
Sepasang pengantin baru telah sampai pada sebuah tempat yang cukup megah untuk disebut sebagai rumah. Walaupun bukan pertama kalinya bagi Salsa menginjakan kaki dirumah milik Gio tetapi rasa kagum terpancar jelas dari binar matanya.
Rumah Gio luasanya berkali-kali lipat dibanding dengan kediaman orang tua Salsa. Sebelum masuk ke dalam Salsa membuka sepatu high heels yang ia kenakan hampir seharian. Kakinya sudah merasa lelah.
Langkah Gio terhenti memandang apa yang sedang istrinya lakukan. Istri? Pikiran Gio tergelitik memikirkan kata istri yang baru saja terlintas dalam benaknya.
“Hey, sedang apa kau? Ayo masuk!” Kata-kata dari Gio berhasil mengalihkan konsentrasi Salsa yang sedang melepas pengait high heels.
“Lu buta yah? Gue lagi lepas high heels,” ujar Salsa dengan wajah sebal karena dirinya sudah sangat lelah ditambah kata-kata Gio yang semakin membuatnya kesal.
Belum selesai Salsa melepaskan pengait high heels di sebelah kiri, Gio mendekat dan mengangkat tubuh Salsa tiba-tiba. Salsa yang merasa kaget dengan perlakuan dari Gio memukul kepalanya dengan high heels yang ia pegang.
Plukkk..
“Auuuu,” teriak Gio mengerang kesakitan. Karena mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan Gio melepaskan tubuh Salsa begitu saja hingga tubuh Salsa terjuntai mencium lantai.
Rasakan, siapa suruh dia memukul kepalaku dengan high heels?
“Auuuu Gioooooo,” kali ini gantian Salsa yang teriak dan mengerang kesakitan.
__ADS_1
“Impaskan?” Gio berkata demikian dan meninggalkan Salsa yang masih terduduk dilantai.
“Aaaaaa, dasar kejam.” Salsa menggerutu, baru saja dirinya sampai sudah diperlakukan dengan tidak menyenangkan oleh tuan rumah.
Rupanya si Gio juga seorang yang pendendam. Awas saja nanti!
Karena tak ingin berlama-lama berada di luar Salsa menyusul Gio masuk kedalam rumah megah dengan penjagaan ketat.
Hampir disetiap sudut rumah Gio terdapat pengawal. Tuan Joni, papahnya Salsa juga seorang pengusaha dan memiliki perusahaan yang terkenal namun papahnya tak menggunakan jasa pengawal dimanapun dia berada bahkan di rumah.
Salsa tak habis pikir dengan Gio yang mau mengeluarkan banyak uang untuk menggaji banyak pengawal padahal dua pengawal saja sepertinya sudah cukup untuk menjaga rumah yang bahkan sepertinya jarang ia singgahi.
Salsa tersenyum kikuk memandang wajah para pengawal dan pelayan yang menyambut kedatangannya. Wajah mereka tak menampilkan ekpresi ramah, sama seperti majikannya. Wajah kaku dan datar dari para pekerja Gio sepertinya tertular dari majikan mereka.
Hanya wanita tua ini yang berbeda dengan pelayan yang lain. Dia menyambut Salsa dengan senyum ramah. Wanita tua ini pasti adalah pengasuh Gio sejak kecil begitu fikirnya Salsa. Salsa tersenyum menanggapi sapaan pelayan rumah.
“Panggil saya Salsa saja yah bu!” Sejujurnya Salsa merasa sangat risih mendengar dirinya dipanggil Nyonya walau dia kini telah menikah dengan Gio tetapi dia tak memikirkan status Nyonya Wijaya yang sudah berhasil ia sandang.
Pikirannya masih menginginkan yang lain. Harusnya nama Hermawan yang akan ia pakai dalam nama akhirannya. Entah mimpi apa Salsa semalam yang mengantarnya pada sebuah pernikahan yang selalu ia takutkan. Bukan pernikahan impian. Salsa melamun memikirkan hal-hal yang tidak penting yang harus membuatnya dipanggil Nyonya muda Wijaya.
__ADS_1
“Mari nyonya muda saya antar menuju kamar,” ujar pelayan tua menyadarkan Salsa dari lamunan.
Kamar? Bisakah kau antarkan aku menuju tempat yang lain?
Salsa mengangguk dan mengikuti langkah kaki wanita tua yang berjalan didepannya. Dua pelayan mengkuti langkah Salsa dari belakang.
Mengapa mereka juga mengikuti gue? Seperti tak memiliki kerjaan lain saja di rumah sebesar ini.
Sepanjang perjalan Salsa memencar pandangannya, kesana-kemari tak satupun matanya menemukan poto keluarga Gio. Kini langkahnya terhenti pada pintu sebuah kamar.
“Saya hanya mengantar nyonya sampai disini, jika memerlukan sesuatu nyonya dapat menghubungi saya kembali atau pelayan yang berjaga.”
Apa? Pelayan yang berjaga? Jadi mereka berdua benar-benar akan menjaga diluar kamar?
“Terima kasih atas bantuannya, jika saya boleh tahu siapa nama ibu?” tanya Salsa yang memang tak mengenal ibu-ibu tua dihadapannya.
“Saya Nur,” jawab ibu tua masih dengan tersenyum. Salsa hanya mengangguk, nama Ibu Nur sangat mudah di ingat. Ibu Nur permisi untuk kembali menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sudah menunggunya untuk kembali diselesaikan.
Salsa masih mematung didepan pintu kamar. Dirinya ragu untuk masuk ke dalam kamar. Sementara dua pelayan juga masih berdiri bersama dirinya, mereka mengawasi gerak-gerik Salsa yang seperti tahanan kota.
__ADS_1
Apakah si Gio sudah berada didalam kamar? Aaaa, bagaimana ini?
Dengan perasaan ragu Salsa mulai memegang gagang pintu dan membukanya perlahan. Pandangannya membelalak tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat.