
Esok adalah hari kelulusan dimana hari yang sudah Salsa sangat nantikan.
Salsa berjalan menyusuri setiap ruangan, ada yang berbeda darinya tentu saja karena ia akan mengucapkan selamat tinggal kepada para pegawai yang sudah banyak membantunya selama ia bekerja di Algoritma group.
Hari ini adalah hari terakhir gue menjadi sekretaris si Gio. Huh, akhirnya terbebas juga dari malapetaka.
Tok.. Tok..
Suara laki-laki muda terdengar dibalik pintu.
"Masuk!"
Wanita dengan rambut cepolnya memasuki ruangan.
"Nona Salsa? Ada apa?" Adam mulai bertanya menyelidik.
Salsa mengulurkan tangannya, dia menjelaskan semua kepada Adam bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari perusahaan Algoritma.
Adam sangat menyayangkan keputusan Salsa mengingat tuan Gio telah cocok bekerja dengan Salsa.
Salsa hanya tersenyum kecut, dia tahu tidak mudah untuk menjadi sekretaris dari boss gila semacam Gio.
Pasti sudah banyak yang melambaikan tangan karena ulah si Gio begitulah yang dipikirkan oleh Salsa.
Kembali Salsa memasuki ruangan boss gilanya. Seperti mendapatkan angin segar, dia akan terbebas dari bayang-bayang lelaki menyebalkan berwajah datar.
Sebenarnya boss Gio adalah pribadi yang hangat, meski seperti itu wajah yang selalu ditampilkan.
Entahlah mungkin dia lupa caranya berekspresi.
Selesai tugas pertama yang akan menjadi tugas terakhir bagi dirinya.
__ADS_1
Bersih-bersih ruangan tuan Gio.
Sambil menunggu tuan Gio datang Salsa terduduk di sofa ruangan bossnya.
Tak lama yang ditunggu sudah datang dengan ekspresi yang tak terduga.
Tatapan matanya tajam, wajahnya sedikit merah, entah dia sedang marah atau bagaimana.
"Afsheena, apa benar kau akan mengundurkan diri?" tanya tuan Gio. Suaranya sedikit parau.
"Iya tuan. Aku akan mengundurkan diri hari ini." Salsa memberikan secarik amplop kepada Gio, membungkukkan badannya hormat lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa ingin melihat wajah marah Gio.
Tangan Gio menarik pergelangan Salsa kuat. Salsa meringis kesakitan. Belum pernah dia mendapatkan perlakuan dengan kasar dari seorang pria.
Beberapa menit lamanya Gio melepaskan pergelangan tangan Salsa perlahan.
Kepalanya tertunduk tak banyak kata yang diucapkan.
"Apa syaratnya?"
Salsa merasakan sesuatu yang aneh, senang dan sedih semua bercampur.
Ada apa sih sama gue? Masih bisa-bisanya sedih keluar dari kantor neraka beginih.
Hati Salsa terus bergumam menyadari mungkin saja Gio akan merasa kehilangan.
Hari terakhirnya bekerja sungguh menguras tenaga. Hari ini Salsa diantar pulang oleh Gio tentu sebagai salah satu syarat agar dia bisa terbebas sebagai sekretaris serba guna.
Mobil telah berhenti tepat di depan rumah bergaya minimalis.
Salsa turun dari dalam mobil disusul oleh Gio.
__ADS_1
"Loh mau ngapain?" tanya Salsa.
"Saya mau makan malam dirumah kamu nona Afsheena." Gio menjawab dengan gaya santai meski wajahnya masih tak menunjukan ekspresi.
Salsa meninggalkan Gio tak lama mamah membuka pintu dan mempersilahkan Gio masuk seperti sudah tahu kedatangannya.
Mamah dan papah terlihat akrab dengan Gio padahal mereka baru pertama kali bertemu.
"Eh mumi, emang lo gak mau pulang? Udah malem tuh, keenakan yah makan dirumah gue." Salsa sudah tidak bisa menahan kesal, semakin melihat Gio tertawa semakin jadi rasa kesalnya.
"Sepertinya anak paman dan tante sudah mengusir saya, saya akan pergi sekarang dan semoga kalian tidak ber-keberatan jika saya akan sering berkunjung." Jawab Gio menampilkan senyum semenarik mungkin.
Cih, sering berkunjung? siapa yang bakal mau nerima lu mumiii. Kesalnya kembali memuncak diubun-ubun.
"Tentu saja boleh nak Gio." Papah tersenyum kepada Gio.
Rasanya kepala Salsa mulai sakit melihat adegan ramah Gio yang tak seperti biasa. Bagaimana bisa Gio bersikap ramah kepada kedua orang tuanya sementara dirinya selalu menindas Salsa? Ah entahlah, mungkin Gio sedang menunjukan sisi baiknya agar Salsa mau kembali bekerja.
Drrrttt... Drrrttt...
Gawai Salsa bergetar beberapa kali, dibukanya pesan yang masuk menganggu mimpi indah yang sudah bertamu.
Mata Salsa membulat, kantuknya menghilang seketika melihat sesuatu yang sedang terpampang di layar ponsel miliknya.
"Astaga." Tubuhnya kembali terbaring di susul oleh matanya yang perlahan terpejam menyambut kembali bunga tidur yang tertunda.
*****
Hari pertama putrinya bekerja, tuan Joni tentu tidak akan pernah lupa siapa pemilik gedung tinggi nan megah yang akan menjadi rumah kedua bagi putrinya.
"Rasanya tak pernah percaya kalian akan tumbuh dewasa secepat ini," gumamnya menatap gedung pencakar langit dibalik kaca mobil.
__ADS_1
Tak terasa beberapa tahun telah berlalu ingatannya kembali membiru, sungguh dia rindu kepada sosok bocah lelaki yang tekatnya sekeras batu.