Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 42 (PERTEMUAN KELUARGA)


__ADS_3

Salsa termenung di pinggiran ranjang, dirinya tengah menunggu kedatangan keluarga yang akan datang menjemputnya. Tak lama mamah dan Anna masuk kedalam ruangan tempatnya menunggu. Senyum mengembang menyambut, Salsa bergegas meninggalkan kamar yang hampir seminggu ia huni.


Bang Sam dan Reza berjalan beriringan. Entah Salsa sendiri bingung tak dapat mengartikan perasaanya kini, perasaannya tak lagi sama pada Reza walau dirinya tetap memutuskan untuk bertahan.


Mata Salsa menelusuri setiap sudut yang ia temui.


“Ca, kamu mencari apa?” tanya mamah.


Salsa hanya terdiam, dia belum dapat menceritakan tentang kesalah pahaman kepada mamahnya sekarang sebab kehadiran Reza. Salsa tak ingin membuat Reza menjadi kecewa karena Salsa sudah mengetahui semua kenyataan yang ada.


Disaat semua orang senang karena dirinya telah kembali pulang tapi rasanya Salsa ingin sekali lagi berada disana untuk memastikan siapa orang yang benar-benar menjaganya. Ekspresi senang Gio menari-nari dalam ingatan.


Yaampun, apa gue udah gila? Kenapa gue harus mikirin dia.


Selama perjalanan tak banyak yang Salsa ucapkan, tak seperti biasanya begitupun ketika dirinya telah berbaring dikamar tidurnya seperti tak ada gairah untuk kembali kerumah.


Setelah mamah dan Reza pergi keluar, Anna mulai membuka suara.


“Ca, kenapa sih lu bengong terus?” celetuk Anna.


Salsa hanya menggeleng ia sendiri bingung dengan perasaannya, tiba-tiba terbesit lagi senyum Gio dalam pelupuk mata.


“Ann, selama kemarin gue dirawat sebenarnya siapa yang jaga gue setiap malam? Apa mungkin boss gila itu?” tanya Salsa yang sudah tak dapat lagi membendung rasa penasarannya.


Anna mulai menjelaskan semua yang ia tahu tentang Gio yang menunggu sahabatnya setiap malam tanpa absen. Pertanyaan demi pertanyaan kembali bermunculan tentang alasan mendasar dari seorang Gio mau menunggunya sementara Salsa bukanlah lagi sekretaris pribadinya terlebih Salsa bukan orang terpenting dalam hidupnya. Bagaimana dia mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk Salsa?


“Ca, gue minta lu jangan terlalu berlebihan berfikiran tentang Gio. Lu harus ingat bahwa sebentar lagi pernikahan lu dan Reza akan segera terlaksana," ucap Anna dengan penuh nada penekanan.


Anna seperti mengingatkan Salsa agar dirinya tak menaruh perasaan lebih terhadap Gio. Salsa mengerti kecemasan Anna, tetapi Salsa bukan tipe orang yang mudah untuk jatuh cinta. Itu sebabnya dirinya lebih memilih kembali kepada Reza dan memberikan kesempatan kedua untuknya dari pada Salsa harus memupus mimpi pernikahannya lalu patah hati yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh.


Ada satu kenyataan yang semakin membuat Salsa terluka mengapa Reza justru menjadi orang yang paling telat mengunjunginya? Semua terasa rumit, arti dari kehadiran Gio di saat hubungannya bersama Reza merenggang itu yang tak dapat Salsa mengerti. Di buangnya pikiran tentang Gio jauh, kini ia harus fokus dengan rencana pernikahan yang sudah didepan mata.

__ADS_1


Tiga hari kepulangan Salsa pasca dirawat Gio tak pernah datang kerumahnya atau hanya sekedar mengirimnya pesan singkat yang mengganggu hampir tiap detik saat ia masih menjadi sekretarisnya.


Pikiran tentang Gio terus melayang seperti tak tau arah, berusaha ditepis tapi semakin cepat berputar diatas kepala.


Salsa menghubungi Gio lewat panggilan suara tapi sia-sia karena nomor yang ia tuju tak dapat ia hubungi. Salsa mengetikkan pesan kepada Adam untuk menanyakan keadaan bossnya tapi tak satupun pesan dibalas. Aneh!


Hari ini makan malam antara dua belah pihak keluarga. Reza hadir bersama orang tua dan kakak perempuannya. Sementara dari pihak Salsa semua turut hadir termasuk sahabatnya Anna.


Makan malam berlangsung khidmat, pembahasan tentang penyebaran undangan yang sudah siap dilakukan mulai esok. Reza memberikan beberapa undangan Resmi untuk para partner bisnis calon mertuanya. Dengan seksama Pak Joni membacanya, semua sudah sempurna tak ada kesalahan penulisan disana. Dalam riuh tawa Salsa terlihat merenung pandangan matanya kosong.


