Not A Dream Marriage

Not A Dream Marriage
Bagian 58 (PERGI)


__ADS_3

Salsa keluar dari kediaman Wijaya. Entah Gio akan membawanya pergi kemana hari ini. Walau bukan untuk yang pertama kali Salsa menaiki mobil mewah Gio tetapi perasaan tak enak itu tetap ada.


Biasanya dia duduk disebelah Gio hanya sebatas status Sekretaris dengan atasan namun saat ini keadaan itu berubah 360 derajat.


Gio yang dahulu adalah atasan yang sangat dia hormati sekarang telah resmi menjadi suaminya. Salsa merasa semua adalah mimpi buruk. Nasib sial sedang menimpa dirinya.


Bukan hanya menikahi orang lain yang tidak pernah dia cinta tetapi menikahi laki-laki yang menyebalkan dan selalu merepotkan semacam Gio.


"Afsheena, apa kau tidak penasaran kita akan pergi kemana?" Gio membuka suara namun pandangannya tetap terfokus menatap ke depan.


Salsa membuang wajah menatap ke luar jendela. Tentu saja dia merasa penasaran tetapi buat apa juga merasa penasaran hanya untuk membuang energi otaknya untuk berpikir.


"Tidak. Tidak sama sekali," jawab Salsa acuh tak acuh. Gio tersenyum mendengar jawaban Salsa.


Sejak kehadiran Salsa di samping Gio perlahan Gio sudah lebih sering menerbitkan senyum. Rasa sepinya seakan pupus dengan rasa kesal dan makian yang keluar dari mulut wanita yang sebenarnya sangat ia suka.


"Lihat saja nanti kau pasti akan menyukainya." Gio dengan rasa percaya diri mengatakan hal semacam itu kepada Salsa.


Kemana si brengs*k ini membawa gue pergi? Jangan-jangan?


Salsa sibuk dengan berbagai dugaan buruk yang akan menimpanya. Mereka telah sampai pada sebuah tanah lapang yang cukup megah. Masih dengan penjagaan yang sangat ketat.


Lapangan? Apa dia mau ngajak gue tanding sepak bola?

__ADS_1


"Afsheena, apa kau masih ingin berdiam diri terus seperti itu? Ayo turun!" Gio membuyarkan lamunan Salsa.


Salsa memilih untuk tetap terdiam tak berbicara apapun. Mata Salsa mengedarkan pandangan ke sekitar. Dia baru tersadar bahwa mereka sedang berada di sebuah bandara.


Bandara? Apa gue bakal di deportase ke luar negeri?


"Jalan." Gio berjalan meninggalkan Salsa yang masih memikirkan nasibnya jika benar Gio akan mendeportasinya ke luar negeri.


Salsa masih belum siap untuk hidup jauh dari kedua orang tuanya. Dia juga belum sempat bertemu dengan Reza dan menjelaskan semuanya. Reza, bayangan indah ketika bersamanya kembali terlintas.


Eja, apa kabar? Semoga kamu selalu baik walau tanpa aku disisi.


Hati Salsa terasa sakit jika mengingat Reza. Mengingat wajahnya sama seperti membuka luka lama atas pengkhianatan Reza bersama April. Sebuah pintu raksasa terbuka secara otomatis.


Sebuah pesawat terlihat jelas didepan kedua matanya. Mereka berdua sunguh akan pergi entah kemana. Gio mempersilahkan Salsa untuk menaiki pesawat pribadi milik Wijaya.


Pesawat ini seperti tak asing bagi Salsa. Terlebih ketika dirinya duduk disamping Gio. Salsa merasa seperti mengulang suatu kejadian atau de javu.


Gio memasangkan sabuk pengaman di tubuh Salsa karena sempat melihat Salsa yang mengalami kesulitan.


"Gak usah, gue bisa sendiri." Salsa menepis tangan Gio. Karena Salsa tak ingin dibantu Gio membiarkan Salsa berusaha sendiri.


Sabuk pengaman macam apa ini? Kenapa susah banget gue pakenya.

__ADS_1


Salsa melirik Gio. Ingin meminta bantuannya. Namun rasa gengsi kembali merajai pikirannya. Tetapi Gio yang sudah mengerti bahasa tubuh Salsa dengan sigap membantunya.


"Lain kali tidak perlu sungkan atau gengsi meminta bantuan. Malu meminta sesat dijalan." Ucap Gio yang sudah kembali terfokus dengan majalah ditangannya.


Pribahasa macam apa itu? Suka-suka lu aja deh.


Salsa terdiam tak menjawab. Perasaan malunya sungguh membuat mulutnya tertutup rapat.


Salsa memilih untuk tertidur diperjalanan. Salsa sudah pasrah terserah suaminya akan membawanya pergi ke mana meskipun ke ujung dunia satu hal yang Salsa yakin Gio tak akan pernah meninggalkannya sendirian.


Huh, dia tertidur. Masih sama saja seperti dahulu. Tak berubah sedikipun**!


***********


Gio menghubungi Adam. Memastikan apakah semuanya sudah siap dan berjalan dengan lancar. Suara Adam terdengar tenang dibalik panggilan.


"Semua sudah terkendali," ucap Adam memberikan laporan yang tuannya minta.


Gio merasa puas dengan kinerja Adam. Dia sungguh mempersiapkan semuanya tepat waktu. Adam hanya menjalankan tugas yang ia terima. Selain itu para pekerja setia Gio juga banyak yang membantu pekerjaannya Adam jadi baginya semua tugas terasa mudah.


Adam sendiri merasa antusias dan bahagia menerima tugasnya saat ini. Semua demi kebahagiaan atasannya dengan sang istri. Hanya satu tugas yang belum mampu Adam selesaikan yaitu menemukan keberadaan Reza.


"Cepat cari bajing*n itu dan seret kehadapanku secepatnya!" Gio menutup panggilannya bersamaan dengan keluarnya sang istri dari dalam almari serba guna yang khusus disiapkan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2