
Gio terbangun dari tidurnya, mimpi buruk yang menampilkan kepingan masa lalu pahit yang pernah ia alami kembali menjadi bunga dalam tidurnya. Nafasnya tersengal naik turun. Air mata jatuh setitik bahkan dirinya masih tak menemukan dimana keberadaan manusia-manusia licik yang telah membuat hidupnya berantakan.
Giordan Arsenio Wijaya, nama lengkap dirinya yang tak banyak orang ketahui. Dia selalu menyingkat namanya, baginya sosok Arsen yang dahulu sudah mati. Kecelakaan yang sudah banyak mengubah hidupnya.
Adam masuk kedalam kamar tuannya dengan tujuan memberikan beberapa informasi yang sebelumnya Gio minta. Dengan seksama Gio mendengarkan informasi yang dijabarkan oleh Adam secara detail. Satu katapun tak ada yang Adam lewatkan, untuk kelanjutan dari semua informasi yang sudah berhasil ia peroleh hanya tinggal menunggu jalan keluar dan perintah dari mulut Tuan Gio.
Adam adalah salah satu orang kepercayaan Tuan Gio. Meski usia Adam masih terbilang sangat muda tetapi kemampuan bela diri dan kecerdasan yang dia miliki tak dapat diremehkan. Adam melanjutkan posisi pekerjaan mendiang ayahnya. Semua dilakukan untuk menebus semua kebaikan yang pernah Gio lakukan kepadanya maka dari itu Adam mengajukan diri untuk menggantikan posisi mendiang sang ayah.
__ADS_1
“Apa yang akan kamu berikan kepadaku? Bisakah kau membuktikan bahwa dirimu jauh lebih baik dari mendiang ayahmu?” Gio menantang Adam tepat dua tahun yang lalu ketika acara tujuh hari selepas pemakaman ayahanda Adam.
Adam menyadari dirinya masih sangat muda bahkan usianya masih dibawah Tuan Gio, untuk melindungi dirinya sendiri saja Tuan Gio masih sangat ragu, tetapi Adam benar-benar memberikan pembuktiannya kepada Tuan Gio. Dari kerja keras Adam, Gio benar-benar merasa tersentuh dan yakin bahwa dirinya memang tak akan salah pilih memilih penerus orang kepercayaannya.
“Adam, persiapkan semuanya. Hari ini aku ingin pulang kerumah. Disini terlalu banyak pengintai.” Gio berlalu menuju sebuah ruangan kecil mengambil setelan baju formalnya yang sudah siap di atas nakas.
Dengan teliti Adam memeriksa satu per satu ruangan, hanya dirinya yang memeriksa tanpa bantuan pengawal diluar. Setelah dirasa semua tempat aman dan terbebas dari alat penyadap, Adam kembali menghampiri Gio yang masih melihat-lihat benda kecil yang berkedip. Kini satu tugas lagi bagi Adam untuk mencari tahu siapa yang berani melakukan hal semacam ini kepada tuannya.
__ADS_1
“Kemungkinan besar si baj*ngan Reza itu,” ucap Gio dalam hati.
Gio memiliki startegi, jika dugaan Gio benar yang melakukan itu Reza untuk memancingnya Gio harus menggunakan informasi yang menarik perhatian bagi Reza. Informasi Salsa dan April.
Gio mengintruksikan kepada Adam melalui pesan singkat. Gio sengaja tak mematikan alat penyadap itu agar si empunya tetap dapat mendengar pembicaraan yang akan menjebaknya. Adam yang mengerti dengan perintah atasannya itu mulai menjalankan misinya setelah Gio memerintahnya untuk mulai berbicara.
Gio benar-benar muak dengan hidupnya yang selalu dikelilingi oleh orang-orang munafik serta menyimpan dendam dan iri dalam hatinya.
__ADS_1
Jika semua orang hanya melihat kehidupan Tuan Gio yang berlimpah ruah harta justru mereka salah besar, mereka tak melihat Gio dari sisi yang lain. Jiwanya selalu merasa kesepian, dirinya banyak memilki harta tapi itu semua percuma sebab dia telah kehilangan satu hal yang tak dapat dibeli atau ditukar oleh harta yaitu keluarga.