“Ca, bagaimana apa kamu suka?” suara Reza membuat Salsa menjadi gelagapan tak menentu.


“Iy-iya.” Jawab Salsa dengan gugup.


Aaaaargh, apa-apaan sih gue bisa-bisanya bengong diacara sepenting ini.


Reza mengusap jemari Salsa berusaha menyalurkan ketenangan. Entahlah perasaannya aneh, tak ada desiran seperti yang kemarin pernah ia rasa. Apa mungkin cintanya telah memudar? Tapi apakah semudah itu cinta bisa hilang hanya dengan perkara sakit hati karena skandal calon suaminya?


“Ca, kamu kenapa? Apa kamu tidak bahagia dengan pernikahan kita?” pertanyaan Reza membuat Salsa tercengang. Bagaimana bisa Reza mengatakan hal konyol semacam itu.


“Kamu bicara apa sih? Sudahlah ayo kita kembali makan bersama yang lain.” Salsa menarik lengan Reza, akan tetapi Reza sama sekali tak bergeming.


“Apa mungkin karena—“ ucapan Reza terpotong tatkala dirinya tak sengaja melihat sosok kakak perempuannya tengah memandang mereka berdua dengan sorot mata menyelidik.


Reza segera merangkul Salsa dan membawanya kembali menuju meja makan. Untung saja kehadiran mereka yang muncul secara bersamaan tak mengundang curiga.


Tak lama kakak perempuan Reza menyusul dari belakang entah dirinya dari mana.


“Oiya Ca, dengar-dengar kamu menjadi sekretaris tuan Gio?”


Salsa tidak mengerti mengapa tiba-tiba kakak perempuan Reza membahas hal yang tidak penting seperti ini. Salsa hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan secara singkat, yang sudah bertubi-tubi pertanyan tentang Gio ia terima.

__ADS_1


“Wah, tahu sekali yah kamu tentang tuan Gio. Jangan-jangan,” ledek kakak perempuan Reza.


“Saya hanya menjawab apa yang saya tahu anggap saja sekedar berbagi pengalaman.” Semua berhasil ditepis oleh Salsa, dirinya tak akan membiarkan perempuan itu menjatuhkan harga dirinya. Salsa yakin Gio tak seperti Reza yang mengatasnamakan rekan kerja sebagai pelampiasan Nafsu. Sekian lama kecanggungan tercipta, suara Pak Hermawan memecah keheningan.


“Sam kamu kapan menikah?” tanya papah Reza.


Pertanyaan papah Reza membuat gadis bermata hijau tersedak sementara yang ditanya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan yang sudah biasa didengar.


Kapan Nikah? Tentu saja setelah Anne-ku siap.


Sam hanya mampu menjawab pertanyaan dalam hatinya. Sam melirik Anna yang sudah terlihat salah tingkah, pipinya yang merona merah dan keringat yang tiba-tiba saja ada di pelipisnya membuat Sam ingin tertawa geli karena ekspresi menggemaskan Anna.


Sam yang pandai membaca situasi mengalihkan pembicaraan menuju perkara bisnis keluarga. Pembahasan yang disambut senang oleh kedua pria paruh baya yang hadir. Entah sejak kapan Salsa sudah mulai merasa bosan dengan perbincangan mereka.


Drrrt ... drrttt ...


Satu pesan masuk Salsa segera membuka pesan dari nomor tak dikenal. Nampak satu gambar lengkap dengan detail yang diberikan membuat dirinya terkejut dan tergesa-gesa meninggalkan acara makan malam yang belum usai.


“Aku harus pergi.” Salsa pamit dengan wajah panik, semua memandang bingung entah dirinya mau pergi kemana.


“Ca, tunggu aku.” Suara Reza sama sekali tak digubris. Dirinya berlalu dengan mobil milik Sam yang ia kendarai sendiri.


“Arrrrght, sial.” Reza menendang kerikil dan berlari menuju kedalam rumah untuk mengambil kunci mobil dan menyusul gadisnya. Semoga dirinya tak kehilangan jejak Salsa.


***********


Pria dengan berwajah pucat tengah terduduk memandangi kepergian gadis yang sudah beberapa hari ia tunggu. Bahagia dapat melihatnya kembali ceria dan pulih seperti sedia kala.


Gio kembali memerintahkan Adam untuk membawanya menuju kamar rawatnya. Setelah menerima selimut pemberian Salsa tak lama Gio tak sadarkan diri karena dirinya terlalu lelah beraktifitas dan kurang beristirahat.


Tubuh Gio limbung dan terjatuh di lantai. Beruntung Salsa tak melihat kejadian Gio yang tengah tersungkur ke lantai.

__ADS_1


Beberapa pengawal yang sigap segera menghubungi perawat untuk menangani bos mereka. Kini gio tengah berbaring lemah diruangan yang sepi tanpa siapapun, hanya dirinya seorang diri.


__ADS_2