresi dan membuatnya kembali drop.”


Setelah mendengarkan penjelasan dari Dokter kedua lelaki ini kembali menuju ruang tunggu dimana yang lain kini berada.


“Di... Dia?” Anna menunjuk kearah Gio yang berjalan dengan santai bersama Papah Salsa.


Sam yang mengerti dengan maksud pertanyaan yang dilontarkan Anna segera menarik ujung jari Anna. Sam mengangguk pelan berharap kali ini Anna tak banyak bertanya.

__ADS_1


“Nanti akan aku jelaskan semuanya,” bisik Sam pelan.


Anna hanya mengangguk, dia yakin Sam pasti akan menjawab semua kebingungan yang Anna rasakan.


Salsa sudah dipindahkan ke ruang perawatan, akan tetapi dirinya masih belum siuman dan belum ada yang diperbolehkan untuk memasuki ruangannya. Diruangan hanya ada Salsa yang terbaring dengan satu Perawat yang terus memantau perkembangan Salsa.


Reza telah berada di Rumah Sakit Cinta Keluarga, dirinya terlihat panik mencari-cari keberadaan calon istrinya. Sana-sini tak dia temukan hingga matanya tertuju pada sosok seorang lelaki yang sangat dia benci, Gio.


Sedikit berlari Reza menuju tempat dimana orang-orang terdekat Salsa sedang menunggu.


“Bagaimana keadaan Salsa?” entah ditujukan kepada siapa pertanyaan yang Reza ucapkan.


Mata Reza berpendar mencari dimana ruangan Salsa. Tak mendapati jawaban, emosi Reza mulai tersulut. Ditariknya kerah kemeja milik Gio, sementara orang yang diperlakukan seperti itu terlihat tenang dengan ekspresi datar tanpa perlawanan.


“Salsa baik-baik saja, lebih baik kamu pulang sekarang. Jangan membahas apapun tentang masalah yang kalian sedang hadapi. Biarkan Salsa beristirahat dan memulihkan keadaannya terlebih dahulu. Papah yakin kamu dapat mengerti.” Papah Salsa mengusap wajahnya, perasaan tidak enak menjalar karena bagaimanpun Reza adalah calon suami Salsa.


Reza tertunduk lesu, entah harus melakukan apa dirinya agar Salsa dapat memaafkan kesalahannya. Reza ingin pernikahannya tetap terlaksana. Bagaimanapun semuanya sudah mereka berdua rencakan dengan indah. Apakah ini adalah ujian menjelang hari pernikahan mereka?


Reza sendiri masih meragukan kesalahannya. Dirinya masih berpikir ini semua hanya sebuah kesalah pahaman belaka.


Selang beberapa jam perawat keluar dari dalam kamar perawatan Salsa.


“Keluarga pasien Salsabila Afsheena?” Suara perawat terdengar jelas memanggil keluarga yang sedang menunggu kabar baik.

__ADS_1


Semua berdiri menyambut perawat yang membawa beberapa lembar kertas.


“Pasien sudah siuman tetapi kondisinya masih lemah. Saat ini belum diperbolehkan untuk menjenguk ke dalam. Salah satu dari keluarga boleh menunggu tetapi di luar untuk memantau keadaannya. Nona Salsabila ingin bertemu dengan pria yang tadi membawanya kerumah sakit. Penanggung jawab Nona Salsa bisa ikut saya untuk menemui Dokter.”


Semua pandangan kini beralih menatap Gio.


“Baiklah Nak Gio, kamu masuk ke dalam. Paman dan tante ikut Suster dan langsung pulang sepertinya.” Papah Salsa mengusap bahu Gio.


Kepergian kedua orang tua Salsa disusul oleh Sam dan Anna.


“Gue titip adik gue yah, nanti gue kembali.” Sam dan Anna ikut pergi meninggalkan Gio.


Kini hanya tersisa Reza yang masih memandang Gio dengan senyuman getir. Harusnya saat ini Salsa membutuhkan Reza bukan Gio.


Apakah semudah itu hati Salsa berpaling dari Reza? Apakah tiga tahun kebersamaan mereka sama sekali tak memberi makna? Bahkan keluarga Salsa tak ada yang memberi kabar, dirinya tak akan tahu jika bukan karena Anna yang menghubunginya. Mungkinkah dirinya kini sudah tak lagi diperlukan? Entahlah.


Sepanjang perjalanan mengantar Anna pulang Sam terdiam mengunci rapat mulutnya.


“Sam,” panggil Anna.


Sam hanya melirik Anna dengan senyum. Sam sudah tahu apa yang Anna ingin.


“Jelaskan, sekarang!” Anna kembali melanjutkan rasa penasaran yang sempat terputus.

__ADS_1


Sam mulai menjelaskan semuanya, semua yang Anna tahu dan yang Anna tidak ketahui.


__ADS_2